Dampak Polusi Limbah Elektronik terhadap Kesehatan Hewan dan Manusia
Foto: Cameron Arksey di Unsplash.
Pada masa ketika hampir segala hal beralih ke digital, mengganti perangkat elektronik nyaris menjadi suatu keharusan. Sebagian orang beralih berdasarkan fungsi, dan sebagian lainnya sekadar mengikuti tren. Lantas, perangkat lama yang dibuang pun menjadi sampah, atau lebih tepatnya, limbah elektronik (e-waste), dan produksi limbah elektronik semakin tak terhindarkan seiring kemajuan teknologi. Oleh karena itu, memahami dampak polusi limbah elektronik sangatlah penting.
Meningkatnya Polusi Limbah Elektronik
Pada tahun 2022, sekitar 62 juta ton (Mt) limbah elektronik diproduksi secara global. Laporan Global E-waste Monitor 2024 mencatat bahwa angka ini meningkat sebesar 82% dari tahun 2010 dan diperkirakan akan mencapai 82 Mt pada tahun 2030. Yang mengkhawatirkan, dari 62 Mt, hanya 22,3% yang dikumpulkan dan didaur ulang dengan benar. Sisa elektronik yang tidak terpakai tetap tidak terhitung, meningkatkan risiko polusi bagi masyarakat dan lingkungan secara global.
Sebuah studi yang dipimpin oleh para peneliti dari Universitas Hong Kong telah menemukan bukti adanya bahan kimia yang berasal dari polusi limbah elektronik di dalam mamalia laut liar. Bahan kimia yang diteliti adalah monomer kristal cair (LCM), yang merupakan zat penting dari layar kristal cair (LCD) pada perangkat elektronik. Pembuangan yang tidak tepat dapat menyebabkan kontaminasi dan akumulasi LCM di lingkungan.
Potensi polusi limbah elektronik dari panel LCD sendiri sudah begitu mengkhawatirkan. Produksi panel LCD diperkirakan mencapai 238 juta m2 pada tahun 2025, dan sekitar 74 Mt perangkat dengan LCD akan dibuang pada tahun 2030.
LCM pada Cetacea
Studi tersebut menemukan LCM di berbagai jaringan dua spesies cetacea laut di Laut Cina Selatan. Dengan menganalisis 62 sampel LCM, studi tersebut menemukan bahwa 38 di antaranya terdapat di setidaknya satu dari 63 sampel jaringan lumba-lumba bungkuk Indo-Pasifik dan lumba-lumba tanpa sirip, termasuk otot, otak, lemak, hati, dan ginjal. Paparan tersebut berdampak pada fungsi kekebalan tubuh, reproduksi, dan perkembangan saraf cetacea.
Selain itu, polutan tersebut telah terdeteksi pada ikan, udang, kepiting, dan spesies mangsa lainnya yang biasanya dimakan cetacea. Hal ini menunjukkan bahwa LCM juga masuk ke dalam rantai makanan.
Studi tersebut lebih lanjut mencatat bahwa interaksi antara LCM dan kontaminan lainnya dapat memperkuat toksisitasnya, sehingga menimbulkan risiko serius bagi populasi mamalia laut. Laut Cina Selatan sendiri terletak di daerah yang sangat terpapar urbanisasi dan sangat terdampak oleh limpasan perkotaan yang dipenuhi kontaminan, termasuk zat Per- dan polyfluoroalkyl (PFAS) dan mikroplastik.
Mendorong Sirkularitas
Bukti adanya polusi limbah elektronik pada mamalia laut memerlukan penyelidikan lebih lanjut mengenai kemungkinan implikasinya terhadap kesehatan manusia. Hubungan antara kesehatan manusia, hewan, dan ekosistem juga menggarisbawahi urgensi untuk meningkatkan tata kelola limbah, memperkuat mekanisme pembuangan, dan mendorong sirkularitas di seluruh rantai nilai.
Di antara cara yang mungkin adalah dengan sengaja merancang perangkat elektronik yang tahan lama melalui inovasi dalam proses produksi. Selain itu, menyediakan layanan perbaikan sebagai bagian dari Tanggung Jawab Produsen yang Diperluas atau inisiatif komunitas sangat penting untuk memperpanjang siklus hidup produk. Di level individu, kita harus memprioritaskan fungsionalitas ketimbang tren, merawat barang-barang kita, dan memperhatikan dengan sungguh-sungguh kebiasaan kita dalam membeli.
Penerjemah:Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Asa Baru Perluasan Perlindungan: Penyakit Kronis Bisa Masuk Kategori Disabilitas
Pelajaran dari Selat Hormuz untuk Indonesia: Kita Tak Bisa Berleha-leha Soal Kedaulatan Energi
Meningkatkan Peran Sektor Swasta dalam Atasi Ancaman Krisis Fertilitas
Bagaimana Afrika Mencapai Rekor Lonjakan Energi Surya
Kapitalisme Bukanlah Takdir: Membaca Clara Mattei di Tengah Kelelahan Kolektif
Mengintegrasikan Pertanian dalam Permukiman Perkotaan dengan Konsep Agrihood