Kemajuan dan Kesenjangan Layanan Kesehatan di Asia Tenggara
Foto: Sagar Sintan di Pexels.
Layanan publik sangat penting dalam memastikan kesejahteraan masyarakat, khususnya melalui layanan kesehatan. Asia Tenggara telah meningkatkan akses terhadap layanan kesehatan dalam beberapa tahun terakhir, namun sayangnya masih terdapat kesenjangan. Hal ini terungkap dalam laporan yang diterbitkan oleh Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) pada Desember 2025.
Peningkatan Layanan Kesehatan di Asia Tenggara
Laporan OECD bertajuk Government at a Glance: Southeast Asia 2025 mengungkap hasil survei terhadap pejabat pemerintah dari masing-masing negara Asia Tenggara, dengan mempertimbangkan tiga dimensi penyampaian layanan: aksesibilitas, daya tanggap, dan kualitas. Menurut laporan tersebut, ada perkembangan signifikan dalam layanan publik, termasuk di bidang kesehatan. Namun, kemajuan positif ini belum terdistribusi secara merata dan belum menciptakan layanan yang terjangkau di seluruh wilayah.
Laporan tersebut mencatat bahwa aksesibilitas layanan kesehatan—berupa kemampuan untuk memberikan layanan yang terjangkau dan tepat waktu—sangat bergantung pada ketersediaan dokter. Laporan tersebut menunjukkan bahwa Asia Tenggara mengalami peningkatan jumlah dokter, mencapai rata-rata 1 per 1.000 penduduk. Peningkatan paling signifikan terjadi di Singapura yang mencapai 2,6 per 1.000 penduduk. Namun, angka tersebut masih jauh di bawah rata-rata OECD, dengan hampir 4 dokter per 1.000 orang.
Sementara itu, pengeluaran kesehatan di Asia Tenggara telah menurun secara progresif. Dari tahun 2012 hingga 2022, Indonesia (-22%) dan Laos (-20%) menunjukkan pengurangan besar dalam pengeluaran pribadi (pasien) yang membayar langsung untuk perawatan medis. Rata-rata, Asia Tenggara telah berhasil mengurangi 10% dari total pengeluaran pribadi untuk layanan kesehatan selama sepuluh tahun tersebut.
Lebih lanjut, kualitas layanan kesehatan di kawasan ini dinilai dari Angka Kematian Ibu (AKI). Penurunan AKI menunjukkan tren positif, dengan rata-rata 32 kematian per 100.000 penduduk di tingkat regional.
Kesenjangan yang Masih Berlanjut
Meskipun demikian, kesenjangan masih berlanjut di beberapa negara seperti Laos dan Kamboja, di mana belum terlihat adanya peningkatan signifikan dalam satu dekade terakhir. Meskipun ada kemajuan, jumlah dokter di dua negara tersebut belum meningkat secara signifikan. Selama periode 2011–2021, angka dokter per 1000 penduduk di Laos tetap stagnan, yakni 0,3 dokter per 1000 orang. Sementara itu, Kamboja hanya mengalami peningkatan sebesar 0,1 dokter per seribu penduduk.
Selain itu, AKI juga masih sangat tinggi di Indonesia, Kamboja, dan Laos. Pada tahun 2023, AKI di tiga negara ini mencapai 112–140 jiwa. Perbedaan yang luas antar negara ini menggarisbawahi hambatan yang masih berlanjut dalam kualitas pelayanan.
Rekomendasi untuk Peningkatan Layanan Publik
Menutup kesenjangan dalam layanan kesehatan dan layanan publik lainnya membutuhkan perbaikan yang berpusat pada masyarakat. Pemerintah harus merangkul kebutuhan, cerita, harapan, dan respons masyarakat untuk menciptakan pengalaman yang lebih baik dengan sistem yang lebih baik.
OECD memberikan beberapa rekomendasi untuk meningkatkan layanan publik:
- Mengukur pengalaman masyarakat: Survei kepuasan tingkat nasional atau provinsi dapat membantu mengidentifikasi kesenjangan dalam aksesibilitas, daya tanggap, dan kualitas layanan.
- Mekanisme umpan balik dan pengaduan yang lebih baik: Portal dan saluran pengaduan dapat mengumpulkan pendapat untuk mengenali pandangan dan masalah umum yang dihadapi masyarakat.
- Meningkatkan transparansi: Pelaporan kinerja melalui publikasi standar layanan dan hasil kepuasan publik dapat mendukung akuntabilitas dan menumbuhkan kepercayaan publik.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Kematian dan Bunuh Diri Anak sebagai Isu Struktural: Kurangnya Pemenuhan Hak Anak
Mengatasi Kesenjangan yang Dihadapi Perempuan di Bidang STEM
Finding Harmony: Pencarian Harmoni dengan Alam di Benak Sang Raja
Mengatasi Eksploitasi di Balik Program Migrasi Tenaga Kerja Sementara
Mewujudkan Kondisi Kerja yang Layak bagi Pekerja Platform
Memetakan Kebutuhan Konservasi Hiu dan Pari secara Global