Ketimpangan Gender dalam Sektor Air di Tengah Krisis Air Dunia
Foto: EqualStock di Unsplash.
Akses terhadap air dan sanitasi termasuk dalam daftar panjang hak asasi manusia. Dari kebutuhan minum hingga irigasi, air mengalir dalam berbagai aspek kehidupan kita, menjadikannya fondasi bagi kesehatan, martabat, dan kesejahteraan. Namun, hak ini kini terancam oleh krisis air dunia; dan di jantung krisis tersebut bercokol ketimpangan gender.
Kesenjangan bagi Perempuan dan Anak Perempuan
Hak atas air dan sanitasi berarti setiap orang memiliki hak yang sama untuk mengakses air minum yang aman dan bersih serta layanan sanitasi yang layak. Akses ini tidak hanya soal keberadaan fisik, tetapi juga harus benar-benar menjangkau kebutuhan masyarakat, terutama kelompok rentan.
Namun, akses ini masih belum terpenuhi bagi miliaran orang. Pada 2024, sekitar 2,1 miliar orang tidak memiliki akses terhadap air minum yang aman, dan 3,4 miliar orang tidak memiliki layanan sanitasi yang layak. Yang mengkhawatirkan, kesenjangan ini sangat dirasakan oleh perempuan dan anak perempuan.
Perempuan dan anak perempuan di rumah tangga yang kekurangan air sering kali menjadi pihak yang bertanggung jawab untuk mengambil air, dan tak jarang harus menempuh jarak yang jauh. Dalam menjalankan peran tersebut, mereka kehilangan waktu untuk pendidikan, pekerjaan, dan waktu luang, sekaligus menghadapi risiko kelelahan fisik, cedera, serta kekerasan berbasis gender.
Fasilitas sanitasi yang buruk, yang di beberapa tempat masih belum terpisah berdasarkan gender, juga menyebabkan kurangnya privasi dan rasa aman bagi perempuan dan anak perempuan, terutama terkait kesehatan dan kebersihan menstruasi.
Minimnya Partisipasi dan Pengakuan
Kesenjangan ini tidak hanya terjadi di tingkat rumah tangga. Pada level pengambilan keputusan dan tata kelola, ketimpangan gender juga masih mengakar. Laporan dari UN Water menunjukkan bahwa ketimpangan gender dalam sektor air muncul dalam berbagai aspek dan di berbagai tingkat. Secara umum, akar permasalahannya terletak pada norma sosial-budaya dan dinamika kekuasaan politik yang membatasi partisipasi dan pengakuan terhadap perempuan dalam kepemimpinan dan tata kelola air.
Dalam sektor pangan dan pertanian, misalnya, norma yang menentukan siapa yang memiliki akses terhadap air sering kali bias gender. Perempuan di wilayah pedesaan masih menghadapi keterbatasan hak kepemilikan lahan, meskipun kesadaran akan isu ini meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2018, perempuan hanya mencakup kurang dari 15% pemilik lahan. Akibatnya, mereka memiliki akses dan kendali yang terbatas terhadap air untuk irigasi, peternakan, dan kebutuhan pertanian lainnya, yang pada akhirnya membatasi potensi ekonomi mereka.
Partisipasi perempuan yang terbatas dalam pengelolaan dan tata kelola air juga terlihat di sektor industri. Sektor air masih kesulitan menarik, melatih, dan mempertahankan tenaga kerja perempuan. Laporan tersebut mencatat bahwa meskipun beberapa perusahaan layanan air memiliki hampir 40% karyawan perempuan, ada pula yang sama sekali tidak memiliki staf perempuan.
Padahal, sebagai pihak yang paling sering mengelola kebutuhan air dalam kehidupan sehari-hari, perempuan memiliki pengetahuan yang terakumulasi tentang cara menyimpan, mendistribusikan, dan menggunakan air, baik dari pengalaman praktis maupun tradisi yang diwariskan antar generasi. Namun, peran penting ini sering dianggap remeh, keahlian mereka tidak dimanfaatkan, dan kebutuhan mereka diabaikan dalam sistem sosial yang masih sarat akan ketimpangan gender.
Mengatasi Ketimpangan Gender dalam Sektor Air
Di tengah ancaman krisis air global, memastikan akses air untuk semua orang menjadi semakin mendesak. Ini berarti menghapus hambatan sistemik yang menyebabkan ketimpangan gender dalam sektor air di berbagai komunitas dan sektor. Meningkatkan jumlah perempuan dalam posisi kepemimpinan di bidang tata kelola air dapat memperkuat suara perempuan dalam menentukan kebutuhan air dan sanitasi.
Selain itu, penting untuk mengintegrasikan perspektif gender dalam pembangunan infrastruktur air dan sanitasi, termasuk penyediaan fasilitas sanitasi yang mendukung kesehatan menstruasi. Memberikan ruang yang lebih besar bagi perempuan melalui peningkatan kapasitas dan akses pembiayaan juga menjadi kunci untuk menghapus hambatan menuju akses air dan sanitasi yang adil dan setara untuk semua.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Bagaimana Deforestasi di Indonesia Semakin Parah
Menjaga Komunikasi Publik di Tengah Meningkatnya Isu Kesehatan Mental
Ketidakseimbangan Energi Bumi dan Pengaruhnya pada Iklim
Pencemaran Laut dan Banyaknya Hiu Paus Terdampar
Konflik dan Penutupan Selat Hormuz: Bagaimana Gangguan Pasokan Global Menjangkau Afrika
Upaya Masyarakat Pesisir Banggai dalam Mengelola Sampah Plastik