Korea Selatan Wajibkan Penggunaan Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan (SAF)
Foto: Vitor Paladinidi Unsplash.
Perubahan iklim dan industri penerbangan memiliki hubungan sebab-akibat, dan keduanya saling terkait. Di satu sisi, peristiwa cuaca ekstrem dan tak terduga mengganggu operasional bandara, menyebabkan penundaan dan pembatalan penerbangan. Di sisi lain, sektor penerbangan berkontribusi signifikan terhadap pemanasan global karena penggunaan bahan bakar fosil yang sangat besar, menyumbang sekitar 2,5% emisi CO2 global. Di tengah upaya dekarbonisasi, berbagai negara dan pelaku industri mulai beralih ke bahan bakar penerbangan berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel/SAF), termasuk Korea Selatan.
Dekarbonisasi Industri Penerbangan
Bahan bakar penerbangan berkelanjutan, atau SAF, mengacu pada bahan bakar penerbangan terbarukan atau yang berasal dari limbah yang memenuhi kriteria keberlanjutan yang ketat. Bahan bakar ini dapat diproduksi dari limbah pertanian, minyak jelantah, hidrogen hijau, dan bahan lainnya. Menurut penilaian tren Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) tahun 2016, substitusi 100% bahan bakar jet berbasis batu bara dengan SAF dapat mengurangi hingga 63% emisi CO2 dasar penerbangan internasional pada tahun 2050.
Oleh karena itu, dunia perlahan beralih ke SAF untuk mendekarbonisasi industri penerbangan. Pada tahun 2023, ICAO dan negara-negara anggotanya mengadopsi kerangka kerja untuk “membersihkan” sektor penerbangan, termasuk melalui penggunaan SAF. Berbagai negara dan kawasan juga sedang mengambil langkah—AS, Uni Eropa, dan lainnya. Di kawasan Asia Pasifik, misalnya, Jepang menargetkan pencampuran SAF sebesar 10% pada tahun 2030. Indonesia, Malaysia, dan Thailand juga telah memperkenalkan peta jalan pencampuran SAF yang dimulai sekitar tahun 2027. Sementara itu, Singapura telah mengonfirmasi target SAF sebesar 1% pada tahun 2026.
Kewajiban Penggunaan Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan (SAF) di Korea Selatan
Pada September 2025, Korea Selatan bergabung dengan “Peta Jalan Mandat Pencampuran Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan (SAF)“. Dokumen tersebut memperkenalkan kewajiban penggunaan SAF untuk penerbangan internasional, mulai tahun 2027.
Mandat baru ini mewajibkan semua penerbangan internasional untuk menggunakan bahan bakar jet dengan campuran SAF 1% mulai tahun 2027. Tingkat campuran ini akan meningkat menjadi 3–5% pada tahun 2030 dan 7–10% pada tahun 2035. Kisaran spesifik akan difinalisasi lebih lanjut pada tahun 2026 dan 2029 berdasarkan kondisi pasar global, kapasitas produksi domestik, dan kewajiban internasional.
Kewajiban pencampuran SAF akan diberlakukan kepada pemasok bahan bakar, khususnya kilang minyak dan importir/eksportir. Jika perusahaan gagal mematuhinya, mereka akan didenda hingga 150% dari harga pasar SAF rata-rata untuk tahun tersebut. Industri ini memiliki waktu satu tahun untuk menyesuaikan diri sebelum denda tersebut diberlakukan. Selain itu, kementerian Korea Selatan juga memperkenalkan beberapa insentif, seperti dukungan subsidi langsung kepada maskapai penerbangan yang menggunakan bahan bakar campuran SAF.
Tantangan Global dalam Implementasi SAF
Implementasi SAF secara global tidaklah mudah. Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) melaporkan bahwa meskipun volume produksi SAF meningkat, pertumbuhannya “sangat lambat“. Pada tahun 2024, produksi SAF mencapai 1,3 miliar liter, namun hanya menyumbang 0,3% dari produksi bahan bakar jet global. Hal ini terutama disebabkan oleh lambatnya peluncuran teknologi produksi SAF. SAF juga jauh lebih mahal; biayanya bisa dua hingga lima kali lipat lebih mahal daripada bahan bakar jet konvensional.
Selain itu, peningkatan produksi SAF juga menimbulkan masalah lingkungan. Banyak bahan baku yang digunakan dalam SAF, seperti kedelai dan biji jagung, masih terkait dengan tingkat emisi yang tinggi. Produksi tanaman untuk biofuel seringkali berisiko menimbulkan deforestasi dan penipisan sumber daya. Apalagi faktanya, emisi dalam produksi SAF yang menggunakan minyak nabati murni hanya sedikit lebih baik atau bahkan lebih buruk daripada emisi dasar minyak bumi.
Oleh karena itu, pengembangan dan implementasi bahan bakar penerbangan berkelanjutan harus diawasi secara ketat dengan standar keberlanjutan internasional yang ketat. Dukungan finansial, kebijakan, dan teknis untuk penelitian dan pengembangan SAF sangat penting untuk memastikan transparansi dan keberlanjutan di seluruh rantai pasoknya. Selain itu, kolaborasi lintas sektoral dan multi-pemangku kepentingan antara pemerintah dan sektor swasta sangat penting untuk membangun jalur terbaik menuju dekarbonisasi sektor penerbangan di luar penggunaan SAF, misalnya melalui eksplorasi desain pesawat terbang dan peningkatan manajemen bandara serta permintaan perjalanan udara.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Menyoal Ketentuan Upah Minimum dan Tantangan Keseimbangan Pasar Tenaga Kerja
Mengungkap Potensi Risiko Teknologi di Tengah Krisis Global
Memperkuat Perlindungan Pekerja Migran Indonesia
Menilik Solusi Potensial Pengelolaan Sampah menjadi Metanol (Waste-to-Methanol)
Larangan Impor 12 Komoditas dan Hal-Hal yang Perlu Diantisipasi
Hak Alam untuk Lebah Tanpa Sengat di Peru