Langkah F1 dalam Memenuhi Komitmen Nol Emisi 2030
Photo: Abhinand Venugopal on Unsplash.
Di tengah desakan untuk melakukan dekarbonisasi, ajang olahraga besar mulai melakukan penyesuaian. Formula 1 atau F1 tidak ketinggalan. Sejalan dengan komitmen Federasi Automobil Internasional (FIA) untuk mencapai emisi nol bersih pada 2030, Formula 1 telah memperkenalkan serangkaian regulasi desain dan teknis untuk Grand Prix 2026.
Unit Daya Baru
F1 pertama kali mengumumkan target nol emisi bersih 2030 pada 2019. Dalam Pembaruan Keberlanjutan 2025 mereka, ajang ini mengklaim telah menurunkan total emisi karbon sebesar 26% pada akhir 2024 dibandingkan tingkat 2018, terutama didorong oleh peralihan ke sumber energi terbarukan.
Sejak 2014, F1 menggunakan unit daya hibrida kompleks yang terdiri dari mesin pembakaran internal dan Energy Recovery System (ERS) untuk meningkatkan efisiensi energi dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. ERS, yang memanen energi terbuang untuk mengisi ulang baterai, awalnya memiliki dua komponen utama: Motor Generator Unit–Kinetic (MGU-K), yang memulihkan energi saat pengereman, dan Motor Generator Unit–Heat (MGU-H), yang mengekstraksi energi dari gas buang.
Arsitektur unit daya ini berubah dalam regulasi 2026. Komponen MGU-H dihapus, dengan penekanan lebih besar pada optimalisasi MGU-K. Perubahan ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada pembakaran bahan bakar. Jika sebelumnya hanya sekitar 20% output berasal dari sistem listrik, unit daya 2026 kini mendekati pembagian seimbang 50:50 antara mesin pembakaran dan tenaga listrik.
Bahan Bakar Berkelanjutan & Upaya Lain
FIA memperkenalkan perubahan pada unit daya sebagai bagian dari dorongan keberlanjutan F1, dengan implikasi langsung pada konsumsi bahan bakar. Dalam regulasi sebelumnya, mesin menggunakan 100 kilogram bahan bakar per jam. Angka ini kini dikurangi menjadi 75 kilogram per jam, seiring meningkatnya peran energi listrik.
Selain itu, seluruh mobil mulai menggunakan bahan bakar berkelanjutan yang berasal dari berbagai sumber seperti bahan baku hayati, penangkapan karbon, limbah kota, dan biomassa non-pangan.
Bahan bakar ini dirancang untuk mengurangi emisi gas rumah kaca setidaknya 65% tanpa mengorbankan performa di lintasan, sebagaimana telah ditunjukkan pada Formula 2 dan Formula 3 musim 2025.
Upaya keberlanjutan juga meluas ke infrastruktur inti. Salah satu contohnya adalah Grand Prix Austria, yang memanfaatkan panel surya dan Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) untuk memasok energi bagi paddock, bangunan pit, dan pusat siaran.
Memastikan Keselamatan
Penerapan teknologi baru ini mulai memengaruhi dinamika balapan musim 2026. Meski dirancang untuk meningkatkan keberlanjutan melalui ketergantungan lebih besar pada tenaga listrik, unit daya baru juga membuat variasi kecepatan mobil lebih sulit diprediksi.
Dampak paling signifikan, yang berpotensi berbahaya, terlihat pada Grand Prix Jepang 2026 ketika Oliver Bearman mencoba menyalip Franco Colapinto. Saat Bearman mengaktifkan mode Boost, mobil Colapinto justru melambat akibat MGU-K yang tidak aktif. Perbedaan kecepatan ini menyebabkan benturan hingga 50G ketika Bearman menghantam pembatas untuk menghindari tabrakan.
Ketidakpastian ini berpotensi meningkatkan risiko keselamatan pembalap, sehingga memicu seruan mendesak untuk mengevaluasi kembali regulasi yang ada. Pada akhirnya, upaya meningkatkan keberlanjutan tidak boleh mengorbankan aspek keselamatan.
Penerjemah: Abul Muamar
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Dugaan Pelanggaran HAM dalam Proyek Panas Bumi di Dieng dan Tandikat-Singgalang
Empat Potensi Krisis yang Perlu Diantisipasi selama El Niño Godzilla
Dari Dukungan Mental hingga Hubungan Romantis: Memahami Fenomena Maraknya Penggunaan Pendamping AI
Ketimpangan Jaminan Kesehatan pada Balita yang Terus Berlanjut
Risiko Lingkungan dan Geopolitik dalam Pembangunan PLTA Medog
Empat Hal yang Kita Butuhkan untuk Meregenerasi Bumi: Pelajaran dari Climate Capital karya Tom Chi