Memperkuat Tata Kelola Risiko Bencana di Tingkat Lokal
Foto: Horacio Marcos C. Mordeno, MindaNews di Wikimedia Commons.
Ketika suhu siang hari kian meningkat dan curah hujan semakin ekstrem, kita perlu menyadari bahwa masa-masa penuh tantangan telah tiba. Dampak perubahan iklim semakin terasa. Oleh karena itu, pengelolaan bencana yang tangguh menjadi kunci dalam memperkuat ketahanan kita terhadap risiko bencana.
Meningkatnya Risiko Bencana
Sebagai manusia, kita hidup berdampingan dengan dinamika alam yang silih berganti. Namun, dinamika tersebut kini semakin berbahaya, terutama seiring memburuknya krisis iklim. Global Risks Report 2025 yang dirilis oleh World Economic Forum mengidentifikasi peristiwa cuaca ekstrem sebagai salah satu perhatian utama global, menempati posisi kedua dalam daftar risiko secara keseluruhan.
Kombinasi antara keputusan politik yang buruk yang mengabaikan risiko bencana, kemiskinan serta ketimpangan struktural yang mendalam, dan degradasi lingkungan yang berlangsung lama menciptakan tingkat kerentanan yang tinggi terhadap bahaya alam. Namun, sistem pengurangan risiko bencana yang efektif dapat meminimalkan kemungkinan bahaya tersebut berkembang menjadi bencana.
Pengurangan risiko bencana bertujuan untuk memperkuat ketangguhan terhadap bencana dengan mengurangi risiko yang sudah ada serta mencegah munculnya risiko baru. Upaya ini mencakup berbagai aspek, termasuk sistem peringatan dini, komunikasi risiko, serta pemantauan dan respons yang efektif. Kerangka Kerja Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana, yang diadopsi oleh negara-negara anggota PBB pada tahun 2015, menegaskan bahwa pemerintah nasional memiliki tanggung jawab utama dalam mengimplementasikan langkah-langkah pengurangan risiko bencana.
Namun, risiko bencana bersifat spesifik terhadap konteks dan bervariasi antarwilayah dan waktu. Oleh karena itu, tanggung jawab ini perlu dibagi bersama pemerintah daerah, sektor swasta, dan para pemangku kepentingan lainnya.
Pentingnya Konteks Lokal
Sebuah panduan dari UNDRR menyoroti sejumlah aspek penting dalam penyusunan rencana aksi pengurangan risiko bencana dan ketangguhan di tingkat lokal. Aspek tersebut meliputi identifikasi tindakan utama dan tujuan spesifik untuk mengatasi hambatan yang ada; pembagian tanggung jawab dan peran; pengembangan indikator untuk mengukur kemajuan; penetapan jadwal dan kerangka waktu pelaksanaan; serta perhitungan anggaran dan sumber pendanaan.
Salah satu faktor pendukung yang krusial dalam penyusunan rencana pengurangan risiko bencana di tingkat lokal adalah tata kelola risiko bencana yang baik. Hal ini berarti pemerintah tidak mengambil keputusan secara sepihak, melainkan melibatkan pihak-pihak yang terdampak oleh kebijakan dan praktik yang dijalankan.
Dalam beberapa kasus, pemerintah daerah memimpin penyusunan rencana pengurangan risiko bencana dan pembangunan ketangguhan; dalam kasus lainnya, komunitas lokal justru menjadi penggerak utama. Kedua pendekatan tersebut sama-sama menegaskan peran sentral masyarakat lokal, yang umumnya memiliki hubungan sosial dan pengetahuan tentang wilayahnya lebih mendalam dan berjangka panjang dibandingkan pejabat pemerintah. Sementara itu, organisasi masyarakat sipil dan kalangan akademisi dapat berperan sebagai fasilitator dialog dan negosiasi antara komunitas dan pemerintah.
Selain memanfaatkan pengetahuan lokal, partisipasi ini juga memberikan pemahaman tentang bagaimana masyarakat mengambil keputusan berdasarkan konteks, kebutuhan, dan praktik sosial-budaya mereka. Pengakuan terhadap hal ini menjadi fondasi penting dalam menangani faktor-faktor mendasar yang mendorong munculnya risiko bencana.
Diperlukan Tata Kelola yang Baik
Tata kelola yang baik juga berarti peningkatan akuntabilitas dan transparansi dalam seluruh tahapan penyusunan, pelaksanaan, pemantauan, hingga evaluasi rencana pengurangan risiko bencana. Laporan UNDRR mencatat bahwa pemerintah daerah yang proaktif, responsif, dan akuntabel mampu meningkatkan ketangguhan, sementara lemahnya akuntabilitas justru membuka peluang lebih besar terhadap praktik korupsi.
Pada akhirnya, memperkuat ketangguhan terhadap bencana adalah upaya bersama. Kini, semakin penting bagi pemerintah nasional dan daerah untuk mengakui urgensi persoalan ini serta mengerahkan aksi dan sumber daya untuk membangun sistem pencegahan, mitigasi, dan adaptasi yang lebih kuat, inklusif, dan efektif bagi semua.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.

Larangan Impor 12 Komoditas dan Hal-Hal yang Perlu Diantisipasi
Hak Alam untuk Lebah Tanpa Sengat di Peru
Mengatasi Ketimpangan Akses terhadap Tanah di Kalangan Orang Muda Pedesaan
Mengintegrasikan Inovasi Energi Terbarukan secara Sistemik untuk Transisi Energi
Mengantisipasi Masalah Berulang dari Integrasi Program MBG untuk Lansia dan Disabilitas
Strategi Lima Tahun Nepal untuk Bersihkan Tumpukan Sampah di Gunung Everest