Menengok Bagaimana Program Makan Gratis di Sekolah di Amerika Latin dan Karibia
Foto: FAO.
Nutrisi yang memadai dan seimbang sangat penting bagi perkembangan fisik dan kognitif anak, yang secara langsung memengaruhi konsentrasi dan performa akademik mereka. Namun, malnutrisi pada anak masih menjadi tantangan di seluruh dunia. Oleh karena itu, program makan gratis di sekolah bermunculan di banyak negara sebagai upaya untuk mengatasi masalah ini.
Di Amerika Latin dan Karibia (LAC), Agenda Regional untuk Pemberian Makanan Sekolah Berkelanjutan (Regional Agenda for Sustainable School Feeding/RAES) bertujuan untuk mengintegrasikan program pemberian makanan di sekolah ke dalam kebijakan nasional yang permanen dan memperkuat kebijakan yang sudah ada.
Malnutrisi pada Anak dan Program Pemberian Makanan di Sekolah
Pada tahun 2022, sekitar 149 juta anak balita menderita stunting akibat malnutrisi kronis, sementara 45 juta anak mengalami wasting atau malnutrisi akut. Kawasan Amerika Latin dan Karibia (LAC) juga tidak luput dari isu ini. Sebuah laporan PBB mengungkapkan bahwa sekitar 131,3 juta orang di kawasan ini tidak dapat mengakses pola makan sehat pada tahun 2020 karena mahalnya biaya. Selain itu, menurut laporan tersebut, anak balita dan perempuan lebih besar kemungkinannya mengalami kerawanan pangan dibandingkan laki-laki.
Malnutrisi pada anak merupakan masalah struktural, dan penanggulangannya membutuhkan lebih dari satu pendekatan. Sementara itu, program makan gratis di sekolah semakin diakui sebagai bantuan gizi yang efektif serta investasi strategis dalam pendidikan, kesehatan, dan pembangunan berkelanjutan. Secara global, lebih dari 418 juta anak mendapatkan manfaat dari program tersebut. Dampaknya mencakup peningkatan hasil belajar dan penurunan angka putus sekolah.
Lebih lanjut, ketika makanan yang diberikan bersumber dari petani kecil, program makan gratis di sekolah juga akan berkontribusi dalam membangun ekonomi lokal yang lebih kuat.
RAES, Kepemilikan Nasional, dan Keterlibatan Lokal
Di Amerika Latin dan Karibia (LAC), visi ini menghasilkan Agenda Regional untuk Pemberian Makanan Sekolah Berkelanjutan (RAES). Dikembangkan oleh pemerintah Brasil dengan dukungan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), Agenda ini bertujuan untuk menunjukkan bagaimana negara-negara Amerika Latin dan Karibia dapat mengintegrasikan program pemberian makanan di sekolah ke dalam komitmen kebijakan nasional jangka panjang. Agenda ini menekankan pentingnya kepemilikan nasional, lokalisasi, alokasi anggaran, serta regulasi dan pemantauan.
RAES mengadopsi model pendanaan yang terinspirasi oleh Program Pemberian Makanan Sekolah Nasional (PNAE) Brasil, yang mewajibkan setidaknya 30% anggaran dialokasikan untuk pangan dari petani keluarga. RAES menerapkan pendekatan Pemberian Makanan Sekolah Berbasis Rumah (HGSF) yang menghubungkan sekolah dengan petani lokal. Sistem ini membantu menciptakan pasar yang stabil bagi petani kecil dan mengurangi ketergantungan pada impor pangan, menyelaraskan kebutuhan gizi anak dengan pendidikan dan pembangunan masyarakat.
Selain itu, pengembangan kapasitas dan pemantauan yang tepat merupakan komponen kunci Agenda ini. Di tingkat regional, RAES memfasilitasi pertukaran pengetahuan melalui forum, program sertifikasi, dan platform daring dengan pelatihan dan pedoman kebijakan. Para guru menerima pelatihan dan kunjungan studi regional untuk mendukung pembelajaran lintas negara. RAES juga telah menerbitkan studi analitis tentang program pemberian makanan sekolah yang sedang berjalan untuk memberikan informasi yang lebih baik kepada para pembuat kebijakan tentang apa yang berhasil dan apa saja tantangan yang masih harus diatasi. Dengan demikian, pemerintah dapat secara efektif mengamankan pendanaan dan memperkuat kemitraan lokal, regional, dan internasional.
Pemenuhan Gizi yang Lebih Baik untuk Semua Anak
Program makan gratis di sekolah memiliki manfaat yang nyata, dan RAES dapat menawarkan model yang dapat direplikasi untuk kawasan-kawasan lain. Namun, ini saja belum cukup untuk memenuhi nutrisi anak.
Sangat penting untuk memperlakukan isu malnutrisi pada anak sebagai masalah yang kompleks dengan berbagai faktor yang saling terkait, mulai dari kemiskinan, ketimpangan, hingga polusi dan perubahan iklim. Pada akhirnya, pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil harus menciptakan lingkungan kolaboratif yang memungkinkan program intervensi dalam layanan kesehatan, perlindungan sosial, pendidikan, serta pertanian dan sistem pangan.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Membiarkan Hutan Pulih Sendiri sebagai Pendekatan yang Lebih Hemat Biaya
Membingkai Ulang Tata Kelola di Era Kebangkrutan Air
PSN Tebu Merauke: Penggusuran Masyarakat Adat dan Deforestasi yang Berlanjut
Memperkuat Ketahanan di Tengah Ketergantungan yang Kian Besar pada Infrastruktur Antariksa
Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit