Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan
Foto: Andriy Nestruiev di Pexels.
Manusia sangat bergantung pada alam. Namun selama berabad-abad, aktivitas manusia telah mengubah siklus dan pola planet ini, menimbulkan dampak nyata terhadap kehidupan di seluruh dunia, yang sering kali ke arah yang lebih buruk. Dalam sektor pertanian, misalnya, curah hujan merupakan faktor krusial, tetapi kini semakin sulit diprediksi. Sebuah studi pada tahun 2025 mengungkap salah satu faktor utama yang memengaruhi perubahan pola curah hujan.
Perubahan Pola Curah Hujan
Pola curah hujan menjadi semakin tidak menentu akibat perubahan iklim. Kenaikan suhu berkontribusi besar terhadap ketidakstabilan ini—secara rata-rata, setiap peningkatan suhu sebesar 1°C memungkinkan udara menahan 7% lebih banyak uap air. Kondisi ini meningkatkan risiko hujan ekstrem dalam waktu singkat alih-alih hujan yang stabil, atau menciptakan situasi di mana wilayah basah menjadi semakin basah, sementara wilayah kering semakin kering. Saat tahun 2025 diproyeksikan menjadi tahun terpanas ketiga berturut-turut, sebuah penilaian menemukan bahwa 33% wilayah dunia kini mengalami curah hujan yang tidak teratur dan bergeser ke pola yang semakin ekstrem.
Di sisi lain, sektor pertanian sangat bergantung pada hujan. Sekitar 80% lahan pertanian dunia mengandalkan curah hujan alami untuk menghasilkan lebih dari 60% produksi serealia global. Di tengah memburuknya krisis iklim, pengamatan menunjukkan bahwa banyak wilayah masih menampung hujan tahunan relatif rutin. Namun, wilayah lain—seperti Timur Tengah, termasuk Suriah dan Iran—mengalami curah hujan di bawah rata-rata, dengan penurunan masing-masing sebesar 70% dan 85% pada periode 2024–2025. Kondisi ini menyebabkan penurunan drastis produksi gandum dan ketersediaan air.
Dalam upaya mencari solusi, para ilmuwan mulai menelusuri penyebab yang selama ini kurang mendapat perhatian di balik perubahan pola hujan tersebut.
Sumber Hujan dari Daratan
Sebuah studi oleh University of California San Diego dan dipublikasikan pada November 2025 menyoroti faktor kunci dalam perubahan pola curah hujan, yaitu asal-usul air hujan. Studi tersebut menemukan bahwa hujan yang bersumber dari daratan cenderung lebih tidak dapat diandalkan dibandingkan hujan yang berasal dari penguapan laut. Hujan yang bersumber dari daratan berasal dari penguapan tumbuhan, danau, atau tanah, yang sangat dipengaruhi oleh suhu dan kondisi kekeringan. Akibatnya, tanaman menjadi lebih rentan di wilayah-wilayah yang curah hujannya didominasi oleh sumber daratan.
Dalam konteks ini, wilayah dengan porsi hujan bersumber dari daratan yang tinggi—lebih dari sepertiga total curah hujan—berpotensi menghadapi risiko kekeringan atau kehilangan kelembapan yang lebih besar. Beberapa kawasan pertanian masuk dalam kategori ini. Ketika tanah mengering dan vegetasi menurun, semakin sedikit kelembapan yang kembali ke atmosfer sebagai hujan. Hal ini berdampak terhadap kestabilan curah hujan.
Para peneliti menemukan bahwa wilayah seperti Midwest Amerika Serikat dan beberapa bagian Afrika Timur berada dalam risiko tersebut. Kawasan-kawasan ini sangat bergantung pada pertanian tadah hujan dan telah mengalami tekanan kelembapan tanah. Pada pertengahan Desember 2025, wilayah Midwest AS mengalami kekeringan di sekitar 35–43% areanya. Sementara itu, di belahan dunia lain, periode Oktober–Desember 2025 menjadi masa gagal panen akibat “hujan pendek” di beberapa wilayah Kenya dan Ethiopia di Afrika Timur.
Pertanian Tangguh Iklim untuk Keberlanjutan
Temuan ini menghadirkan variabel dan alat baru untuk memprediksi tekanan kekeringan serta memitigasi risikonya. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa pengelolaan lahan memegang peran kunci dalam membangun ketangguhan pertanian di tengah perubahan iklim. Oleh karena itu, pemerintah perlu mengatur alih fungsi lahan dan melindungi sumber-sumber hujan di daratan, seperti hutan. Penyusunan kebijakan berbasis temuan dan rekomendasi ilmiah menjadi langkah krusial untuk menjaga siklus air yang sehat demi curah hujan yang lebih andal.
Selain itu, edukasi dan pelatihan bagi petani terkait konservasi dan restorasi tanah dapat membantu menstabilkan produksi pertanian serta curah hujan lokal. Penyediaan data terpadu tentang pertanian dan iklim kepada petani juga memungkinkan pengambilan keputusan berbasis data yang menguntungkan seluruh pemangku kepentingan. Pada akhirnya, pertanian yang tangguh hadir dalam sistem pangan dan mata pencaharian yang lebih terlindungi demi masa depan berkelanjutan untuk semua.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.

Mengatasi Banjir Jakarta dengan Solusi yang Mengakar
Memahami Keterkaitan antara Krisis Iklim dan Kerja Perawatan
Menilik Potensi Digitalisasi Rantai Nilai Pangan untuk Mendukung Kesejahteraan Petani
Bagaimana Bank Dapat Berperan dalam Mendorong Terciptanya Pekerjaan Layak
Menilik Tantangan dalam Pengembangan SAF berbasis Minyak Jelantah di Indonesia
Mengintegrasikan Panas Perkotaan dalam Sistem Penanggulangan Bencana