Mengupayakan Sirkularitas Pusat Data melalui Pemulihan Panas Buangan
Foto: Taylor Vick di Unsplash.
Setiap kali kita bertanya pada ChatGPT atau menonton film online, kita secara perlahan dan kolektif menggunakan energi yang menyebabkan dampak negatif terhadap lingkungan. Terkait hal ini, banyak penelitian yang berupaya mencari solusi inovatif untuk mengurangi dampak buruk tersebut melalui pendekatan yang lebih sirkular. Negara-negara Nordik seperti Finlandia dan Swedia, misalnya, memanfaatkan panas buangan dari pusat data dan mengalihkannya untuk menghangatkan gedung.
Dampak Lingkungan Pusat Data
Pusat data merupakan kekuatan tak tergantikan di balik teknologi digital. Fasilitas raksasa ini menaungi infrastruktur yang menyediakan konektivitas yang kita andalkan setiap hari. Di Amerika Serikat saja, terdapat lebih dari 4.000 pusat data, yang menyumbang 4% dari total penggunaan listrik negara tersebut.
Pusat-pusat data menggunakan sumber daya yang sangat besar, terutama energi dan air. Sebagai contoh, satu pencarian di ChatGPT membutuhkan penggunaan energi sepuluh kali lipat dibandingkan pencarian biasa di Google. Perkiraan menunjukkan bahwa ChatGPT menggunakan energi hingga 40 juta kilowatt per hari, cukup untuk mengisi daya jutaan ponsel atau menyalakan gedung pencakar langit selama lebih dari setahun. Dalam banyak kasus, energi tersebut terutama berasal dari bahan bakar fosil, yang berkontribusi signifikan terhadap emisi gas rumah kaca yang mendorong pemanasan global. Selanjutnya, panas yang dihasilkan dari proses komputasi diredakan dengan air.
Berapa banyak? Satu pusat data dapat menggunakan sekitar 2 megawatt listrik dan jutaan galon air untuk mendinginkan sistem. Amerika Serikat menggunakan sekitar 17 miliar galon air hanya untuk pendinginan pusat datanya. Dengan hadirnya Kecerdasan Buatan (AI), konsumsi dan dampaknya mulai meningkat dan diperkirakan akan terus tumbuh secara eksponensial. Proyeksi menunjukkan bahwa dalam beberapa tahun ke depan, pusat data dapat mengonsumsi air dalam jumlah yang setara dengan kebutuhan 10 juta orang.
Pemulihan Panas Buangan di Negara-Negara Nordik
Di negara-negara Nordik seperti Finlandia dan Swedia, industri teknologi bermitra dengan pemerintah untuk menemukan solusi ke arah sirkularitas. Salah satu caranya adalah memanfaatkan panas buangan yang dihasilkan oleh pusat data untuk menghangatkan rumah dan bangunan komersial di sekitarnya, yang dikenal sebagai “pemulihan panas buangan”.
Beberapa kota di dunia sedang memanfaatkan mekanisme ini. Penghangatan sekitar dua pertiga kota Mantsala di Finlandia ditenagai oleh teknologi pemulihan panas buangan, dan proyek-proyek serupa lainnya sedang dikerjakan. Di Stockholm, Swedia, kemitraan antara Kota Stockholm, operator jaringan listrik, dan perusahaan pemanas dan pendingin Stockholm Data Parks memanfaatkan sumber daya berharga berupa panas buangan dan menjadikan pusat data sebagai bagian dari sistem energi sirkular kota.
Sebagai pemain utama dalam ledakan pusat data, raksasa teknologi juga berkontribusi dalam penelitian dan pengembangan ini. Pada tahun 2022, Microsoft mengumumkan proyek untuk membangun “kawasan pusat data” di Finlandia Selatan yang akan beroperasi dengan “energi bersih”—tanpa menghasilkan emisi karbon—dan mampu menyediakan pemanas untuk beberapa kota terbesar di negara tersebut. Google juga telah mengumumkan proyek di wilayah tersebut untuk memulihkan panas buangan dari pusat data mereka dan mengalihkannya untuk penggunaan lain, seperti memanaskan gedung-gedung lainnya.
Selain itu, sebuah perusahaan di Swedia meluncurkan “situs ekosistem“, yang menyatukan pusat data, kapasitas penyimpanan, dan teknologi pemulihan panas di bawah satu lokasi. Situs ini akan diintegrasikan ke dalam sistem pemanas distrik kota, sehingga meningkatkan keberlanjutan dan menekan biaya.
Ekonomi Sirkular di Era AI
Dalam beberapa tahun terakhir, kita menyaksikan kemunculan AI dan penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Di tempat-tempat seperti Amerika Serikat, pusat data dipasarkan sebagai keuntungan bagi ekonomi lokal meskipun dampak lingkungan dan sosialnya merusak. Beberapa negara bagian bahkan menawarkan insentif pajak untuk pembangunan lebih banyak pusat data.
Pelatihan ekstensif yang dibutuhkan untuk membangun model AI dan meningkatnya skala penggunaannya menggarisbawahi kekhawatiran yang semakin besar tentang jumlah energi yang dibutuhkan untuk memeliharanya. Oleh karena itu, saat ini semakin penting untuk menutup siklus penggunaan sumber daya pusat data. Selain pemulihan panas buangan, para pemangku kepentingan utama juga harus terus mencari cara untuk mengurangi penggunaan sumber daya pusat data. Mendorong pengembangan AI yang sadar karbon, mengintegrasikan energi terbarukan untuk pembangkitan energi, dan menetapkan peraturan serta kebijakan yang ketat merupakan beberapa langkah yang diperlukan untuk melindungi planet Bumi dan masa depan kolektif kita di tengah kemajuan teknologi.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Menyoal Ketentuan Upah Minimum dan Tantangan Keseimbangan Pasar Tenaga Kerja
Mengungkap Potensi Risiko Teknologi di Tengah Krisis Global
Memperkuat Perlindungan Pekerja Migran Indonesia
Menilik Solusi Potensial Pengelolaan Sampah menjadi Metanol (Waste-to-Methanol)
Larangan Impor 12 Komoditas dan Hal-Hal yang Perlu Diantisipasi
Hak Alam untuk Lebah Tanpa Sengat di Peru