Menilik Isu Kekurangan Bidan di Tingkat Global
Foto: Hassan Zakizadeh, USAID.
Di balik keajaiban dalam menghadirkan kehidupan baru ke dunia, kehamilan merupakan proses yang rapuh dan menuntut perhatian serta perawatan saksama. Layanan kebidanan menjadi salah satu pilar penting dalam memberikan dukungan tersebut. Akan tetapi, meskipun perannya begitu vital, para ahli memperingatkan bahwa dunia tengah menghadapi kekurangan bidan dalam skala global.
Kekurangan Bidan secara Global
Bidan adalah tenaga kesehatan profesional yang dilatih untuk mendampingi perempuan, anak-anak, dan keluarga sepanjang masa kehamilan, persalinan, hingga perawatan pascapersalinan. Umumnya, bidan menangani kehamilan dan persalinan berisiko rendah serta praktik persalinan yang lebih tradisional, yang berbeda-beda di tiap-tiap budaya, sementara dokter spesialis obstetri dan ginekologi (ob-gyns) menangani kasus berisiko tinggi dengan prosedur medis yang lebih kompleks.
Meski demikian, bidan memiliki peran sentral dalam layanan kesehatan primer, terutama dalam memastikan ketersediaan pilihan layanan kesehatan ibu dan reproduksi yang aman. Keterampilan dan keahlian mereka turut membentuk serta menjalankan berbagai intervensi yang efektif, selaras dengan kebutuhan pasien, keluarga, dan komunitas. Karena itu, keberadaan bidan beserta mutu layanan yang mereka berikan menjadi sangat menentukan.
Sayangnya, sebagian besar wilayah dunia masih kekurangan kehadiran dan keahlian tersebut. Penelitian menunjukkan bahwa 100 dari 181 negara mengalami kekurangan bidan. Perhitungan berdasarkan data terbaru yang tersedia dari WHO dan UNFPA mengungkapkan bahwa dunia kekurangan hampir satu juta bidan, dari total kebutuhan sekitar dua juta bidan.
Tingkat kekurangan ini berbeda-beda di setiap kawasan. Afrika mencatat kesenjangan terbesar antara kebutuhan dan ketersediaan bidan, dengan sembilan dari sepuluh perempuan tinggal di negara-negara yang mengalami kekurangan bidan. Sejalan dengan itu, kawasan ini mencatat sekitar 178.000 kematian ibu dan 1 juta kematian bayi baru lahir setiap tahun per 2025. Sementara itu, data dari 21 negara di kawasan Mediterania Timur menunjukkan bahwa jumlah bidan yang ada saat ini perlu ditingkatkan hingga tiga kali lipat untuk memenuhi kebutuhan yang ada.
Persoalan Ketenagakerjaan, Persoalan Hak
Kekurangan bidan sebagian merupakan persoalan ketenagakerjaan. International Confederation of Midwives (ICM), yang timnya terlibat dalam penelitian ini, menyatakan bahwa banyak bidan terdidik tidak terserap ke dalam dunia kerja. Akibatnya, mereka tidak hadir di wilayah-wilayah dengan kebutuhan tinggi atau tidak dapat memanfaatkan keterampilan mereka secara optimal.
Ketika bekerja, bidan kerap harus menjalani jam kerja panjang, sering kali dalam kondisi yang kurang ideal. Situasi ini sejalan dengan problem yang dihadapi tenaga kesehatan di berbagai belahan dunia, yang berujung pada kelelahan kerja (burnout) dan berbagai kesulitan lainnya.
Selain itu, kekurangan bidan menimbulkan tantangan serius terhadap mutu layanan kesehatan, sekaligus terhadap hak asasi serta keselamatan perempuan dan anak-anak. Berbagai studi menunjukkan bahwa cakupan universal atas intervensi yang diberikan oleh bidan berpotensi menyelamatkan hingga 4,3 juta jiwa per tahun pada 2035. Bahkan, peningkatan cakupan dalam skala moderat saja diperkirakan dapat menyelamatkan 1,3 juta jiwa.
Pengakuan dan Dukungan yang Lebih Baik
Studi tersebut menyebutkan bahwa kekurangan bidan secara global sebenarnya telah diakui secara luas. Namun demikian, tingkat keparahan masalah ini masih belum sepenuhnya tergambar dengan jelas. Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan data, mengingat banyak negara yang jarang memperbarui angka-angka mereka dalam basis data global, seperti National Health Workforce Accounts milik WHO.
Studi tersebut juga menyoroti kaburnya batas antara profesi keperawatan dan kebidanan sebagai faktor yang menghambat pengumpulan data. Dalam konteks ini, ICM menyerukan perlunya definisi yang lebih jelas mengenai kedua profesi tersebut, guna memastikan pengakuan yang lebih baik atas peran masing-masing serta dukungan yang dibutuhkan. Pengakuan semacam ini dapat menjadi langkah awal untuk mengatasi kekurangan bidan sekaligus melindungi hak-hak mereka.
Pada saat yang sama, penyediaan pendidikan bermutu dan penguatan kapasitas bagi bidan dapat meningkatkan kompetensi mereka dalam menjawab kebutuhan masa kini, yang pada gilirannya akan memperkuat kepercayaan publik serta rekan tenaga kesehatan lainnya. Pada tingkat sistemik, perluasan kesempatan kerja yang aman serta perbaikan kondisi kerja juga menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan tenaga bidan dan meningkatkan ketersediaan mereka di lapangan.
Penerjemah:Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Menetapkan Standar Nutrisi Berbasis Bukti untuk Atasi Keracunan MBG yang Berulang
Membiarkan Hutan Pulih Sendiri sebagai Pendekatan yang Lebih Hemat Biaya
Membingkai Ulang Tata Kelola di Era Kebangkrutan Air
PSN Tebu Merauke: Penggusuran Masyarakat Adat dan Deforestasi yang Berlanjut
Memperkuat Ketahanan di Tengah Ketergantungan yang Kian Besar pada Infrastruktur Antariksa
Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?