Pentingnya Rencana Pemulihan Bencana untuk Satwa Liar
Foto: SB Bandara di Unsplash,
Perubahan iklim mengguncang kehidupan seluruh makhluk di Bumi, termasuk satwa liar. Fenomena ini meningkatkan risiko cuaca ekstrem yang kerap berujung pada bencana. Selain menimbulkan korban jiwa dan kerugian besar bagi manusia, bencana juga berdampak serius terhadap satwa liar akibat masifnya kerusakan habitat mereka. Dalam hal ini, sayangnya, rencana pemulihan bencana bagi satwa liar kerap terabaikan, padahal sangat penting bagi ketahanan jangka panjang manusia dan planet Bumi.
Satwa Liar dan Bencana
Keberadaan satwa liar memiliki arti penting bagi manusia dan lingkungan. Satwa liar merupakan bagian penting dari keanekaragaman hayati serta mendukung produktivitas pertanian, antara lain melalui perannya dalam mengendalikan hama, menyerbukkan tanaman, serta mengembalikan unsur hara ke dalam tanah. Ekosistem yang sehat sangat bergantung pada keberagaman dan kondisi satwa liar yang baik agar fungsinya dapat lestari.
Sayangnya, menurut Living Planet Report 2024 yang dirilis WWF, populasi satwa liar di dunia telah mengalami penurunan sekitar 70%. Hilangnya satwa liar menciptakan ketidakseimbangan dalam jaring rantai makanan dan mengganggu hubungan antara predator–mangsa. Akibatnya, populasi hama dapat meningkat dengan cepat karena rusaknya pengendalian alami, yang kemudian memicu berbagai penyakit serta persoalan lain di sektor pertanian.
Penurunan populasi satwa liar ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk eksploitasi berlebihan dan bencana. Namun, banyak rencana aksi nasional terkait konservasi satwa liar belum memasukkan bencana sebagai salah satu ancaman utama yang perlu diantisipasi.
Ketika bencana terjadi, satwa liar kerap mati atau terpaksa berpindah dari habitat alaminya. Sebagai contoh, sekitar 3 miliar hewan terdampak parah akibat kebakaran hutan besar di Australia pada periode 2019–2020. Banjir dan longsor yang terjadi di Sumatera pada November penghujung 2025 juga berdampak pada kehidupan orangutan tapanuli, gajah, dan berbagai satwa liar lainnya. Konservasionis orangutan Erik Meijaard mengatakan, “Kami perkirakan paling tidak 6 sampai 11 persen orangutan kemungkinan besar terbunuh.”
Rencana Pemulihan Bencana bagi Satwa Liar
Seiring meningkatnya frekuensi dan intensitas bencana dan kepunahan massal satwa liar yang terjadi secara bertahap, upaya untuk melindungi satwa liar dalam situasi yang tidak stabil menjadi semakin mendesak. Bahkan sebelum bencana datang, penting untuk mengintegrasikan pelindungan satwa liar ke dalam strategi pengurangan risiko bencana. Mempelajari bagaimana berbagai spesies satwa liar bereaksi saat bencana terjadi akan membantu merumuskan bentuk intervensi yang paling tepat ketika bahaya muncul. Pendanaan dan inisiasi riset di bidang ini menjadi langkah krusial untuk menyiapkan jalur evakuasi, zona aman, serta upaya penyelamatan satwa liar dalam skenario bencana.
Selanjutnya, pemulihan habitat secara cepat merupakan kebutuhan yang tidak kalah penting. Pemulihan dan pelestarian alam merupakan kunci ketahanan jangka panjang. Ekosistem alami adalah rumah bagi spesies satwa liar yang tak terhitung banyaknya, yang fungsi ekologisnya turut menopang kesejahteraan manusia serta permukiman kita. Oleh karena itu, diperlukan upaya konservasi menyeluruh—yang tidak hanya memulihkan alam ke kondisi sebelum bencana, tetapi juga membantu mencegah dampak bencana di masa depan. Sebagai contoh, skema Payments for Environmental Services yang diterapkan oleh Kosta Rika sejak 1997, yang merupakan rencana rewilding yang terbukti efektif meregenerasi hutan yang sebelumnya mengalami kerusakan.
Kolaborasi untuk Pemulihan dan Ketangguhan
Kerangka kerja dan strategi sistemik merupakan fondasi utama dalam rencana pemulihan bencana bagi satwa liar. Namun, berbagai pihak dapat berkontribusi untuk menutup celah yang ada. Peliputan media yang mengangkat penderitaan satwa liar, misalnya, dapat menarik dukungan publik dan donasi. Dukungan ini akan membantu organisasi masyarakat sipil yang berfokus pada satwa serta para pengelola sektor konservasi untuk melanjutkan upaya pemulihan pasca-bencana. Selain itu, pusat rehabilitasi dan suaka satwa juga merupakan bagian penting dari rencana pemulihan, sebelum satwa liar dapat kembali ke habitatnya yang telah dipulihkan.
Pada akhirnya, penurunan populasi satwa liar dan meningkatnya bencana alam merupakan akibat dari sistem perusak yang sama. Intensitas dan frekuensi bencana alam akan terus meningkat tanpa adanya transformasi sistemik untuk menghentikan perusakan lingkungan dan perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Karena itu, menangani akar persoalan beserta dampak lintas sektornya menjadi agenda yang paling mendesak dan krusial.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Memahami Perjanjian Laut Lepas PBB
Menilik Langkah Indonesia Bergabung dengan Koalisi Pasar Karbon Global
Risiko dan Peluang Kabel Bawah Laut bagi Pembangunan Berkelanjutan
Tantangan dan Peluang Penerapan Pajak Karbon di Indonesia
Meningkatnya Serangan dan Kekerasan terhadap Pembela Lingkungan dan Tanah
Menyoal Ketentuan Upah Minimum dan Tantangan Keseimbangan Pasar Tenaga Kerja