Siklus Ketimpangan-Pandemi di Tengah Meningkatnya Kerentanan Global
Foto: Markus Spiske di Unsplash.
Wabah penyakit dan pandemi terus menjadi ancaman signifikan bagi kesehatan dan populasi global. Namun, meskipun ancaman ini bersifat universal, dampaknya lebih terasa pada komunitas marginal. Akses yang terbatas terhadap sumber daya dan fasilitas membuat mereka berisiko lebih tinggi mengalami dampak yang lebih buruk. Sistem ini melanggengkan siklus ketimpangan-pandemi, yang menekankan bagaimana wabah dan pandemi berkaitan erat dengan ketimpangan.
Siklus Ketimpangan-Pandemi
Setelah dua tahun penelitian, Joint Programme PBB untuk HIV/AIDS (UNAIDS) meluncurkan sebuah laporan yang mengeksplorasi siklus ketimpangan-pandemi global. Laporan tersebut menemukan bahwa ketimpangan membuat dunia lebih rentan terhadap pandemi dan melemahkan kapasitas global untuk mencegah dan merespons wabah. Ketimpangan dalam pendapatan, pendidikan, ras/etnis, gender dan seksualitas, serta aspek-aspek lainnya, meningkatkan kerentanan masyarakat terhadap pandemi.
Dampaknya begitu nyata. Menurut analisis laporan terhadap data dampak HIV dari 217 negara dan COVID-19 dari 151 negara, negara-negara dengan tingkat ketimpangan yang lebih tinggi mengalami angka kematian akibat COVID-19 dan AIDS yang lebih tinggi, serta tingkat infeksi HIV yang lebih tinggi.
Misalnya, penelitian menemukan bahwa orang yang tinggal di permukiman informal di kota-kota Afrika memiliki prevalensi HIV yang lebih tinggi. Penelitian ini juga menghubungkan orang-orang tanpa pendidikan dasar di Brasil atau mereka yang tinggal di permukiman padat penduduk di Inggris dengan tingkat kematian yang lebih tinggi akibat COVID-19.
Singkatnya, ketimpangan membuat pandemi lebih mematikan, lebih lama, dan lebih mengganggu perekonomian. Kondisi ini, pada gilirannya, memperburuk ketimpangan. Laporan tersebut menggambarkan hal ini sebagai “hubungan yang siklis dan saling memperkuat”.
Ketimpangan Antar Negara
Ketimpangan antar negara juga merupakan faktor kunci. Beberapa negara kekurangan sarana untuk merespons wabah seperti COVID-19 atau Ebola secara efektif. Negara-negara maju mampu membiayai pengeluaran layanan kesehatan dan mitigasi ekonomi selama masa guncangan. Sebaliknya, negara-negara berkembang tidak. Beban utang luar negeri mereka meningkat menjadi 12% pada tahun 2020 meskipun pengeluaran mereka lebih rendah selama pandemi COVID-19.
Namun, kapasitas keuangan negara bukanlah satu-satunya faktor. Teknologi kesehatan yang inovatif, seperti vaksin dan obat-obatan, dengan cepat tersedia di negara-negara maju, tetapi lambat menjangkau rakyat di negara-negara berkembang. Enam bulan setelah vaksin COVID-19 disetujui, negara-negara berpenghasilan tinggi memiliki 90% dari apa yang mereka butuhkan untuk menjangkau populasi prioritas. Sementara itu, negara-negara berpenghasilan rendah hanya memiliki cukup untuk menjangkau 12% populasi mereka yang paling berisiko. Akses yang tidak merata terhadap layanan kesehatan ini memperparah kerentanan global terhadap pandemi.
Memutus Siklus
Laporan tersebut juga menyoroti bagaimana dampak pandemi yang menghancurkan secara tidak proporsional menghantam penduduk miskin. Akibat pandemi COVID-19, sekitar 165 juta orang terjerumus ke dalam kemiskinan, dengan pekerja informal dan perempuan mengalami guncangan terbesar. Sementara itu, kekayaan miliarder meningkat lebih dari seperempat (27,5%) pada puncak krisis dari April hingga Juli 2020.
Contoh lain adalah pandemi AIDS, di mana peningkatan prevalensi HIV sebesar 1% diperkirakan akan mengurangi pertumbuhan pendapatan per kapita sebesar 0,47%. Wabah lain, seperti SARS, MERS, Ebola, dan influenza H1N1, juga menyebabkan peningkatan ketimpangan yang berlarut-larut.
Pada akhirnya, mengatasi ancaman global membutuhkan upaya menjembatani kesenjangan dan bekerja sama. Laporan tersebut menunjukkan bahwa siklus ketimpangan-pandemi dapat diputus dengan pendekatan baru dalam pencegahan, kesiapsiagaan, dan respons pandemi. Sangat penting untuk mempertimbangkan ketimpangan yang ada dan meresponsnya dengan kebijakan berbasis bukti.
Pemerintah dan organisasi internasional harus memimpin, di antaranya dengan menghapus hambatan keuangan global dan berinvestasi dalam mekanisme perlindungan sosial untuk mengurangi guncangan. Pendekatan kolaboratif juga diperlukan untuk membangun sistem respons yang mencakup struktur tata kelola lintas batas dan multisektoral serta organisasi yang dipimpin masyarakat.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Mewujudkan Kondisi Kerja yang Layak bagi Pekerja Platform
Memetakan Kebutuhan Konservasi Hiu dan Pari secara Global
Ilusi Besar dalam Laporan Kinerja Iklim Perusahaan
Hamdan bin Zayed Initiative: Upaya Abu Dhabi Mewujudkan Laut Terkaya di Dunia
Krisis Iklim dan Menyempitnya Ruang Aman bagi Warga di Jakarta
Jerman Tingkatkan Langkah Perlindungan untuk Infrastruktur Kritis