Bagaimana Program Dokter Spesialis Keliling di Jateng Menjawab Tantangan Ketimpangan Akses
Foto: Mufid Majnun di Unsplash.
Akses ke layanan kesehatan berkualitas dan terjangkau bagi semua adalah prasyarat untuk mewujudkan masyarakat yang sehat dan sejahtera. Sayangnya, isu ketimpangan dan keterbatasan akses masih terus berlanjut di berbagai daerah, utamanya terkait ketersediaan tenaga kesehatan seperti dokter spesialis. Terkait hal ini, Jawa Tengah telah meluncurkan Program Layanan Dokter Spesialis Keliling (Speling) untuk mengatasi isu ketimpangan akses ke layanan kesehatan. Bagaimana program ini dapat menjawab tantangan yang ada?Ketimpangan Akses Layanan Kesehatan di Jawa Tengah
Ketimpangan Akses Layanan Kesehatan di Jawa Tengah
Sekilas, wilayah Pulau Jawa, termasuk Jawa Tengah, mungkin tidak termasuk yang menghadapi isu ketimpangan akses terhadap layanan kesehatan. Jika dibandingkan dengan pulau-pulau lain di Indonesia, Jawa adalah pusat keunggulan dalam banyak hal, termasuk ketersediaan tenaga medis. Namun, jika disorot lebih dekat, ketimpangan akses terhadap layanan kesehatan masih menjadi tantangan yang belum teratasi.
Bagi penduduk yang tinggal di kawasan perkotaan, akses ke layanan kesehatan mungkin bukan lagi sebuah isu. Namun, bagi mereka yang tinggal di wilayah pedesaan yang jauh dari fasilitas kesehatan utama, ketersediaan akses layanan kesehatan yang mudah dan terjangkau adalah sesuatu yang langka. Cilacap, Banjarnegara, Wonosobo, Purbalingga, dan Pekalongan, termasuk daerah-daerah di Jawa Tengah yang masih mengalami tantangan dalam akses layanan kesehatan, sehingga penduduknya sering harus menempuh jarak yang relatif jauh untuk mencapai fasilitas kesehatan yang memadai, seperti yang ada di Kota Semarang atau Surakarta.
Layanan Dokter Spesialis Keliling (Speling)
Program Layanan Dokter Spesialis Keliling (Speling) termasuk salah satu program unggulan Pemprov Jawa Tengah pada tahun 2025, yang menargetkan 1.278 desa dalam setahun, dan menggandeng pemerintah kota dan kabupaten se-Jawa Tengah. Program ini bertujuan untuk mendekatkan layanan kesehatan spesialis kepada masyarakat; meningkatkan kompetensi dokter umum, perawat dan bidan melalui transfer ilmu pengetahuan dari dokter spesialis spesialis; meningkatkan kualitas pelayanan medis melalui penegakan diagnostik yang lebih tepat dan akurat; mempercepat penanganan kasus-kasus rujukan; serta memperkuat sistem rujukan dan jejaring pelayanan kesehatan di seluruh kabupaten/kota.
Program Speling menghadirkan dokter spesialis penyakit dalam, dokter spesialis anak, dokter spesialis kandungan, dokter spesialis paru, hingga dokter spesialis kejiwaan ke desa-desa. Pada dasarnya, program ini menyediakan layanan skrining kesehatan bebas biaya, yang dilengkapi dengan layanan dokter spesialis dan rujukan. Setiap kabupaten/kota diberi ruang untuk berinovasi dalam menjalankan program ini. Salatiga, misalnya, mengintegrasikan program ini dengan dukungan fasilitas kesehatan pemerintah, swasta, dan BPJS Kesehatan untuk mengatasi hambatan pasien dalam pembiayaan layanan lanjutan. Selain pemeriksaan dasar, program Speling di Salatiga juga memberikan skrining penyakit serius seperti kanker, TBC, kanker serviks, dan gangguan kesehatan mental.
Per November 2025, program ini diklaim telah menyasar 706 desa dan memberikan layanan dokter spesialis kepada hampir 10 juta penduduk.
Mengatasi Ketimpangan
Pada akhirnya, mengatasi ketimpangan akses layanan kesehatan, termasuk memastikan ketersediaan tenaga kesehatan berkualitas yang mencakup dokter spesialis secara merata, membutuhkan strategi dan pendekatan yang kuat, komprehensif, dan terintegrasi–yang lebih dari sekadar program Speling. Upaya ini menuntut komitmen lintas sektor, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, institusi pendidikan kedokteran, rumah sakit, hingga organisasi profesi untuk bahu membahu membangun ekosistem layanan kesehatan yang adil dan inklusif. Dalam hal ini, diperlukan kebijakan yang berorientasi pada distribusi sumber daya manusia kesehatan yang merata, insentif yang tepat bagi tenaga kesehatan di pedesaan dan daerah terpencil, investasi pada perbaikan sistem dan infrastruktur layanan kesehatan secara menyeluruh, serta perbaikan sistem pendidikan dokter spesialis dan pembinaan karier yang mendorong pemerataan.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Mewujudkan Kondisi Kerja yang Layak bagi Pekerja Platform
Memetakan Kebutuhan Konservasi Hiu dan Pari secara Global
Ilusi Besar dalam Laporan Kinerja Iklim Perusahaan
Hamdan bin Zayed Initiative: Upaya Abu Dhabi Mewujudkan Laut Terkaya di Dunia
Krisis Iklim dan Menyempitnya Ruang Aman bagi Warga di Jakarta
Jerman Tingkatkan Langkah Perlindungan untuk Infrastruktur Kritis