Bagaimana Bencana Ekologis Mempercepat Kepunahan Satwa Liar
Foto: jonleong64 di Pixabay.
Kerusakan lingkungan dan perubahan iklim telah memicu rangkaian bencana ekologis yang datang lebih sering dan lebih parah dari sebelumnya. Situasi ini bukan hanya mengganggu kehidupan masyarakat, tetapi juga mengancam keberlangsungan hidup satwa liar yang kehilangan ruang hidupnya. Tekanan yang terus meningkat ini mendorong satwa liar semakin dekat pada kepunahan, sekaligus mengganggu keseimbangan ekosistem yang selama ini menjaga kehidupan di Bumi.
Dampak Bencana Ekologis terhadap Satwa Liar
Ketika hutan menyusut dan bentang alam berubah, alam kehilangan daya tahannya. Dampaknya terlihat melalui rangkaian bencana yang muncul silih berganti di berbagai wilayah. Rusaknya ekosistem penyangga membuat bencana tidak lagi menjadi peristiwa alam semata, melainkan bagian dari krisis ekologis akibat aktivitas manusia yang memperbesar tekanan terhadap keanekaragaman hayati termasuk keberlangsungan hidup satwa liar.
Dalam situasi seperti ini, satwa liar berada pada posisi yang paling rentan. Bencana datang bukan hanya merusak habitat, tetapi juga memutus sumber pakan, jalur jelajah, dan ruang berlindung yang selama ini menopang kehidupan mereka. Ketika banjir menenggelamkan hutan, longsor menghancurkan lereng bukit, atau kebakaran menghabiskan kawasan hutan, satwa liar kehilangan ruang hidupnya secara tiba-tiba, tanpa kesempatan untuk beradaptasi.
Satwa Liar di Ambang Kepunahan
Perubahan lingkungan yang dipicu aktivitas manusia kerap menjadi faktor utama penurunan populasi atau hilangnya berbagai spesies satwa liar. Harimau jawa dan harimau bali, misalnya, dinyatakan punah setelah habitatnya menyusut drastis akibat deforestasi massif dan pembukaan lahan untuk perkebunan sejak awal abad ke-20. Tekanan tersebut diperparah oleh perburuan yang tak terkendali, membuat populasi dua subspesies harimau tersebut tidak mampu pulih hingga akhirnya benar-benar lenyap. Nasib serupa dialami beberapa burung endemik yang kini berada di ambang kepunahan, seperti julang sumba dan kakatua kecil jambul-kuning yang populasinya terus menurun karena menyusutnya kawasan hutan tempat mereka hidup.
Kecenderungan yang sama semakin terlihat dalam bencana ekologis beberapa waktu terakhir. Rangkaian banjir bandang dan longsor akibat kerusakan hutan yang terjadi pada akhir November hingga Desember 2025, di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, juga menimbulkan dampak serius bagi satwa liar. Gajah sumatera ditemukan mati terbenam di lumpur dan di antara tumpukan kayu yang terbawa banjir, sementara orangutan di Tapanuli yang juga berada di ambang kepunahan dikabarkan hilang jejaknya dari beberapa kantong habitat yang selama ini dipetakan oleh peneliti.
Bencana ekologis serupa beberapa tahun terakhir juga memperlihatkan pola dampak yang konsisten terhadap satwa liar. Kebakaran hutan di Kalimantan misalnya, telah menghancurkan hutan gambut dan kawasan tropis, sehingga memangkas habitat orangutan di Kalimantan yang bergantung pada tutupan hutan. Ketika hutan rusak, tutupan lahan menyusut, dan ekosistem penyangga hilang, satwa liar menjadi korban pertama.
Membangun Kerangka Kerja Konservasi yang Terintegrasi
Tanpa perlindungan lingkungan dan pemulihan habitat yang serius, serta strategi mitigasi bencana yang mempertimbangkan aspek ekologis, Indonesia berisiko mengulang kepunahan yang pernah terjadi pada harimau jawa, harimau bali, dan berbagai spesies lainnya. Untuk itu, kerangka kerja konservasi yang kuat dan komprehensif menjadi sangat penting agar populasi satwa liar benar-benar dapat terlindungi. Upaya ini mencakup penguatan kawasan habitat, penegakan hukum lingkungan yang tegas, serta pemulihan dan restorasi bentang alam yang krusial bagi kelangsungan hidup satwa liar.
Selain itu, pendekatan tersebut perlu dilengkapi dengan integrasi antara konservasi keanekaragaman hayati dan perencanaan ruang hidup manusia yang harmonis. Hubungan antara manusia, satwa liar, dan ekosistem harus dikelola secara berkelanjutan untuk menghindari konflik dan menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus mendukung mata pencaharian masyarakat lokal.
Editor: Abul Muamar
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Membiarkan Hutan Pulih Sendiri sebagai Pendekatan yang Lebih Hemat Biaya
Membingkai Ulang Tata Kelola di Era Kebangkrutan Air
PSN Tebu Merauke: Penggusuran Masyarakat Adat dan Deforestasi yang Berlanjut
Memperkuat Ketahanan di Tengah Ketergantungan yang Kian Besar pada Infrastruktur Antariksa
Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit