Memahami Dampak Kenaikan Suhu terhadap Perkembangan Anak Usia Dini
Foto: Luanda Bauma primo di Pexels.
Fluktuasi suhu bumi membawa dampak langsung bagi seluruh penghuninya. Anak-anak, khususnya, merupakan kelompok yang sangat rentan terhadap peningkatan panas. Lantas, apa saja dampak kenaikan suhu terhadap perkembangan anak usia dini?
Pemanasan Global dan Dampaknya terhadap Anak-Anak
Dari Januari hingga November 2025, suhu udara permukaan rata-rata global tercatat berada pada level 1,48°C di atas tingkat praindustri. Angka ini sangat dekat dengan batas kritis 1,5°C sebagaimana ditetapkan dalam Perjanjian Paris. Jika ditarik ke belakang, Bumi telah mencatat suhu rata-rata 1,45°C di atas tingkat praindustri pada 2023, bahkan melampaui 1,5°C pada 2024. Apabila tren suhu global tetap berada di sekitar—atau lebih buruk, melampaui—batas tersebut, dunia berpotensi memasuki “titik tanpa kembali”.
Dampak kenaikan suhu bersifat luas dan mendalam. Peristiwa cuaca ekstrem, gelombang panas, dan kekeringan, misalnya, turut memengaruhi kesehatan manusia. Anak-anak termasuk kelompok yang paling rentan karena ketahanan fisik mereka yang masih terbatas.
Bagi banyak anak di berbagai belahan dunia, kenaikan suhu bukan lagi ancaman di masa depan, melainkan kesulitan yang telah mereka hadapi setiap hari dan berpotensi merusak masa depan mereka. Hampir 500 juta anak hidup di wilayah yang mengalami jumlah hari panas (di atas 35°C) hampir dua kali lipat dibandingkan 60 tahun lalu. Sebagai contoh, anak-anak di Paraguay kini dapat melalui sekitar 71 hari panas dalam setahun, jauh dibandingkan hanya 36 hari pada masa lalu.
Dampak Kenaikan Suhu terhadap Perkembangan Anak Usia Dini
Sebuah studi dari New York University menunjukkan bukti nyata mengenai ancaman kenaikan suhu terhadap perkembangan anak usia dini. Studi tersebut melibatkan lebih dari 19.000 anak di Gambia, Georgia, Madagaskar, Malawi, Palestina, dan Sierra Leone, dengan menelaah capaian perkembangan mereka dalam literasi, numerasi, keterampilan sosial-emosional, pendekatan belajar, serta perkembangan fisik. Aspek-aspek tersebut digunakan untuk mengukur indikator kesejahteraan seperti kesehatan, pendidikan, sanitasi, dan nutrisi. Data ini kemudian dibandingkan dan dikorelasikan dengan catatan iklim serta suhu maksimum rata-rata bulanan.
Temuan utama studi tersebut menunjukkan dampak nyata kenaikan suhu terhadap perkembangan anak usia dini. Anak-anak yang terpapar hari-hari dengan suhu maksimum di atas 30°C tercatat hampir 7% lebih kecil kemungkinannya untuk mencapai tonggak dasar literasi dan numerasi dibandingkan dengan teman sebaya mereka yang hidup di lingkungan yang lebih sejuk.
Pemanasan global juga meningkatkan risiko heat stress pada anak serta kerentanan terhadap penyakit yang sensitif terhadap suhu, seperti malaria dan demam berdarah. Dampak negatif ini bahkan lebih jelas terlihat pada anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah yang tinggal di wilayah perkotaan dengan akses terbatas terhadap air bersih dan sanitasi. Selain itu, studi tersebut juga menyoroti dampak panas terhadap pertumbuhan fisik anak.
Menjamin Lingkungan yang Aman dan Tangguh Iklim bagi Anak
Mengenali dan memahami dampak luas perubahan iklim yang melampaui isu lingkungan—seperti kesehatan masyarakat dan pembangunan manusia—merupakan hal yang sangat penting. Pemahaman ini dapat menjadi landasan bagi para pembuat kebijakan, lembaga pendidikan, dan institusi publik untuk membangun sistem yang lebih kuat bagi anak-anak di masa tumbuh kembang mereka.
Pemerintah perlu merancang dan menegakkan kebijakan yang mendukung perlindungan lingkungan belajar anak usia dini, meningkatkan infrastruktur komunitas agar tangguh terhadap perubahan iklim, serta memastikan akses yang adil terhadap layanan-layanan dasar.
Sementara itu, orang tua, wali, dan pengasuh dapat mendukung kebutuhan fisik dan emosional anak dalam situasi stres terkait iklim, serta menciptakan ruang yang lebih sejuk dan aman di rumah.
Pada akhirnya, setiap anak yang perkembangannya terhambat oleh planet yang semakin memanas mencerminkan hilangnya potensi masa depan bagi dunia. Melindungi anak-anak hari ini merupakan prasyarat utama bagi masa depan yang berkelanjutan dan berkeadilan bagi semua.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Membiarkan Hutan Pulih Sendiri sebagai Pendekatan yang Lebih Hemat Biaya
Membingkai Ulang Tata Kelola di Era Kebangkrutan Air
PSN Tebu Merauke: Penggusuran Masyarakat Adat dan Deforestasi yang Berlanjut
Memperkuat Ketahanan di Tengah Ketergantungan yang Kian Besar pada Infrastruktur Antariksa
Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit