Mengulik Dampak Pertambangan Liar di Sepanjang Sungai Mekong
Sungai Mekong River di Pak Beng, Laos. | Foto: Parker Hilton di Unsplash.
Sungai Mekong merupakan sumber kehidupan yang sangat penting bagi jutaan orang di enam negara yang dilewatinya. Sungai ini menyediakan sumber daya penting yang dibutuhkan untuk transportasi, pembangkit listrik tenaga air, pertanian, dan perikanan. Namun, pesatnya pembangunan telah mendorong berbagai aktivitas eksploitatif, termasuk pertambangan. Sebuah laporan dari lembaga penelitian yang berbasis di Amerika Serikat mengungkap praktik pertambangan liar skala besar di Sungai Mekong dan anak-anak sungainya, yang mengancam kesehatan dan keselamatan masyarakat lokal serta ekosistem.
Lokasi Pertambangan Liar di Asia Tenggara Daratan
Dengan menggunakan citra satelit, laporan Stimson Center mengungkap adanya lebih dari 2.400 lokasi pertambangan liar dengan metode in situ (unsur tanah jarang), heap leach (emas, tembaga, nikel), dan pertambangan aluvial (emas, perak, timah) di 43 sungai di Myanmar, Laos, dan Kamboja. Operasi pertambangan yang tidak diatur ini berpotensi mencemari air dengan bahan kimia beracun, sehingga menimbulkan risiko kesehatan yang serius bagi masyarakat lokal yang menggantungkan hidupnya pada sungai.
Aktivitas pertambangan liar ini didorong oleh melonjaknya harga emas serta meningkatnya permintaan global terhadap unsur tanah jarang, yang digunakan dalam kendaraan listrik, turbin angin, motor industri, dan robotika. Faktor lain yang turut berperan adalah ekspansi industri pertambangan unsur tanah jarang China ke luar wilayahnya, terutama ke Myanmar. Regulasi yang longgar, tata kelola yang lemah, dan praktik korupsi juga memberi jalan bagi aktivitas pertambangan liar yang telah berlangsung selama lebih dari satu dekade.
Sebagian besar pertambangan liar ditemukan di Myanmar, yakni di 1.885 lokasi dari total 2.419 lokasi yang teridentifikasi. Mayoritas tambang tersebut beroperasi di wilayah yang dikuasai oleh kelompok bersenjata etnis, seperti Negara Bagian Kachin dan Shan. Sementara itu, di Laos, sebagian besar pertambangan liar berada di provinsi-provinsi utara, di sepanjang 13 anak Sungai Mekong serta sungai-sungai yang mengalir dari Laos ke Vietnam. Lonjakan aktivitas ini, khususnya pertambangan unsur tanah jarang, sangat mungkin dipicu oleh lemahnya regulasi kepemilikan lahan. Selain itu, kementerian-kementerian di tingkat nasional memiliki pengawasan yang sangat terbatas terhadap pembangunan dan operasional tambang.
Di Kamboja, lokasi pertambangan aluvial ilegal juga terdeteksi bahkan di dalam Taman Nasional Virachey, yang merupakan habitat bagi spesies-spesies terancam punah. Meskipun kementerian terkait di Kamboja menyatakan komitmennya untuk menindak pertambangan ilegal, kapasitas mereka untuk memantau dan mengatur aktivitas tersebut masih sangat terbatas.
Dampak terhadap Manusia dan Lingkungan
Data Stimson Center menunjukkan bahwa konsentrasi pertambangan tertinggi berada di anak-anak sungai Irrawaddy dan Mekong. Aktivitas pertambangan ini dapat berdampak pada ekosistem sungai, air tanah, serta tanah permukaan. Data tersebut juga memperlihatkan bagaimana pertambangan mengubah bentang alam di sepanjang dasar sungai. Namun demikian, data tersebut belum dapat memastikan sejauh mana dampak yang ditimbulkan dan apakah seluruh aktivitas pertambangan tersebut melepaskan bahan kimia ke dalam sungai.
Meski begitu, pada awal 2025, otoritas pemerintah Thailand melakukan pengujian pencemaran di Sungai Kok dan Sungai Sai, yang berada dekat perbatasan Thailand–Myanmar. Hasilnya menunjukkan adanya kadar arsenik dan logam berat lainnya yang tidak aman. Pencemaran ini diduga kuat berasal dari pertambangan emas liar di Negara Bagian Shan selatan selatan, Myanmar. Arsenik dari Sungai Kok dan Sai—yang bermuara dari Myanmar—juga mengalir ke Sungai Mekong.
Penelitian sebelumnya oleh Stimson juga mencatat bahwa aktivitas pertambangan liar di Myanmar meningkatkan level keparahan dan frekuensi banjir di sepanjang Sungai Sai–Ruak. Selain itu, masyarakat yang tinggal di sekitar Daerah Aliran Sungai Kok mengeluhkan munculnya ruam kulit setelah bersentuhan dengan air sungai. Departemen Pengendalian Polusi Thailand juga melakukan pengujian pada Agustus 2025 di bagian Sungai Mekong di perbatasan Thailand–Laos dan menemukan pencemaran arsenik yang melampaui ambang batas aman nasional.
Mendorong Praktik yang Bertanggung Jawab
Pertambangan liar di Sungai Mekong dan anak-anak sungainya merupakan masalah regional yang berdampak pada kesehatan dan mata pencaharian masyarakat di beberapa negara sekaligus. Investigasi serta pengujian air Sungai Mekong secara menyeluruh dan tepat sangat penting untuk mengungkap sejauh mana tingkat pencemaran akibat aktivitas pertambangan. Dengan demikian, negara-negara di kawasan Mekong dapat mengambil langkah yang lebih tegas, termasuk membawa persoalan ini ke meja perundingan meskipun terdapat ketimpangan kekuatan.
Bagaimanapun, berbagai “temuan” ini seharusnya memicu diskusi yang lebih luas mengenai praktik pertambangan yang bertanggung jawab serta pola konsumsi produk yang menggunakan unsur tanah jarang dan emas, terutama mengingat mineral-mineral kritis ini sangat penting bagi produksi teknologi terbarukan. Oleh karena itu, penguatan kerangka hukum dan kebijakan menjadi krusial untuk memastikan bahwa kegiatan pertambangan beroperasi sesuai dengan standar global terkait dampak lingkungan dan hak asasi manusia. Selain itu, penilaian menyeluruh terhadap seluruh rantai pasok yang terbuka untuk publik juga diperlukan agar masyarakat dapat mengetahui apakah tambang-tambang tersebut melibatkan praktik ilegal atau berdampak negatif terhadap lingkungan dan masyarakat lokal, agar mereka dapat membuat keputusan yang tepat mengenai konsumsi mereka.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Kematian dan Bunuh Diri Anak sebagai Isu Struktural: Kurangnya Pemenuhan Hak Anak
Mengatasi Kesenjangan yang Dihadapi Perempuan di Bidang STEM
Finding Harmony: Pencarian Harmoni dengan Alam di Benak Sang Raja
Mengatasi Eksploitasi di Balik Program Migrasi Tenaga Kerja Sementara
Mewujudkan Kondisi Kerja yang Layak bagi Pekerja Platform
Memetakan Kebutuhan Konservasi Hiu dan Pari secara Global
Insights yang penting. Kudos tim!