Mengulik Kemajuan Teknologi sebagai Pengganti Uji Coba pada Hewan
Foto: Pixabay di Pexels.
Secara historis, kedokteran modern sangat bergantung pada hewan percobaan untuk menguji obat-obatan baru, mengembangkan terapi penyakit, serta menjawab berbagai pertanyaan ilmiah lainnya. Namun, metode ini telah lama dikritik karena menimbulkan penderitaan dan eksploitasi terhadap hewan. Seiring kemajuan teknologi, berbagai inovasi kini terus dikembangkan sebagai alternatif untuk menggantikan uji coba pada hewan.
Perkembangan dan Penghapusan Bertahap Hewan Percobaan
Uji coba pada hewan, atau penggunaan hewan percobaan, merupakan bentuk eksperimen ilmiah yang melibatkan paparan suatu zat atau perlakuan tertentu kepada hewan. Praktik ini umumnya dilakukan di laboratorium, dimana subjek eksperimen mencakup beragam spesies, seperti hewan pengerat, kucing, anjing, primata, domba, burung, ikan, dan lainnya. Ketika uji coba dinyatakan berhasil, dalam arti aman untuk diterapkan pada hewan, penelitian akan dilanjutkan ke tahap berikutnya. Namun, kegagalan uji coba sering kali berujung pada rasa sakit, penderitaan, bahkan kematian hewan yang menjadi objek penelitian.
Data Komisi Eropa yang mencakup 28 negara menunjukkan bahwa pada tahun 2022 saja, sekitar 9,2 persen dari 8,4 juta hewan mengalami gangguan parah dan tekanan berat setelah dijadikan sebagai hewan percobaan dalam penelitian. Akibat penderitaan hewan yang begitu nyata, berbagai organisasi kesejahteraan hewan terus melakukan kampanye dan menyerukan penghentian penggunaan hewan dalam eksperimen ilmiah.
Selain pertimbangan etis, efektivitas uji coba pada hewan dalam dunia medis juga semakin dipertanyakan. Hewan dan manusia memiliki perbedaan biologis yang jauh lebih besar dibandingkan kesamaannya. Oleh karena itu, keberhasilan uji coba pada hewan tidak selalu menjamin keamanan penggunaannya pada manusia. Penelitian menunjukkan bahwa sekitar 89 persen obat gagal dalam uji klinis pada manusia meskipun sebelumnya dinyatakan aman pada hewan, dengan sekitar setengah dari kegagalan tersebut disebabkan oleh masalah toksisitas.
Untuk menjawab persoalan etika dan biologis tersebut, kerangka kerja 3R (Replacement, Reduction, and Refinement) diperkenalkan pada tahun 1959. Meskipun konsep ini dikritik karena belum sepenuhnya meninggalkan hewan percobaan, Organisasi Dunia untuk Kesehatan Hewan (World Organisation for Animal Health / WOAH) telah mengintegrasikan kerangka 3R ke dalam standar penggunaan hewan untuk penelitian dan pendidikan. Konsekuensinya, negara-negara anggota WOAH berkomitmen untuk mengadopsi prinsip 3R dalam kebijakan nasional mereka.
Inovasi Teknologi sebagai Alternatif Pengganti Uji Coba pada Hewan
Salah satu negara yang berkomitmen mengurangi uji coba pada hewan adalah Taiwan. Melalui Undang-Undang Perlindungan Hewan tahun 1998, penerapan kerangka 3R, serta kemajuan teknologi, para pakar dan institusi di Taiwan berhasil menurunkan praktik uji coba pada hewan hingga 9 persen secara nasional dalam satu dekade terakhir. Baru-baru ini, mereka juga mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) ke dalam platform toksikologi prediktif dan teknik pengganti yang mampu mengurangi eksperimen pada hewan antara 50 hingga 100 persen.
Selain itu, pemerintah Taiwan mengalokasikan pendanaan bagi enam universitas mitra untuk menyelenggarakan mata kuliah tentang model alternatif non-hewan. Sekitar 2.600 mahasiswa dari 77 mata kuliah terlibat dalam pengembangan New Approach Methodologies (NAMs), yang mencakup teknologi organ-on-a-chip, pencitraan digital, dan pemetaan tiga dimensi. Perkembangan ini membuka peluang untuk meningkatkan relevansi prediktif dalam uji praklinis obat. Di samping itu, metode-metode ini juga lebih efisien secara biaya dibandingkan uji coba pada hewan.
Hal serupa juga dilakukan oleh Pemerintah Inggris, yang merencanakan pengurangan penggunaan anjing dan primata dalam eksperimen obat untuk manusia setidaknya sebesar 35 persen pada tahun 2030. Hingga akhir 2025, para ilmuwan telah berkomitmen mengganti sel hewan dengan sel manusia dalam sejumlah uji keamanan utama. Seperti halnya Taiwan, pendekatan Inggris juga akan melibatkan penggunaan AI untuk memprediksi keamanan obat-obatan baru.
Menuju Masa Depan Tanpa Eksperimen pada Hewan
Meski demikian, peralihan ini bukannya tanpa hambatan. Sebuah survei di Belanda menemukan bahwa sekitar 71 persen peneliti masih bersikap skeptis terhadap penggantian eksperimen pada hewan. Survei lain di Amerika Serikat juga menunjukkan bahwa 77 persen responden meragukan bahwa NAMs dapat sepenuhnya menjadi pengganti uji coba pada hewan.
Ketidakpercayaan publik terhadap alternatif teknologi dan reliabilitasnya menjadi salah satu penghalang utama. Akibatnya, produsen obat-obatan yang diproduksi secara massal cenderung tetap menggunakan model uji coba berbasis hewan karena dianggap memiliki risiko penolakan paling kecil di pasar global. Pada dasarnya, meskipun tidak ada undang-undang yang secara langsung mengatur praktik uji coba pada hewan, regulasi terkait izin pemasaran sangat memengaruhi penggunaan—atau ketiadaan—alternatif non-hewan.
Oleh karena itu, untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut, transisi yang signifikan menuju penghapusan uji coba pada hewan memerlukan langkah-langkah strategis, seperti penyesuaian regulasi, penyediaan pendanaan yang memadai, serta peningkatan kesadaran publik mengenai hak dan kesejahteraan hewan. Dan yang terpenting, penelitian lanjutan terhadap inovasi alternatif perlu terus didanai, dilakukan, divalidasi, dan didaftarkan guna merumuskan peta jalan yang pada akhirnya mengarah pada penghapusan uji coba pada hewan secara menyeluruh.
Penerjemah:Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.

Menggeser Paradigma: Urgensi Reformasi Hukum Lingkungan di Indonesia
Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan