Mengatasi Kesenjangan yang Dihadapi Perempuan di Bidang STEM
Foto: Kindel Media on Pexels.
Selama ini, kesenjangan dan bias gender berlangsung di banyak aspek kehidupan, tidak terkecuali di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM). Upaya untuk memperluas ruang bagi perempuan di bidang STEM terus ditingkatkan di berbagai belahan dunia, namun kesenjangan masih terus berlanjut. Oleh karena itu, kita perlu membongkar bias gender demi menyediakan kesempatan yang lebih luas dan lingkungan yang lebih aman untuk mendukung perempuan di bidang STEM.
Masih Kurang Terwakili
Secara umum, perempuan saat ini lebih mungkin melanjutkan pendidikan tinggi dibanding laki-laki. Statistik UNESCO berdasarkan data terbaru tahun 2023 menunjukkan bahwa 46% perempuan melanjutkan studi lanjut dalam lima tahun setelah menyelesaikan pendidikan menengah. Sebagai perbandingan, hanya 40% laki-laki yang melakukan hal yang sama.
Namun, meski tingkat partisipasi pendidikannya lebih tinggi, perempuan hanya mencakup 35% lulusan di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM). Perempuan masih kurang terwakili di bidang-bidang yang kerap dianggap sebagai wilayah maskulin, menunjukkan adanya bias gender yang terus membatasi peluang mereka. Secara historis, kontribusi perempuan di bidang STEM pun sering kali tidak diakui.
Tren di Sekolah dan Dunia Kerja
Di banyak negara, kesenjangan gender di bidang STEM sudah tampak sejak masa sekolah. Analisis berdasarkan tes PISA 2015 menunjukkan bahwa di 39 dari 67 negara, anak laki-laki menunjukkan kepercayaan diri yang lebih tinggi dalam mempelajari sains dibanding anak perempuan. Anak laki-laki juga menunjukkan minat yang lebih besar terhadap topik sains yang luas di 51 negara.
Masalah rendahnya kepercayaan diri ini turut disoroti oleh guru biologi dan kimia di Kenya, Edinah Nyakondi. “Banyak siswa memandang sains sebagai sesuatu yang sulit dan (mereka) tidak memiliki dorongan atau motivasi untuk terlibat. Saya berbicara dengan mereka, mendorong mereka, dan memberikan contoh perempuan—termasuk saya sendiri—yang berhasil di bidang sains,” ujarnya, dikutip oleh UNESCO.
Tren serupa terlihat di dunia kerja. Pada 2022, hanya satu dari tiga peneliti di dunia yang merupakan perempuan. Partisipasi perempuan dalam penelitian secara global hanya menunjukkan kemajuan kecil dalam satu dekade, dari 29,4% pada 2012 menjadi 31,1% pada 2022. Selain itu, sektor bisnis memiliki keseimbangan gender terendah dalam ekosistem sains dan inovasi, dengan median global 29,8%.
Mendukung Perempuan di Bidang STEM
Terbatasnya partisipasi perempuan di bidang STEM dapat menghambat potensi kreativitas, inovasi, dan perspektif yang dibutuhkan untuk menciptakan solusi yang lebih inklusif dan berdampak bagi berbagai permasalahan dunia. Oleh karena itu, kita perlu menutup kesenjangan bias gender, mulai dari sekolah hingga dunia kerja untuk meningkatkan kesetaraan gender di bidang STEM.
Salah satu caranya adalah dengan lebih banyak menonjolkan perempuan di bidang STEM—baik suara maupun cerita mereka—di media, seminar, bahkan hiburan. Representasi yang baik dapat membantu anak perempuan membentuk asosiasi positif terhadap bidang ini. Menempatkan lebih banyak guru sains perempuan di sekolah juga bisa menjadi strategi, begitu pula investasi dalam beasiswa, penghargaan, dan insentif lain yang mendukung perempuan di bidang STEM.
Terakhir, menciptakan lingkungan kerja yang aman dan setara adalah kunci untuk menarik dan meningkatkan partisipasi perempuan di bidang ini. Hal ini dapat ditempuh dengan menyediakan jaminan kesetaraan upah dan peluang kepemimpinan, integrasi prinsip kesetaraan gender dalam kebijakan ketenagakerjaan, serta mekanisme perlindungan yang kuat terhadap pelecehan.
Penerjemah:Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Kematian dan Bunuh Diri Anak sebagai Isu Struktural: Kurangnya Pemenuhan Hak Anak
Finding Harmony: Pencarian Harmoni dengan Alam di Benak Sang Raja
Mengatasi Eksploitasi di Balik Program Migrasi Tenaga Kerja Sementara
Mewujudkan Kondisi Kerja yang Layak bagi Pekerja Platform
Memetakan Kebutuhan Konservasi Hiu dan Pari secara Global
Ilusi Besar dalam Laporan Kinerja Iklim Perusahaan