Merangkul Nilai Bisnis Keberlanjutan
Foto: Lily Banse di Unsplash.
Bisnis dapat menjadi penggerak utama pertumbuhan berkelanjutan. Menghasilkan sekitar 70% PDB dunia, bisnis memiliki peluang—sekaligus tanggung jawab—untuk mengejar pertumbuhan ekonomi, setidaknya tanpa menimbulkan ongkos sosial maupun lingkungan. Selain itu, pertumbuhan tersebut seharusnya turut memperkuat ketahanan alam dan seluruh lapisan masyarakat. Untuk mencapai hal tersebut, pengakuan terhadap nilai bisnis keberlanjutan menjadi sangat penting.
Evolusi Keberlanjutan Perusahaan
Keberlanjutan sebenarnya telah lama hadir dalam praktik bisnis, meski belum dalam bentuk seperti yang kita kenal saat ini.
Pada tahap awal, keberlanjutan lebih dipandang sebagai tanggung jawab moral dan sosial. Publikasi Laporan Brundtland (1987) membantu menempatkan isu keberlanjutan dalam perhatian global, dan pada pertengahan 1990-an muncul konsep tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Perusahaan-perusahaan lantas mulai membentuk tim keberlanjutan, hanya saja perannya masih terkotak dan terpisah dari operasi inti.
Pada tahun-tahun berikutnya, keberlanjutan perusahaan mulai berkembang dan menjadi arus utama. Banyak perusahaan berinvestasi pada keahlian internal dengan menunjuk Chief Sustainability Officer. Saat ini, komitmen keberlanjutan juga menjadi perhatian publik dan bagian dari cara perusahaan berinteraksi dengan para pemangku kepentingan, seiring meningkatnya praktik pelaporan terkait keberlanjutan.
Perkembangan ini membuka peluang bagi bisnis untuk menata ulang tata kelola dan aktivitas bisnis dengan menempatkan keberlanjutan sebagai inti. Namun, tantangan kemudian muncul, termasuk biaya untuk memenuhi kewajiban pelaporan. Volatilitas ekonomi global yang meningkat turut menciptakan hambatan baru, yang menandakan perlunya pendekatan yang berbeda.
Nilai Bisnis Keberlanjutan
Gagasan untuk merombak narasi keberlanjutan juga tercermin dalam studi bertajuk “Keberlanjutan di Persimpangan Jalan”, dengan 56% dari 884 pakar mendukung perubahan tersebut. Dalam sebuah laporan, organisasi global BSR dan GlobeScan menjelaskan bagaimana perubahan dapat dilakukan dengan merangkul nilai bisnis keberlanjutan.
Laporan tersebut menegaskan bahwa keberlanjutan bukanlah ongkos, melainkan pendorong nilai. Para pemimpin dan tim perlu memahami bahwa nilai bisnis keberlanjutan memiliki banyak dimensi, sehingga membutuhkan pendekatan yang berbeda dan menghasilkan manfaat yang berbeda pula. Misalnya, penerapan efisiensi energi dapat menghasilkan pengurangan biaya yang terukur, demikian pula integrasi prinsip sirkularitas di seluruh rantai nilai.
Di sisi lain, pelaksanaan uji tuntas yang transparan terhadap dampak lingkungan dan sosial—yang selaras dengan standar pelaporan yang ada—dapat membangun kepercayaan jangka panjang dari pemangku kepentingan dan konsumen. Manfaat ini mungkin tidak mudah diukur, terutama dalam jangka pendek, tetapi mampu meningkatkan ketahanan bisnis dan mengurangi risiko operasional.
Menonjolkan manfaat yang lebih luas, melampaui nilai moneter semata, menjadi penting agar peluang strategis jangka panjang tidak tertutupi oleh bias jangka pendek.
Strategi Transformasi
Setelah pengakuan, langkah berikutnya adalah integrasi. Laporan tersebut menekankan bahwa para pemimpin dan tim dapat memperkuat keselarasan antara bisnis dan keberlanjutan dengan memenuhi kebutuhan transformasi utama. Mengidentifikasi aktor kunci dan memahami prioritas mereka dapat mendorong kolaborasi internal yang lebih kuat, yang kemudian menentukan peluang, ruang lingkup, dan metrik transformasi.
Selain itu, membangun kesadaran interpersonal, termasuk menumbuhkan kepercayaan dan tujuan bersama di dalam perusahaan, juga menjadi kunci. Mewujudkan nilai bisnis keberlanjutan berarti tim harus bersedia memasukkan pendorong nilai yang bersifat nyata maupun tidak berwujud ke dalam proses pengambilan keputusan, agar gambaran upaya yang dilakukan menjadi lebih utuh.
Tentunya, upaya-upaya ini memerlukan pengujian dan evaluasi berkesinambungan, lingkungan yang mendukung, serta kolaborasi dan kemitraan eksternal yang kuat untuk pada akhirnya menghadirkan pertumbuhan berkelanjutan untuk semua.
Penerjemah:Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Meningkatkan Pelindungan Anak di Ruang Digital dengan Pendekatan Tanggung Jawab Bersama
Perempuan dalam Pengelolaan Sampah: Mewujudkan Sirkularitas yang Responsif Gender
Potensi dan Tantangan Biodiversity Credits dalam Penguatan Pembiayaan Keanekaragaman Hayati
Bagaimana Program PLTS 100 GW dapat Mendukung Ketahanan Energi
Kontaminasi PFAS di Amerika Serikat dan Desakan Petani ke Pemerintah
Mengatasi Kemiskinan Waktu di Tengah Meningkatnya Isu Kesehatan Mental