Mewujudkan Sistem Transportasi Inklusif untuk Kehidupan yang Lebih Baik
Foto: Igor Rodrigues di Unsplash.
Di balik hiruk-pikuk manusia di jalanan kota, ada satu sistem penting yang membuat segalanya berjalan: transportasi publik. Ia merupakan sistem vital yang menghubungkan manusia dengan penghidupan, kesempatan, dan ruang hidup yang lebih baik, sehingga kebutuhan akan sistem transportasi inklusif menjadi semakin penting.
Kebutuhan yang Beragam
Layaknya pembuluh darah dalam tubuh manusia, transportasi publik mengalirkan manusia agar kota tetap hidup. Jutaan orang setiap hari naik kereta dan bus untuk bekerja, membangun relasi, dan menjalani berbagai aktivitas yang menopang kesejahteraan mereka. Karena itu, memastikan hadirnya sistem transportasi inklusif yang mampu mengakomodasi kebutuhan beragam warga kota menjadi sangat krusial.
Kebutuhan mobilitas setiap orang dapat berbeda-beda bergantung pada kelompok sosialnya. Perempuan, misalnya, kerap harus melakukan banyak persinggahan dalam perjalanan sehari-hari untuk menjalankan tanggung jawab domestik dan kebutuhan rumah tangga, termasuk mengantar atau menjemput anak. Karena itu, prioritas mereka umumnya terletak pada aspek keamanan, keterjangkauan biaya, dan fleksibilitas layanan.
Sementara itu, infrastruktur yang menghilangkan berbagai hambatan sangat penting bagi penyandang disabilitas dan kelompok lanjut usia, yang memiliki kondisi fisik, emosional, dan psikologis yang beragam. Hal ini mencakup keberadaan jalur landai untuk kursi roda, penunjuk arah dan informasi yang jelas, serta berbagai perangkat bantu lainnya. Selain itu, layanan yang andal dan menghormati pengguna, menjamin keamanan serta kenyamanan fisik juga menjadi kebutuhan utama.
Ketimpangan yang Masih Berlanjut
Sayangnya, sistem transportasi publik kerap gagal memenuhi berbagai kebutuhan tersebut. Sebuah studi di Asia Selatan dan Asia Tenggara menemukan berbagai hambatan yang membatasi mobilitas perempuan, termasuk risiko pelecehan. Jam sibuk secara khusus disebut sebagai periode dengan risiko lebih tinggi terhadap pelecehan fisik dan seksual, yang diperparah oleh minimnya intervensi dari orang-orang sekitar akibat norma patriarkal yang masih kuat. Buruknya sistem transportasi juga memperparah tantangan itu melalui kondisi sesak, keterlambatan, dan kesulitan perpindahan antarmoda.
Kesenjangan aksesibilitas juga membuat penyandang disabilitas enggan bepergian. Di Inggris, misalnya, penyandang disabilitas melakukan perjalanan 38% lebih sedikit dibandingkan mereka yang tidak memiliki disabilitas. Data dari Motability menunjukkan bahwa angka tersebut nyaris tidak berubah selama satu dekade, sejak 2012 hingga 2022. Banyak pula yang melaporkan pengalaman dipermalukan dan diperlakukan tidak hormat saat menggunakan transportasi publik, hingga memicu tekanan mental dan memperburuk kondisi fisik mereka.
Ketiadaan sistem transportasi inklusif semakin memperkuat ketimpangan yang sejak awal sudah mengakar. Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) mencatat bahwa keterbatasan akses transportasi dapat menurunkan peluang perempuan untuk bekerja hingga 16,5%. Pengalaman buruk di transportasi publik juga dapat memunculkan kecemasan dan keraguan pada penyandang disabilitas serta lansia, yang kemudian memengaruhi kemampuan dan keinginan mereka untuk kembali menggunakan transportasi umum. Ketika halte atau stasiun memiliki jarak tempuh berjalan kaki yang jauh dengan trotoar yang tidak rata, ditambah minimnya informasi, jadwal yang tidak pasti, serta perilaku tidak ramah dari sesama penumpang maupun petugas, orang menjadi semakin enggan naik bus atau kereta lagi.
Lebih jauh, ketiadaan transportasi yang aman dan terjangkau juga menghambat anak-anak dan orang muda dari keluarga berpenghasilan rendah untuk mengakses pendidikan, sehingga semakin menjebak mereka dalam lingkaran kemiskinan.
Mendorong Sistem Transportasi Inklusif
Sistem transportasi inklusif dapat membuka jalan bagi masyarakat untuk membangun kehidupan yang lebih baik, baik secara sosial maupun ekonomi. Penggunaan transportasi publik dibandingkan kendaraan pribadi juga semakin penting untuk didorong di tengah melonjaknya emisi gas rumah kaca dari sektor transportasi.
Karena itu, upaya perbaikan sistem transportasi saat ini harus dimulai dengan memahami tantangan dan kebutuhan yang dihadapi oleh berbagai kelompok pengguna. Pengumpulan data tepat waktu melalui survei dan keterlibatan langsung dengan komunitas dapat menjadi dasar untuk merancang intervensi yang tepat sasaran, untuk menghapus hambatan dan memenuhi kebutuhan pengguna.
Selain itu, pemahaman yang lebih baik mengenai tantangan dan kebutuhan di lapangan juga dapat menjadi dasar bagi pemerintah untuk mengalokasikan pendanaan yang lebih besar bagi sistem transportasi inklusif sekaligus menyusun rencana implementasi jangka panjang. Koordinasi yang lebih baik antara pemerintah, pelaku usaha, dan komunitas menjadi benang penghubung yang penting untuk mewujudkan sistem transportasi yang inklusif.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Yang Dibutuhkan untuk Mengarusutamakan Praktik Keberlanjutan di UMKM
Kerindangan sebagai Jalan Keadilan Iklim: Mengapa Jakarta Harus Menanam Banyak Pohon
Mendorong Transformasi Ketenagakerjaan dalam Agenda Ekonomi Hijau
Mengenali Bahaya Psikososial di Tempat Kerja
Seratus Tahun Sir David Attenborough: Suara yang Mengajak Dunia Merayakan dan Memelihara Alam
Menyusutnya Rak-Rak Es Antarktika di Tengah Krisis Iklim