Bagaimana Perubahan Iklim Mengubah Peta Pangan Dunia
Foto: cottonbro studio di Pexels.
Sepanjang sebagian besar sejarah manusia, peta pangan dunia relatif dapat diprediksi. Lahan yang subur memberi makan umat manusia. Musim hujan tiba sesuai waktunya. Lahan yang sama menumbuhkan tanaman yang sama selama bergenerasi-generasi. Kini, peta itu sedang digambar ulang—dan versi barunya jauh lebih keras dan sulit ditebak.
Perubahan Iklim dan Produksi Pangan
Pemanasan global tidak lagi dapat disangkal, dengan rekor suhu yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Bersamaan dengan itu, perubahan iklim membuat musim dingin menjadi lebih ekstrem dan musim kering menjadi lebih panjang.
Bagi peta pangan dunia, perubahan iklim membuat ketidakpastian berlipat ganda. Ia meningkatkan kemungkinan terjadinya panen melimpah maupun gagal panen, sekaligus mengubah pola hasil panen antar musim. Pada gilirannya, perubahan ini mendorong pasar komoditas menuju siklus lonjakan dan keterpurukan yang semakin tajam. Namun, ketidakstabilan hanyalah sebagian dari persoalan. Pergeseran yang lebih mendalam tampak secara geografis. Wilayah-wilayah yang selama ini memberi makan dunia mulai bergeser, sementara kawasan yang paling rentan justru menerima pukulan paling keras lebih dulu.
Sebuah studi Stanford yang diterbitkan dalam jurnal Nature pada Juni 2025 menemukan bahwa setiap kenaikan satu derajat Celsius suhu global mengurangi kapasitas produksi pangan dunia sekitar 120 kalori per orang per hari. Di dunia yang masih bergulat dengan kelaparan, angka itu sangat mengkhawatirkan. Namun, dampaknya menjadi jauh lebih nyata ketika dilihat melalui perubahan pada peta pangan global.
Bergerak ke Utara
Lumbung pangan tradisional seperti kawasan pertanian Amerika Serikat diperkirakan menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak penurunan hasil panen. Sebaliknya, sejumlah wilayah di Kanada, Rusia, dan sebagian Tiongkok mungkin untuk sementara mendapat keuntungan dari kondisi yang lebih hangat.
Studi lain menyebutkan bahwa batas wilayah pertanian bergerak ke arah utara hingga sejauh 1.200 kilometer di beberapa bagian Amerika Utara dan Asia Timur. Pada 2099, sekitar 76% wilayah boreal diperkirakan akan memiliki kondisi yang layak untuk pertanian, dibanding hanya 32% saat ini.
Namun, pergeseran lahan pertanian ke utara dalam peta pangan dunia bukanlah kemenangan sederhana. Wilayah-wilayah yang baru mencair tersebut memiliki lapisan tanah yang tipis, keseimbangan air yang tidak stabil, dan infrastruktur yang terbatas. Selain itu, pengetahuan pertanian dan pembangunan yang terbentuk selama berabad-abad tidak bisa begitu saja dipindahkan ke tempat baru.
Kawasan yang Rentan dan Terancam
Laporan State of Food Security and Nutrition 2025 dari badan-badan PBB memang menunjukkan sedikit penurunan angka kelaparan global. Namun, indikator lain seperti mahalnya harga pangan, malnutrisi, dan ketimpangan antarkawasan masih tetap mengakar kuat. Kemajuan di tingkat statistik besar justru menutupi kemunduran yang terjadi di bawah permukaan.
Lebih dari 87 juta orang kini menghadapi kelaparan di Afrika Timur dan Afrika Selatan, sementara 52 juta orang diperkirakan akan mengalami kerawanan pangan akut di Afrika Barat dan Afrika Tengah pada pertengahan 2026. Ironisnya, kawasan-kawasan ini merupakan wilayah yang paling sedikit menyumbang emisi penyebab perubahan iklim, namun pada saat yang sama mereka juga memiliki sumber daya paling terbatas untuk beradaptasi.
Selain itu, 80% penduduk dunia bergantung hanya pada tiga komoditas utama: jagung, padi, dan gandum. Produksi bahan pangan pokok tersebut terkonsentrasi di sejumlah kecil kawasan lumbung pangan dunia. Karena itu, bila krisis menghantam lebih dari satu kawasan lumbung pangan secara bersamaan, skala gangguan ekonominya bisa sangat besar. Ini bukan lagi skenario masa depan. Inilah sistem pangan global yang sedang bekerja hari ini di bawah tekanan yang terus meningkat.
Hidup dengan Peta Pangan yang Baru
Perubahan iklim sedang menggambar ulang peta pangan dunia. Meski gambaran barunya menghadirkan ancaman serius, situasi ini bukan tanpa harapan. Adaptasi dan mitigasi harus segera dimulai dalam skala yang sepadan dengan besarnya persoalan.
Investasi pada sistem pangan perlu diprioritaskan untuk kawasan yang paling rentan terhadap perubahan iklim. Pendanaan untuk bantuan pangan dan bantuan darurat saat ini sudah jauh dari cukup, sementara pembongkaran program-program seperti USAID menciptakan kekosongan yang berpotensi memperparah kelaparan pada tahun-tahun mendatang jika tidak segera diisi oleh aktor lain.
Pada saat yang sama, pendanaan riset pertanian juga harus diarahkan ke wilayah-wilayah rentan iklim, terutama kawasan yang selama ini menjadi penyangga utama peta pangan dunia. Penelitian perlu segera difokuskan pada diversifikasi pangan dan pengembangan varietas tanaman yang mampu bertahan menghadapi gelombang panas, curah hujan yang tidak menentu, krisis air, dan degradasi tanah.
Terakhir, yang tidak kalah penting adalah kepemimpinan. Pemerintah dan para pembuat kebijakan perlu memperlakukan ketahanan pangan sebagai isu keamanan dalam arti yang seluas-luasnya. Ketimpangan yang terus berlangsung, kelaparan, inflasi harga pangan, dan ancaman terhadap keamanan hayati memiliki potensi untuk berkembang menjadi ketidakstabilan yang lebih luas. Dan pada akhirnya, tidak ada satu negara pun yang benar-benar aman dari dampaknya ketika rantai pasok dunia saling terhubung secara global.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Bagaimana Energi Terbarukan Terdesentralisasi Mendukung Sektor Pertanian di Gambia
Mengulik Kontribusi Pekerja Rumah Tangga bagi Ekonomi Negara Berkembang
Mewujudkan Sistem Transportasi Inklusif untuk Kehidupan yang Lebih Baik
Yang Dibutuhkan untuk Mengarusutamakan Praktik Keberlanjutan di UMKM
Kerindangan sebagai Jalan Keadilan Iklim: Mengapa Jakarta Harus Menanam Banyak Pohon
Mendorong Transformasi Ketenagakerjaan dalam Agenda Ekonomi Hijau