Bagaimana Energi Terbarukan Terdesentralisasi Mendukung Sektor Pertanian di Gambia
Foto: Sheena di flickr.
Pertanian merupakan penopang utama penghidupan masyarakat pedesaan di berbagai belahan dunia, termasuk di Gambia, negara di Afrika Barat dengan luas wilayah sekitar 11.295 kilometer persegi. Namun, produktivitas pertanian di negara tersebut masih dibatasi oleh berbagai persoalan sistemik, terutama keterbatasan akses listrik. Terkait hal ini, energi terbarukan terdesentralisasi (decentralized renewable energy/DRE) muncul sebagai alternatif yang menjanjikan dibanding perluasan jaringan listrik konvensional untuk mendukung sektor pertanian Gambia.
Akses Listrik bagi Sektor Pertanian di Gambia
Gambia dihuni oleh sekitar 2,52 juta penduduk. Masyarakat pedesaannya masih sangat bergantung pada pertanian sebagai sumber penghidupan utama. Berdasarkan sensus 2024, sebanyak 47,2% rumah tangga terlibat dalam kegiatan pertanian untuk memenuhi kebutuhan dasar sekaligus memperoleh pendapatan. Selain sebagai sumber penghidupan masyarakat, sektor pertanian juga menjadi penopang ekonomi nasional dengan kontribusi sekitar 20% terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2024.
Meski mencakup beragam rantai nilai, sektor pertanian Gambia masih sangat bergantung pada pertanian tadah hujan. Ketergantungan ini membuat sektor pertanian rentan terhadap perubahan iklim. Ketika dampak krisis iklim kian memburuk, sektor pertanian Gambia menghadapi produktivitas yang rendah, yang semakin diperparah oleh terbatasnya akses energi, rendahnya kualitas input produksi, dan infrastruktur yang belum memadai secara umum.
Data dari International Renewable Energy Agency (IRENA) menunjukkan bahwa akses listrik di kalangan petani kecil di Gambia sangat bervariasi tergantung lokasi dan komoditasnya. Akses tersebut berkisar antara 48% pada peternak unggas di pedesaan hingga 95% pada petani jagung di kawasan peri-urban. Secara rata-rata, sekitar 75% petani kecil telah memiliki akses listrik. Sekitar 60% terhubung ke jaringan listrik nasional, 38% menggunakan sistem panel surya dengan penyimpanan baterai, dan 2% masih bergantung pada generator diesel. Namun, biaya dan kualitas listrik masih menjadi hambatan utama.
Persoalan ini mencerminkan kondisi umum sistem energi di negara tersebut. Tingkat elektrifikasi Gambia memang menunjukkan kemajuan dan mencapai 73,7% pada 2024. Akan tetapi, perluasan akses itu kerap dibayangi pasokan listrik yang tidak andal akibat keterbatasan kapasitas pembangkitan domestik dan persoalan infrastruktur transmisi. Pada 2024 saja, pasokan listrik nasional Gambia sebesar 561 GWh tidak mampu memenuhi permintaan yang mencapai 662 GWh. Untuk menutup kesenjangan tersebut, pemerintah Gambia bersama berbagai mitra pembangunan tengah memperluas kepadatan jaringan listrik dan memprioritaskan elektrifikasi pedesaan.
Meski demikian, konsumsi listrik di sektor pertanian tetap sangat rendah. Stagnasi ini kemungkinan disebabkan oleh struktur tarif listrik yang, meskipun telah mendapat subsidi silang, masih belum sepenuhnya sesuai dengan kondisi ekonomi para petani. Pada akhirnya, rendahnya penggunaan energi juga mencerminkan minimnya mekanisasi dan terbatasnya aktivitas pengolahan hasil pertanian yang membutuhkan energi besar. Hal ini menunjukkan bahwa akses listrik saja tidak cukup untuk memodernisasi sektor pertanian.
Prospek Energi Terbarukan Terdesentralisasi di Gambia
Energi terbarukan menjadi salah satu pilar utama strategi Gambia untuk memperluas akses energi, meningkatkan ketahanan pasokan, dan mendorong transformasi ekonomi. Negara ini memiliki sumber daya energi terbarukan yang cukup besar, terutama energi surya. Meskipun kontribusi energi terbarukan dalam bauran listrik nasional baru mencapai 13% pada 2024, pemerintah Gambia menargetkan peningkatan hingga 30% pada 2030.
Di Gambia, energi terbarukan terdesentralisasi muncul sebagai alternatif menarik dibanding perluasan jaringan listrik terpusat. Berbeda dengan sistem terpusat yang bergantung pada pembangkit skala besar dan infrastruktur transmisi yang luas, sistem energi terbarukan terdesentralisasi (DRE) menghasilkan dan mendistribusikan listrik secara lokal langsung di titik konsumsi. Model ini sangat sesuai dengan kondisi Gambia karena mampu menghindari hambatan logistik dan biaya tinggi untuk memperluas jaringan listrik nasional ke wilayah terpencil.
Saat ini, pasar teknologi surya di sektor pertanian Gambia tergolong cukup berkembang. Secara khusus, pompa air tenaga surya, sistem pendingin tenaga surya, dan penggilingan berbasis panel surya menawarkan prospek ekonomi yang menarik dengan tingkat pengembalian investasi yang tinggi dan periode balik modal yang relatif singkat. Dengan menyediakan pasokan energi yang lebih andal, sistem energi terbarukan terdesentralisasi juga dapat secara signifikan mengurangi kehilangan hasil pascapanen.
Hambatan Integrasi Energi Terbarukan Terdesentralisasi
Meski demikian, penerapan DRE di sektor pertanian masih menghadapi berbagai tantangan yang terus berulang. Dari sisi permintaan, petani kecil sering kali tidak memiliki daya beli yang cukup untuk berinvestasi pada sistem baru. Persoalan ini diperparah oleh minimnya pengetahuan teknis dan terbatasnya akses terhadap layanan pemeliharaan yang andal, yang pada akhirnya menyebabkan menurunnya kepercayaan terhadap teknologi DRE.
Dari sisi pasokan, pasar masih dibayangi keterbatasan ketersediaan peralatan berkualitas tinggi serta kurangnya teknisi terlatih yang mampu memberikan layanan purnajual. Selain itu, penyedia teknologi kerap tidak memahami secara mendalam kebutuhan spesifik rantai nilai pertanian, sehingga solusi yang tersedia tidak selalu sesuai dengan kebutuhan nyata petani. Berbagai persoalan tersebut semakin diperburuk oleh hambatan sistemik, seperti lemahnya koordinasi kelembagaan, belum adanya standar mutu yang ditegakkan secara konsisten, serta minimnya insentif pemerintah maupun investasi publik.
Secara keseluruhan, pembiayaan tetap menjadi hambatan terbesar. Tingginya biaya investasi awal sistem DRE, ditambah keterbatasan akses kredit dan tingginya suku bunga, membuat integrasi teknologi ini sulit dijangkau oleh sebagian besar petani. Di sisi lain, lembaga keuangan masih enggan menyalurkan pinjaman ke sektor pertanian, terutama di kawasan pedesaan yang akses layanan keuangannya memang terbatas. Meski begitu, kebutuhan terhadap solusi DRE di kalangan petani kecil tetap tinggi, didorong oleh kebutuhan mendesak akan pasokan listrik yang lebih andal dibanding jaringan nasional saat ini.
Rekomendasi untuk Integrasi DRE
Untuk mengatasi berbagai hambatan tersebut, IRENA mengusulkan sejumlah langkah strategis guna meningkatkan kelayakan dan adopsi energi terbarukan terdesentralisasi. Pertama, pemerintah perlu memperkuat mekanisme pembiayaan dan keterjangkauan dengan mendorong bank komersial serta lembaga keuangan mikro untuk mengembangkan produk kredit khusus bagi sektor ini. Perluasan skema penjaminan kredit yang didukung pemerintah untuk investasi DRE di sektor pertanian juga penting untuk mengurangi risiko bagi pemberi pinjaman.
Kedua, pemerintah dan perusahaan energi perlu memperkuat kapasitas teknis dan meningkatkan kesadaran petani kecil maupun tenaga kerja lokal di sektor energi. Kampanye yang menyoroti manfaat ekonomi dan peningkatan produktivitas dari solusi DRE dapat menjadi langkah awal yang baik. Upaya ini perlu dibarengi dengan program pelatihan khusus untuk membekali petani dan teknisi lokal dengan kemampuan mengoperasikan, merawat, dan memperbaiki sistem DRE. Bagaimanapun, meningkatkan kepercayaan petani terhadap teknologi ini tidak cukup hanya dengan pengetahuan yang lebih baik, tetapi juga kepastian bahwa terdapat jaringan dukungan lokal yang kompeten untuk layanan perbaikan.
Terakhir, penguatan dukungan kebijakan dan kelembagaan menjadi faktor krusial bagi integrasi jangka panjang. Pemerintah perlu menerapkan insentif fiskal, seperti potongan atau pembebasan pajak bagi komponen penting DRE untuk menurunkan harga pasar. Untuk melindungi petani dari peralatan berkualitas rendah, standar mutu dan sertifikasi teknis yang ketat bagi perangkat maupun layanan instalasi harus diterapkan. Yang tak kalah penting, DRE perlu diintegrasikan secara sistematis ke dalam perencanaan pertanian nasional agar kebijakan pemerintah benar-benar mendukung ketahanan pangan.
Implikasi Global
Potensi integrasi energi terbarukan terdesentralisasi ke dalam sektor pertanian sesungguhnya tidak hanya di Gambia. Di berbagai negara, pertanian tetap menjadi fondasi penting kehidupan masyarakat sekaligus tulang punggung ketahanan pangan global. Karena sektor ini membutuhkan energi dalam jumlah besar, teknologi DRE menawarkan solusi universal untuk membangun sistem pangan yang lebih tangguh. Dengan penyempurnaan kombinasi antara teknologi yang tepat guna, pembiayaan yang mudah diakses, dan penguatan kapasitas yang memadai, model yang kini berkembang di Gambia dapat menjadi cetak biru bagi komunitas pertanian di seluruh dunia, terutama bagi negara-negara berkembang yang bergantung pada pertanian dan berada di garis depan krisis iklim.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Mengulik Kontribusi Pekerja Rumah Tangga bagi Ekonomi Negara Berkembang
Mewujudkan Sistem Transportasi Inklusif untuk Kehidupan yang Lebih Baik
Yang Dibutuhkan untuk Mengarusutamakan Praktik Keberlanjutan di UMKM
Kerindangan sebagai Jalan Keadilan Iklim: Mengapa Jakarta Harus Menanam Banyak Pohon
Mendorong Transformasi Ketenagakerjaan dalam Agenda Ekonomi Hijau
Mengenali Bahaya Psikososial di Tempat Kerja