Mengulik Kontribusi Pekerja Rumah Tangga bagi Ekonomi Negara Berkembang
Foto: Ojas Raj di Unsplash.
Sebagai makhluk sosial, saling merawat merupakan hal mendasar dari kemanusiaan. Dalam dunia yang kapitalistik, kebutuhan manusia akan perawatan dan pengasuhan lantas melahirkan pekerjaan rumah tangga. Umumnya, pekerjaan ini mencakup membersihkan rumah, memasak, berkebun, hingga menyediakan layanan keamanan pribadi. Namun, dalam banyak kasus, tugas pekerja rumah tangga sangat bergantung pada kebutuhan pemberi kerja, sehingga juga kerap mencakup tugas-tugas lain seperti merawat anak, lansia, dan penyandang disabilitas.
Bagaimanapun, kerja-kerja yang dilakukan oleh pekerja rumah tangga memiliki arti penting bagi perekonomian, termasuk di negara-negara berkembang.
Peluang Kerja
Di luar peran mereka dalam menopang kehidupan rumah tangga, kontribusi besar pekerja rumah tangga terhadap perekonomian global tidak bisa dipandang sebelah mata. Data Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) menunjukkan bahwa pekerja rumah tangga mencakup sekitar 2,3% dari total tenaga kerja global, dengan jumlah mencapai 75 juta orang di seluruh dunia.
Lebih spesifik lagi, sekitar 82% pekerja rumah tangga berada di negara berkembang dan negara dengan ekonomi bertumbuh, terutama karena terbatasnya peluang kerja formal di negara-negara tersebut. Pada saat yang sama, data lain menunjukkan bahwa sebagian besar pekerja rumah tangga migran berasal dari negara berkembang untuk bekerja di negara berpendapatan tinggi, seperti negara-negara Arab dan Asia Timur. Hal ini berarti jasa mereka dibutuhkan baik di tingkat lokal maupun global, dengan negara berkembang menjadi pemasok tenaga kerja rumah tangga terbesar.
Kontribusi Ekonomi
Untuk mengukur nilai kerja domestik, salah satu caranya adalah melihat besarnya remitansi yang dikirim oleh pekerja rumah tangga migran. Menurut Bank Dunia, remitansi ke negara berkembang dari pekerja rumah tangga di seluruh dunia mencapai 466 miliar dolar AS pada 2017. Dari jumlah tersebut, pekerja rumah tangga migran asal Asia-Pasifik saja mengirimkan 256 miliar dolar AS ke negara asal mereka.
Selain berkontribusi terhadap ekonomi nasional, remitansi tersebut juga kerap membantu keluarga mereka keluar dari kemiskinan. Sebuah survei biaya hidup pada 2020 terhadap pekerja rumah tangga migran asal Indonesia dan Filipina di Malaysia menunjukkan bahwa 94% responden rutin mengirim uang ke kampung halaman untuk menopang anggota keluarga yang menjadi tanggungan. Hampir separuh pekerja asal Filipina bahkan mampu menanggung kebutuhan lima anggota keluarga atau lebih di negara asal mereka.
Selain itu, survei lain terhadap pekerja rumah tangga perempuan asal Indonesia yang bekerja di Singapura menunjukkan bahwa mereka mengirim rata-rata 55% dari pendapatan bulanan mereka ke kampung halaman. Remitansi tersebut digunakan untuk membiayai pendidikan anak, investasi tanah, layanan kesehatan, hingga pembayaran utang. Sebagai informasi, remitansi ke Indonesia pada 2024 mencapai sekitar 15 miliar dolar AS dan menyumbang sekitar 1,1% terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional.
Perjuangan dan Tantangan
Sayangnya, besarnya kontribusi pekerja rumah tangga tidak sebanding dengan kondisi ekonomi dan tingkat keamanan yang mereka hadapi. Situasi ini terutama dialami pekerja rumah tangga perempuan yang mendominasi sektor tersebut, yakni sekitar 76,2% dari total tenaga kerja domestik.
Sebagai contoh, lebih dari 77% pekerja perawatan perempuan di Amerika Latin—wilayah dengan jumlah pekerja rumah tangga terbesar setelah Asia Tenggara dan Pasifik—bekerja dalam hubungan kerja informal. Kondisi ini memperkecil peluang mereka memperoleh kompensasi yang layak atas pekerjaan mereka. Situasi tersebut semakin diperburuk oleh kesenjangan upah berbasis gender yang masih membayangi pekerja perempuan. Tidak hanya memperoleh upah yang lebih rendah dibanding pekerja laki-laki, banyak pekerja rumah tangga perempuan di Amerika Latin hidup di bawah garis kemiskinan.
Pekerja perawatan perempuan juga rentan mengalami pelecehan. Lingkungan kerja yang berada di ranah privat membuat mereka lebih mudah mengalami kekerasan dan eksploitasi karena ketimpangan relasi kuasa. Mereka rentan menghadapi diskriminasi, kekerasan fisik, hingga menjalani jam kerja berlebihan.
Regulasi untuk Perlindungan
Untuk memperbaiki kondisi kerja yang rentan tersebut, ILO berupaya mendorong pekerjaan layak bagi pekerja rumah tangga melalui pengesahan Konvensi Pekerja Rumah Tangga (No. 189) pada 2011. Konvensi ini mencakup hak atas pekerjaan yang adil, kondisi kerja yang aman, jaminan sosial, serta perlindungan dari kekerasan oleh pemberi kerja maupun agen perekrut. Konvensi ini juga merekomendasikan kerjasama bilateral antarnegara dan mekanisme pemulangan bagi pekerja migran.
Hingga Juni 2025, konvensi tersebut telah diratifikasi oleh 40 negara dan berlaku di 38 negara. Beberapa di antaranya merupakan negara berkembang dengan jumlah pekerja rumah tangga yang cukup besar.
Indonesia sendiri telah mengesahkan undang-undang nasional untuk melindungi pekerja rumah tangga pada April 2026. Undang-undang ini menjamin sedikitnya 14 hak pekerja rumah tangga, termasuk jaminan kesehatan dan sosial, upah serta akomodasi yang layak, dan lingkungan kerja yang aman.
Contoh baik dapat dilihat di Uruguay. Pemerintah negara tersebut memberikan perlindungan kesehatan dan pensiun bagi seluruh pekerja rumah tangga perempuan. Selain itu, Uruguay menjadi negara pertama yang memiliki Sistem Perawatan Nasional yang mengakui pentingnya keberadaan pekerja rumah tangga dalam merawat kelompok yang membutuhkan pendampingan.
Pekerjaan yang Layak untuk Pekerja Rumah Tangga
Langkah hukum untuk melindungi pekerja rumah tangga merupakan fondasi penting. Namun, perlindungan tersebut memerlukan penegakan yang tegas dan tindak lanjut nyata. Berbeda dengan pekerjaan formal di perusahaan, pekerjaan rumah tangga berlangsung dalam ruang privat, di mana pekerja sering direkrut secara informal tanpa kebijakan internal yang jelas mengenai perlakuan terhadap mereka.
Karena itu, pemerintah perlu mengidentifikasi faktor-faktor lain yang mendorong praktik kerja informal dan ketidakpatuhan terhadap aturan. Memberikan literasi hukum dan keuangan kepada pekerja rumah tangga maupun calon pekerja rumah tangga juga merupakan langkah penting. Dengan dukungan dan perlindungan, pekerja rumah tangga memiliki peluang yang lebih besar untuk meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri sekaligus terus berkontribusi terhadap perekonomian nasional.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Mewujudkan Sistem Transportasi Inklusif untuk Kehidupan yang Lebih Baik
Yang Dibutuhkan untuk Mengarusutamakan Praktik Keberlanjutan di UMKM
Kerindangan sebagai Jalan Keadilan Iklim: Mengapa Jakarta Harus Menanam Banyak Pohon
Mendorong Transformasi Ketenagakerjaan dalam Agenda Ekonomi Hijau
Mengenali Bahaya Psikososial di Tempat Kerja
Seratus Tahun Sir David Attenborough: Suara yang Mengajak Dunia Merayakan dan Memelihara Alam