Mengintegrasikan Pertanian dalam Permukiman Perkotaan dengan Konsep Agrihood
Foto: Matt Baker di Unsplash.
Pesatnya pertumbuhan penduduk perkotaan dapat mengancam kualitas hidup jika tidak disertai dengan perencanaan yang matang, termasuk soal isu ketahanan pangan. Untuk menjawab persoalan ini, para perencana kota mulai mengembangkan agrihood, yakni konsep kawasan permukiman berbasis pertanian, di wilayah perkotaan.
Permukiman Penghasil Pangan
Agrihood merupakan integrasi antara kawasan hunian dan praktik pertanian di dalam lingkungan permukiman. Pada dasarnya, agrihood adalah model komunitas terencana yang memadukan berbagai fungsi terkait pertanian.
Pengembangan agrihood termasuk dalam praktik pertanian perkotaan. Model ini menawarkan solusi yang layak untuk mengatasi kerawanan pangan di kota, terutama ketika alih fungsi lahan pertanian menjadi perumahan terus berlanjut dalam laju yang sangat cepat. Agrihood dapat meningkatkan akses terhadap pangan, khususnya bagi warga perkotaan berpendapatan rendah yang selama ini kesulitan memperoleh makanan segar dan sehat. Kehadiran tanaman di tengah komunitas kota juga mampu memperbaiki kualitas udara sekaligus berfungsi sebagai ruang hijau perkotaan.
Selain itu, keterlibatan langsung masyarakat dalam mengelola lahan pertanian membuka peluang untuk mempererat hubungan sosial antarwarga. Metode pertanian yang diterapkan pun beragam, mulai dari kebun kecil dengan bedeng tanam hingga pertanian skala industri, bergantung pada bagaimana komunitas berinteraksi dengan aktivitas produksi pangan.
Fasilitas pendukung lainnya, seperti titik penjualan hasil panen, juga bersifat fleksibel. Sarana ini menjadi penghubung antara produk pertanian dan warga, baik dalam bentuk skema community-supported agriculture (CSA), restoran lingkungan, maupun pasar tani lokal.
Perkembangan dan Implementasi Agrihood di Berbagai Negara
Di Amerika Serikat, sekitar 73% agrihood dikembangkan sejak 2014. Laporan Urban Land Institute tahun 2018 menunjukkan bahwa model ini menjadi tren yang terus tumbuh dalam industri properti karena meningkatnya minat masyarakat terhadap pangan alami, sekaligus karena kegiatan pertanian membuat lahan menjadi lebih produktif.
Sementara itu di Brasil, para perencana kota dari perusahaan Pentagrama Projetos em Sustentabilidade e Regeneração, bersama program BioCidades Empreendedoras dari United Nations Environment Programme, merancang program untuk mendukung 50 wirausahawan yang mengembangkan solusi ketahanan iklim perkotaan di São Paulo dan Curitiba.
Direktur Utama Pentagrama, Marcia Mikai, bersama timnya membangun model yang memungkinkan pemulihan lahan terdegradasi melalui agrihood. Ia menggabungkan praktik kehutanan berkelanjutan dengan ruang multifungsi untuk tujuan edukasi. “Model ini menghemat air, melindungi keanekaragaman hayati, dan memungkinkan masyarakat mengonsumsi pangan lokal,” ujarnya.
Kolaborasi untuk Keberlanjutan Agrihood
Peran perencana kota sangat penting dalam memperkuat kesehatan perkotaan melalui agrihood. Namun, pengembangan model ini juga membutuhkan dukungan ilmuwan dan peneliti, misalnya untuk melakukan kajian komparatif terhadap kualitas hidup sebelum dan sesudah agrihood dibangun.
Jika hasilnya menunjukkan dampak positif, temuan tersebut dapat menjadi dasar rekomendasi untuk mengintegrasikan lebih banyak aktivitas pertanian ke dalam ruang kota. Mengingat industri properti sudah mulai memadukan hunian dengan akses terhadap lahan pertanian, para pembuat kebijakan juga perlu merespons perkembangan ini. Keterlibatan pemerintah menjadi keharusan, baik dalam pengawasan perizinan, penetapan zonasi permukiman, maupun pemberian subsidi kepada masyarakat.
Penerjemah:Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Kapitalisme Bukanlah Takdir: Membaca Clara Mattei di Tengah Kelelahan Kolektif
Meningkatkan Pelindungan Anak di Ruang Digital dengan Pendekatan Tanggung Jawab Bersama
Merangkul Nilai Bisnis Keberlanjutan
Perempuan dalam Pengelolaan Sampah: Mewujudkan Sirkularitas yang Responsif Gender
Potensi dan Tantangan Biodiversity Credits dalam Penguatan Pembiayaan Keanekaragaman Hayati
Bagaimana Program PLTS 100 GW dapat Mendukung Ketahanan Energi