Risiko Penumpukan Limbah Panel Surya di Tengah Transisi Energi, Bagaimana Mengatasinya?
Foto: Markus Spiske di Unsplash.
Permintaan global akan energi terbarukan terus meningkat di tengah upaya transisi energi. Bersamaan dengan itu, tenaga surya menjadi salah satu penggerak utama upaya dekarbonisasi sekaligus memperluas akses energi di seluruh dunia. Kini, semakin banyak negara memasang panel surya, memanfaatkan energi matahari melalui teknologi fotovoltaik. Namun, masa pakainya yang terbatas juga menimbulkan tantangan yang semakin besar terkait limbah panel surya (limbah fotovoltaik).
Tren Global Timbulan Limbah Panel Surya dan Risiko yang Semakin Meningkat
Didorong oleh pesatnya ekspansi kapasitas tenaga surya terpasang, timbulan limbah panel surya global diperkirakan meningkat secara signifikan dalam beberapa dekade mendatang. Pemasangan panel surya secara global telah melampaui 100 gigawatt per tahun sejak 2020. Pada 2025, misalnya, Afrika saja mencapai kapasitas tenaga surya sebesar 4,5 GW. Secara global, kapasitas ini diperkirakan mencapai antara 8.703 GW hingga 24.544 GW pada 2060 dalam berbagai skenario pertumbuhan.
Namun, siklus hidup panel surya tidak berhenti setelah pemasangan. Rata-rata umur pakai modul fotovoltaik adalah 25–30 tahun. Jika prediksi tersebut benar, timbulan limbah panel surya global akan mencapai puncaknya antara tahun 2030 dan 2060. Dari sekitar 20.000 ton per tahun pada 2020, jumlahnya akan meningkat menjadi setengah juta ton per tahun pada 2030. Jumlah tersebut bahkan dapat melampaui 19 juta ton pada tahun pada 2060. Secara kumulatif, limbah panel surya dapat mencapai 402 juta ton pada 2060.
Seiring bertambahnya jumlah panel surya yang mencapai akhir masa pakainya, pemahaman mengenai dampak lingkungan yang berkaitan dengan produksi panel surya dan pengelolaan di akhir masa pakainya menjadi semakin penting. Modul fotovoltaik mengandung sejumlah unsur yang berpotensi berbahaya, seperti timbal, tembaga, kadmium, dan silikon. Pelepasan unsur-unsur tersebut dan paparan yang ditimbulkannya dapat menimbulkan risiko serius bagi kesehatan manusia. Pembuangan yang tidak semestinya juga dapat menyebabkan pencemaran lingkungan, terutama melalui pelindian logam berat beracun ke dalam tanah dan air tanah.
Memperbaiki, Menggunakan Kembali, dan Mendaur Ulang
Daur ulang yang efektif sangat penting untuk mengurangi risiko yang muncul pada akhir siklus hidup panel surya. Selain berperan dalam melindungi lingkungan, daur ulang limbah panel surya juga dapat membantu memulihkan bahan baku kritis yang dibutuhkan untuk membangun lebih banyak pembangkit listrik.
Namun, daur ulang tidak seharusnya menjadi satu-satunya pilihan dalam mengelola panel surya yang telah mencapai akhir masa pakainya. Penggunaan kembali dan perbaikan dapat menjadi pilihan pelengkap, terutama bagi modul yang masih berfungsi, dengan memperpanjang masa pakainya. Secara realistis, adopsi penggunaan kembali yang lebih luas saat ini masih terkendala oleh kinerja yang tidak konsisten, kekhawatiran mengenai keandalan, serta rendahnya kepercayaan pasar terhadap modul bekas.
Oleh karena itu, strategi sirkular yang efektif harus mengintegrasikan seluruh pilihan yang tersedia. Mengurangi timbulan limbah panel surya harus menjadi prioritas pertama. Penelitian dan pengembangan lebih lanjut dalam perbaikan, rekondisi, dan pengujian kinerja dapat menghasilkan panel surya yang lebih tahan lama. Upaya ini juga dapat membantu mewujudkan sistem yang lebih layak secara ekonomi dan berkelanjutan melalui pemanfaatan fotovoltaik untuk penggunaan tahap kedua (second-life).
Selanjutnya, industri perlu memprioritaskan penggunaan kembali modul yang secara teknis masih layak. Terakhir, daur ulang diperuntukkan bagi modul yang telah mencapai akhir masa fungsionalnya. Pendekatan terintegrasi ini dapat mendukung terciptanya sistem fotovoltaik sirkular yang lebih tangguh, hemat biaya, dan inklusif.
Mewujudkan Pengelolaan Limbah Panel Surya yang Tangguh
Efektivitas sistem pengelolaan limbah panel surya yang ada saat ini masih belum pasti karena terdapat perbedaan besar antarnegara dan kawasan dalam hal kondisi sosial-ekonomi, struktur rantai pasok, sejarah pengembangan fotovoltaik, kerangka kebijakan, serta kemampuan teknologi. Faktor-faktor tersebut juga kemungkinan akan mengalami perubahan signifikan di masa mendatang sebagai respons terhadap target iklim, keterbatasan mineral kritis, tren pengembangan energi surya, dan perkembangan kebijakan. Oleh karena itu, mengevaluasi pengelolaan limbah panel surya di berbagai kawasan dengan karakteristik berbeda serta dalam berbagai skenario masa depan yang masuk akal menjadi penting untuk mengembangkan solusi yang efektif dan berkeadilan secara global.
Regulasi yang lebih ketat mengenai perdagangan limbah internasional dan ketidakpastian geopolitik semakin menegaskan perlunya kerja sama lintas kawasan yang transparan dan terstandardisasi dalam daur ulang modul fotovoltaik. Mekanisme semacam ini dapat mengurangi risiko lingkungan dan kesehatan yang terkait dengan pengolahan informal, sekaligus mendorong harmonisasi standar dan mempermudah pertukaran data. Secara bersama-sama, berbagai langkah tersebut dapat berkontribusi pada terbentuknya kerangka tata kelola global yang lebih terkoordinasi dan efektif untuk pengelolaan limbah panel surya.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Panduan Mutakhir untuk Transparansi dan Akuntabilitas Keberlanjutan
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam: Merenungi Kebakaran Hutan dan Lahan yang Terus Berulang
Mewaspadai Intrusi Air Asin di Tengah Krisis Air Global
Overtourism dan Terusirnya Masyarakat Lokal dari Rumah Sendiri
Kemerdekaan, Ekonomi Biru, dan Jalan Indonesia Mencapai SDGs
Mengapa Dunia Masih Belum Mencapai Perjanjian Plastik Global