Menghentikan Maternal Buffering: Keberlanjutan Harus Dimulai dari Isi Piring yang Setara
Ilustrasi: Irhan Prabasukma.
Keberlanjutan (sustainability) kerap diperbincangkan dalam koridor makro: transisi energi, ekonomi sirkular, mitigasi emisi karbon, hingga rantai pasok industri global yang ramah lingkungan. Namun, orang-orang sering lupa bahwa unit terkecil dari sebuah ekosistem peradaban bukan berada di pabrik atau korporasi, melainkan di dalam ruang domestik: keluarga. Jika keberlanjutan global menuntut kita untuk berhenti mengeksploitasi sumber daya alam hingga ke titik nadir, mengapa di ruang-ruang makan banyak keluarga masih lestari bentuk eksploitasi paling purba yang dibungkus romantisisme pengorbanan biologis seorang ibu?
Dalam khasanah neurosains dan attachment theory, Regina Sullivan meneliti regulasi stres pada mamalia, termasuk manusia. Hasil penelitiannya menemukan bahwa terdapat fenomena neurobiologis dan perilaku di mana kehadiran, sentuhan, atau responsivitas pengasuh utama (yang secara historis didominasi oleh ibu) mampu meredam respons stres fisiologis (seperti lonjakan hormon kortikosteron dan detak jantung) pada anak ketika menghadapi situasi menantang atau ancaman. Hal ini disebut dengan maternal buffering.
Maternal Buffering: Ketika Tubuh Perempuan Dijadikan Peredam Krisis
Di banyak keluarga, termasuk kelas menengah yang secara literasi gizi dan finansialnya sudah mapan, sebuah pemandangan lumrah kerap terjadi: asupan nutrisi ibu dan anak perempuan sering tidak seimbang dengan yang dinikmati oleh ayah dan anak laki-laki. Saya menyoroti secara khusus kelas menengah yang memiliki paparan digital, akses terhadap literatur kesehatan preventif, media sosial, dan kampanye nasional (seperti pencegahan stunting) yang relatif tinggi.
Secara umum, istilah protein hewani, asam folat, dan gizi seimbang adalah hal yang akrab ditemui di berbagai sumber informasi fisik atau pun maya. Namun, memiliki pengetahuan (literacy) nyatanya tidak serta-merta meruntuhkan norma kultural (habitus). Meskipun tahu bahwa ibu membutuhkan asupan gizi yang setara, tekanan norma gender untuk menjadi ibu yang berkorban seringkali lebih kuat mengendalikan perilaku harian dibandingkan pengetahuan ilmiah yang mereka miliki. Inilah letak ironinya.
Masyarakat kita gemar melabeli perilaku ini sebagai puncak dari kasih sayang dan ketulusan ibu yang sempurna. Dalam lensa sosiologi ekonomi, kesehatan publik, dan perencanaan keuangan keluarga, fenomena maternal buffering tidak semata-mata perkara neurosains. Istilah ini telah bergeser menjadi pengorbanan biologis (dalam hal ini pemenuhan kebutuhan pangan) yang dilakukan ibu untuk melindungi anggota keluarga lain dari kekurangan. Tubuh dan kesejahteraan perempuan secara sistemik diposisikan sebagai shock absorber (bantalan peredam) penatnya beban domestik dan kerentanan pangan.
Dari sudut pandang Certified Financial Planner (CFP), membiarkan hal ini terjadi adalah bentuk salah kelola modal manusia (mismanagement of human capital). Ibu adalah key person risk utama dalam sebuah rumah tangga. Membiarkan pusat kendali ini mengalami Maternal Depletion Syndrome akibat pengorbanan yang keliru adalah keputusan finansial dan manajerial yang buruk.
Mempertanyakan Ulang Keberlanjutan Sosial melalui Lensa SDGs
Bagaimana kita bisa berbicara tentang social sustainability dan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) jika fondasi biologis dan mental yang menyangga unit sosial terkecil justru dibiarkan mengalami penipisan kronis? Persoalan ini berkaitan erat dengan tiga pilar SDGs utama:
- SDG 2 (Tanpa Kelaparan): Memastikan kecukupan mikronutrien dan memutus rantai malnutrisi tersembunyi (hidden hunger) di level domestik, dengan menempatkan ibu dan anak perempuan sebagai prioritas asupan gizi.
- SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera): Menjaga kesehatan preventif pengelola utama keluarga guna menurunkan risiko penyakit metabolik dan kelelahan kronis.
- SDG 5 (Kesetaraan Gender): Menghapuskan diskriminasi struktural di ruang privat dengan menghentikan budaya berkorban sepihak.
Merujuk pada serial The Lancet mengenai Gizi Ibu dan Anak, banyak negara berpendapatan rendah dan menengah, termasuk Indonesia, terjebak dalam beban ganda malnutrisi (double burden of malnutrition), yaitu terus berlangsungnya stunting dan defisiensi nutrisi esensial yang berdampingan dengan lonjakan obesitas pada perempuan dan anak.
Di tingkat domestik, maternal buffering yang dipadukan dengan paradoks kelas menengah ini memperparah penipisan epigenetik generasi. Ibu yang mengalami deplesi kronis melahirkan anak dengan reduksi kapasitas kognitif, sementara anak laki-laki tumbuh menjadi individu yang gagap urusan domestik.
Ambidextrous Gender Trajectory di Ruang Domestik
Untuk merombak ulang trayektori peran gender, kita memerlukan pisau analisis ambideksteritas sebagai kemampuan untuk menyeimbangkan dua hal yang tampak bertentangan secara simultan.
- Trajektori Laki-Laki (Suami & Anak Laki-Laki): Harus ambidextrous ke arah kelompok.
Laki-laki harus didorong untuk ambidextrous: mengejar kompetensi individu, namun memiliki kesadaran kolektif yang tinggi untuk aktif memikul beban tata kelola rumah tangga, bukan seperti tamu istimewa yang tinggal dilayani. - Trajektori Perempuan (Ibu & Anak Perempuan): Harus ambidextrous ke arah kedaulatan diri (self).
Perempuan harus bergeser secara ambidextrous: tetap menjalankan peran pengasuhan, namun dengan sengaja mencondongkan titik tumpunya untuk mendaulat diri sendiri, menempatkan kesehatan, nutrisi, dan batas diri (boundaries) di posisi paling depan tanpa rasa bersalah.
Keberlanjutan sejati tidak lahir dari jargon elitis, melainkan dimulai dari keadilan distribusi di tingkat domestik. Sudah saatnya kita mendekonstruksi mitos bahwa ibu yang baik adalah ibu yang menderita. Jika adegan harian seorang ibu yang menyisihkan porsi terbaiknya untuk suami dan anak-anak terus dinormalisasi tanpa penegakan trayektori ambideksteritas gender, kita sedang menabung sebuah distopia biologis.
Ibu harus mempraktikkan nutritional selfishness. Selfish akar katanya self, diri. Ini bukan egoisme moral, melainkan sebagai kedaulatan diri (self-sovereignty). Ibu harus menjadi orang pertama di rumah yang tercukupi nutrisinya dan terjaga dengan baik kesehatannya. Begitu pula anak perempuan, yang dipersiapkan sebagai penjaga rantai biologis masa depan.
Keberlanjutan dari Isi Piring yang Setara
Menghentikan maternal buffering bukan sekadar urusan diet keluarga. Ini adalah manifesto politik domestik dan tata kelola risiko keuangan jangka panjang. Masa depan yang berkelanjutan tidak akan pernah terwujud jika dibangun di atas kelelahan sistemik para perempuan penopangnya.
Mengabaikan keadaan darurat ini ibarat melanggar hukum mutlak keselamatan kabin pesawat: mengenakan masker oksigen pada diri sendiri terlebih dahulu sebelum menolong orang lain. Prinsip yang sama berlaku di ruang makan kelas menengah. Ibu adalah pusat gravitasi dan key person risk dalam ekosistem rumah tangga. Membiarkan pusat kendali ini kolaps secara metabolik dan mental bukanlah pengorbanan mulia, melainkan bunuh diri sistemik. Ketika mesin penggerak utama runtuh, peradaban dari unit terkecil tidak akan mampu bertahan, dan ini akan melahirkan lingkaran setan di mana perempuan terjerat obesitas metabolik akibat konsumsi sisa berkualitas rendah sementara generasi penerusnya gagal tumbuh secara optimal.
Sebagaimana kita menuntut transparansi dalam rantai pasok global, sudah saatnya keadilan yang sama juga harus hadir di meja makan setiap keluarga.
Editor: Abul Muamar
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.
Ike Noorhayati adalah Praktisi dan Peneliti Doktoral dengan Fokus Riset Ambideksteritas Organisasional (Organizational Ambidexterity) di Sekolah Interdisiplin Manajemen dan Teknologi (SIMT), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Seksisme yang Terus Berlanjut terkait Pakaian Olahraga Perempuan
Sejauh Mana Potensi Pengomposan untuk Menyelamatkan Bumi?
Mengintegrasikan Kesehatan Mental ke dalam Kebijakan Lingkungan
Kenaikan Suhu Melampaui 1,5°C di Depan Mata, Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Dari Gelombang Panas Eropa hingga Banjir Himalaya: Bagaimana Risiko Iklim Bersifat Lintas Batas
Bagaimana Perubahan Iklim Memperparah Polusi Suara