Menilik Masalah Air Limbah Tekstil yang Terus Berkembang
Foto: Iman Gholamiyan di Pexels.
Industri fesyen merupakan salah satu industri terbesar di dunia dan penggerak perekonomian global. Namun, industri ini juga terkenal karena banyaknya limbah yang dihasilkan di sepanjang rantai nilainya. Yang paling terlihat adalah gunungan pakaian yang tidak terpakai, seperti di Gurun Atacama. Namun, ada pula persoalan yang kurang terlihat pada tahap awal produksi, yaitu air limbah tekstil. Seiring peningkatan produksi di industri fesyen dan tekstil, dampak yang ditimbulkannya pun semakin besar.
Fast fashion merupakan salah satu pendorong utama persoalan ini. Model bisnisnya bertumpu pada produksi barang berharga murah yang dirancang untuk mengikuti tren yang cepat berubah. Mulai dari merek yang kurang dikenal hingga merek seperti Shein, Temu, Zara, dan H&M, perusahaan-perusahaan ini memproduksi ribuan produk fesyen untuk setiap tren mikro (microtrend) dengan sangat cepat, sehingga menormalisasi budaya pakaian sekali pakai. Siklus yang berlangsung cepat—mulai dari produksi dan pembelian hingga pemakaian dan pembuangan—semakin memperparah persoalan.
Industri Besar dengan Jejak Lingkungan yang Besar
Industri fesyen merupakan penghasil limbah terbesar kedua setelah industri minyak. Pada tahap awal produksi, prosesnya mencakup pembuatan bahan tekstil yang diperlukan untuk menghasilkan pakaian, sepatu, dan tas. Industri tekstil bahkan memproduksi bahan untuk berbagai keperluan di luar fesyen, seperti pelapis furnitur, kain kasa, dan pakaian pelindung. Ragam penggunaannya sangat luas, tetapi jejak lingkungannya juga sangat besar.
Air digunakan di setiap tahap, mulai dari penyiapan bahan baku dan pewarnaan hingga pencucian kain. Semua proses ini menghasilkan limbah cair dalam jumlah besar. Air yang dibutuhkan untuk proses pewarnaan saja cukup untuk mengisi dua juta kolam renang ukuran Olimpiade setiap tahun. Proses pewarnaan ini menghasilkan sekitar 280.000 ton air limbah tekstil per tahun. Secara keseluruhan, industri tekstil diperkirakan menyumbang 20% dari total air limbah industri global, setara dengan kebutuhan air tahunan 110 juta orang.
Air limbah tekstil mengandung zat beracun, seperti pewarna, logam berat, surfaktan, dan senyawa organik yang sulit terurai. Jika dibuang ke sungai dan badan air tanpa pengolahan yang memadai, polutan ini dapat merusak ekosistem serta membahayakan kesehatan manusia. Paparan air limbah tekstil dapat menyebabkan alergi, dermatitis, iritasi kulit, bahkan kanker.
Air Limbah Tekstil di Berbagai Negara
China sendiri, produsen tekstil terbesar di dunia, membuang lebih dari 2,5 miliar ton air limbah tekstil setiap tahun. Negara-negara lain yang berkontribusi besar terhadap industri tekstil global antara lain Bangladesh, Sri Lanka, Vietnam, dan India. Meskipun sektor tekstil mendorong penyerapan tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi nasional di negara-negara berkembang tersebut, pengelolaan air limbah tekstil belum mampu mengimbangi pertumbuhan industrinya.
Bangladesh, misalnya, merupakan eksportir garmen terbesar kedua di dunia setelah China. Negara ini menguasai hingga 6,8% pasar ekspor tekstil global. Namun, sebuah studi pada 2014 menemukan bahwa hanya 61% fasilitas yang memiliki instalasi pengolahan air limbah tekstil.
Sektor tekstil Vietnam juga berkembang pesat, diiringi tantangan lingkungan yang semakin besar. Di pusat-pusat industri tekstil seperti Thanh Dien dan Ly Nhan, terdapat laporan bahwa air limbah tekstil yang tidak diolah dibuang langsung ke badan air.
Sementara itu, Sungai Citarum di Indonesia, yang di sepanjang alirannya terdapat lebih dari 2.000 pabrik tekstil, disebut sebagai salah satu sungai paling tercemar di dunia. India menghadapi persoalan serupa. Pabrik-pabrik daur ulang tekstil di Kota Panipat membuang air limbah tekstil yang tidak diolah ke Sungai Yamuna. Sementara itu, tanaman pangan di Benggala Barat mengandung logam dalam kadar berlebihan karena diairi dengan air yang tercemar air limbah tekstil.
Pendekatan yang Lebih Cermat terhadap Industri Fesyen
Ketersediaan bahan baku dan tenaga kerja, ditambah sifat dunia fesyen yang terus berubah, telah mendorong pesatnya pertumbuhan industri tekstil di banyak negara berkembang. Yang mengkhawatirkan, pertumbuhan ini terus melampaui kapasitas pengelolaan limbahnya. Karena itu, intervensi pemerintah sangat diperlukan untuk menciptakan keseimbangan. Setidaknya, pemerintah harus memperketat standar mutu air limbah yang dibuang. Pemantauan dan audit berkala yang ketat juga menjadi kunci penegakan regulasi yang efektif, agar perusahaan benar-benar mematuhinya.
Perusahaan juga perlu melakukan peninjauan dan evaluasi secara berkala serta mengembangkan inovasi. Produksi berlebihan tetap menjadi persoalan utama, dan tidak ada solusi yang memadai tanpa perombakan menyeluruh terhadap industri ini. Namun, sembari menempuh perubahan tersebut, perusahaan dapat memulai dengan memilih bahan baku yang tepat untuk mengurangi penggunaan bahan kimia secara berlebihan. Perusahaan juga dapat mengalihkan proses utama, seperti pencucian dan pewarnaan, ke alternatif yang lebih ramah lingkungan. Selain itu, sistem daur ulang air yang memungkinkan penggunaan kembali air yang telah diolah dan membentuk siklus tertutup dapat menghemat air, salah satu bahan baku utama dalam industri ini.
Sebagai konsumen, menerapkan pola konsumsi fesyen yang lebih bijak mungkin tidak semudah yang terdengar. Namun, langkah ini perlu dilakukan jika kita ingin mengurangi jejak lingkungan, baik secara individu maupun kolektif. Membeli cukup barang yang kita butuhkan dan akan digunakan dalam jangka panjang merupakan langkah awal yang baik. Alih-alih membeli produk fesyen cepat demi mengikuti tren mikro, konsumen sebaiknya mempertimbangkan pakaian bekas atau pakaian yang tahan lama dan tidak lekang oleh tren, yang diproduksi oleh perusahaan dengan praktik bertanggung jawab.
Pendekatan yang lebih cermat terhadap fesyen bukanlah upaya yang bisa dilakukan satu pihak saja, dan tidak ada satu solusi yang cocok untuk semua situasi. Diperlukan kolaborasi antara ilmu pengetahuan, seni, kebijakan, serta kemauan untuk berubah dari seluruh pelaku di sepanjang rantai nilai, dengan mempertimbangkan beragam konteks sosial, ekonomi, dan budaya. Bagaimanapun, fesyen berkelanjutan tidak boleh sekadar menjadi jargon untuk menarik perhatian konsumen. Fesyen berkelanjutan harus benar-benar mendorong transformasi untuk mengurangi dampak buruk industri terhadap manusia dan planet ini.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.
Chrisantha Cecilia Yobelina Tumanggor adalah Reporter dan Research Assistant di Green Network Asia. Ia meraih gelar sarjana Teknik Lingkungan dari ITERA. Ia memiliki minat di bidang keberlanjutan, khususnya terkait isu lingkungan dan kesetaraan gender.

Karhutla yang Terus Kita Pelihara
Mencari Petunjuk dari Karl Marx buat Menghadapi Krisis Iklim
EESG: Pentingnya Narasi Ekonomi Baru untuk Keberlanjutan di Era AI, Krisis Energi, dan Perpecahan Geopolitik
Menghentikan Maternal Buffering: Keberlanjutan Harus Dimulai dari Isi Piring yang Setara
Seksisme yang Terus Berlanjut terkait Pakaian Olahraga Perempuan
Sejauh Mana Potensi Pengomposan untuk Menyelamatkan Bumi?