Menilik Dampak Lingkungan Penggunaan Kulit Hewan dalam Industri Fesyen
Foto: Cottonbro studio di Pexels.
Kulit hewan telah lama diasosiasikan dengan daya tahan, keterampilan pengerjaan, bahkan kemewahan. Namun, di balik produk berbahan kulit hewan, terdapat rantai pasok yang kompleks dan dapat memengaruhi air, hutan, iklim, serta keanekaragaman hayati dengan cara yang acap tidak terlihat oleh konsumen. Lebih dari sekadar material fesyen, produksi kulit hewan berkaitan dengan persoalan yang lebih luas terkait konservasi keanekaragaman hayati dan keberlanjutan lingkungan.
Daya Tarik Kulit dan Persoalan yang Menyertainya
Jauh sebelum kulit diasosiasikan dengan fesyen mewah, masyarakat adat di berbagai belahan dunia telah menggunakan kulit hewan sebagai bahan praktis untuk pakaian, alas kaki, peralatan, dan benda-benda upacara. Di Amerika Utara, misalnya, kulit hewan seperti karibu dan moose secara tradisional diolah menjadi alas kaki. Sementara itu, masyarakat Inuit menggunakan kulit karibu dan anjing laut untuk membuat pakaian yang sesuai dengan kondisi lingkungan yang dingin.
Saat ini, kulit hewan masih banyak digunakan dalam industri fesyen. Mulai dari sepatu dan jaket sehari-hari hingga tas tangan dan aksesori mewah, kulit hewan digunakan di berbagai segmen industri. Kulit hewan-hewan eksotis, termasuk buaya, piton, dan kadal, menempati ceruk pasar yang lebih eksklusif karena kelangkaan dan coraknya yang khas. Namun, kelangkaan itu memiliki harga ekologis yang tidak murah.
Persoalan paling jelas terkait kulit hewan tentu adalah hewan itu sendiri. Kesejahteraan dan keberlanjutan populasi hewan yang kulitnya digunakan sebagai pakaian telah menjadi bahan perdebatan selama bertahun-tahun, bahkan berdekade-dekade. Persoalannya menjadi semakin pelik, terutama ketika kulit berasal dari satwa liar atau spesies yang terancam punah.
Biaya Lingkungan Kulit Hewan
Persoalan yang tidak terlalu populer, tetapi tidak kalah penting, adalah biaya lingkungannya. Sebagian besar kulit berasal dari sapi, domba, dan kambing, dengan kulit hewan umumnya diperoleh sebagai produk sampingan dari industri daging. Namun, mengubah kulit hewan menjadi material fesyen yang tahan lama membutuhkan sejumlah tahapan, termasuk pemrosesan dan penyamakan. Proses tersebut, terutama dalam skala besar, membutuhkan air, lahan, energi, dan bahan kimia dalam jumlah signifikan.
Salah satu dampak lingkungan terbesar dari produksi kulit berasal dari proses penyamakan. Proses ini mengubah struktur protein pada kulit secara kimiawi agar lebih tahan lama dan mencegah pembusukan. Saat ini, sebagian besar produksi kulit dunia mengandalkan penyamakan krom. Namun, hanya sekitar 60–70% kromium yang digunakan dapat diserap oleh kulit, sementara sisanya masuk ke dalam air limbah.
Produksi kulit sendiri sudah membutuhkan banyak air. Persoalan air limbah kemudian menambah beban penggunaan air yang lebih luas dari industri ini. Produksi kulit hewan menghasilkan sekitar 600 juta m³ air limbah setiap tahun di seluruh dunia. Namun, hanya sekitar 350 juta m³ yang dilaporkan diolah sebelum dibuang. Dengan sekitar 60% produksi kulit dunia terkonsentrasi di Asia, pengelolaan air limbah yang baik menjadi sangat penting bagi kawasan ini.
Keterkaitan antara kulit dan ekologi semakin terlihat lewat peternakan sapi dan alih fungsi lahan. Di Amazon, peternakan sapi merupakan salah satu pendorong utama deforestasi. Hutan ditebangi untuk membuka lahan peternakan, sehingga habitat ribuan spesies hilang sekaligus melepaskan karbon yang tersimpan di vegetasi dan tanah. Sebuah penilaian daur hidup memperkirakan bahwa produksi satu meter persegi kulit jadi menghasilkan sekitar 22,48 kg CO₂e, kira-kira setara dengan emisi yang dihasilkan mobil berbahan bakar fosil untuk perjalanan sejauh 90 km. Yang perlu dicatat, 68% emisi tersebut berasal dari kegiatan peternakan di hulu.
Dampak dan Skalanya
Memang, tidak semua kulit hewan memiliki dampak yang sama. Skala dampaknya sangat bervariasi, tergantung pada siapa yang memproduksi kulit tersebut dan bagaimana proses produksinya dilakukan.
Operasi industri berskala besar, yang memasok sebagian besar rantai pasok kulit global, cenderung memiliki jejak lingkungan terbesar. Operasi tersebut menghadapi beban kimia dari penyamakan krom, ditambah risiko deforestasi yang berkaitan dengan peternakan sapi industri.
Di sisi lain, banyak produsen kerajinan menggunakan penyamakan nabati. Metode ini telah digunakan sejak zaman kuno dengan memanfaatkan tanin yang berasal dari tumbuhan, seperti kulit kayu dan kayu, alih-alih garam kromium. Proses tersebut menghasilkan air limbah yang dapat terurai secara hayati dengan beban kimia yang jauh lebih rendah. Distrik Santa Croce di Tuscany, misalnya, menyumbang lebih dari 65% kulit berkualitas tinggi yang disamak secara nabati di Eropa. Sementara itu, penyamakan kulit tradisional di Fez, Maroko, telah menerapkan metode berbasis tumbuhan serupa selama hampir seribu tahun.
Mewujudkan Praktik yang Lebih Berkelanjutan
Seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap jejak lingkungan kulit, industri mulai mencari cara untuk mengurangi dampak pada tahap produksi. Selain penyamakan berbasis tumbuhan yang telah disebutkan sebelumnya, tempat penyamakan kulit juga mengeksplorasi proses lain yang tidak menggunakan krom. Misalnya, mereka menggunakan alternatif seperti aldehida dan bahan penyamak sintetis lainnya. Pendekatan tersebut dapat mengurangi ketergantungan pada kromium, tetapi bukan berarti sepenuhnya bebas dampak. Pengelolaan bahan kimia, air, dan air limbah tetap harus dilakukan dengan hati-hati. Penerapannya juga bergantung pada kapasitas tempat penyamakan kulit serta regulasi lingkungan yang berlaku.
Perubahan juga mulai muncul melalui produksi sirkular dan material alternatif. Memanfaatkan kembali potongan sisa kulit dan mendaur ulang kulit bekas dapat memperpanjang masa penggunaan material dalam sirkulasi, sehingga mengurangi limbah dan kebutuhan akan bahan baku baru. Penelitian dan pengembangan di berbagai sektor industri juga mulai mengeksplorasi alternatif “kulit” berbasis tumbuhan yang dibuat dari material seperti limbah pertanian.
Namun, menilai alternatif-alternatif tersebut tidak cukup hanya dengan melihat apakah materialnya mengandung bahan yang berasal dari hewan. Kinerja lingkungannya bergantung pada penggunaan sumber daya, metode produksi, daya tahan, serta pengelolaan pada akhir masa pakainya.
Bagi konsumen individu, kuncinya adalah membuat pilihan yang lebih berdasarkan informasi. Oleh karena itu, dibutuhkan transparansi rantai pasok yang lebih besar, disertai kolaborasi yang lebih kuat antara industri fesyen, pakar lingkungan, pembuat kebijakan, dan masyarakat yang terdampak oleh produksi kulit.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Jejak Peringatan Bahaya Eksistensial AI: Dari Layar Bioskop ke Rak Buku
Mengatasi Risiko Tersembunyi Mikroplastik dari Infrastruktur Lepas Pantai
Resistensi Antimikroba Bukan Sekadar Persoalan Medis
Krisis Imajinasi dan Keberlanjutan: Mengapa Masa Depan Perlu Dibayangkan Sebelum Dibangun
Menagih Tanggung Jawab Industri Berbahaya
Bagaimana Satwa Liar Bertahan dari Kebakaran Hutan?