Mengatasi Risiko Tersembunyi Mikroplastik dari Infrastruktur Lepas Pantai
Foto: J.f Manzanero di Unsplash.
Industri minyak dan gas telah memainkan peran penting dalam memenuhi kebutuhan energi global dan menjaga stabilitas ekonomi. Dalam perkembangannya, banyak fasilitas industri ini telah dinonaktifkan—baik karena telah mencapai akhir masa operasional maupun sebagai bagian dari upaya dekarbonisasi global. Namun, selain menjadi sumber utama emisi gas rumah kaca yang mendorong pemanasan global ketika masih beroperasi, proses penonaktifan fasilitas tersebut juga memunculkan risiko lingkungan tersendiri. Penelitian menunjukkan bahwa pipa dan kabel bawah laut dari infrastruktur lepas pantai yang telah dinonaktifkan mencemari lautan dengan mikroplastik.
Penonaktifan Fasilitas Minyak dan Gas Lepas Pantai
Di seluruh dunia, sekitar 12.000 anjungan lepas pantai dan 200.000 kilometer jaringan pipa bawah laut membentang di perairan lebih dari 50 negara. Fasilitas minyak dan gas ini umumnya beroperasi selama lebih dari dua dekade sebelum mencapai akhir masa pakainya. Selain itu, berbagai inisiatif dekarbonisasi global mendorong penghentian bertahap industri ini.
Penonaktifan fasilitas minyak dan gas lepas pantai dapat dilakukan dengan beberapa metode. Struktur fasilitas dapat diangkat seluruhnya atau sebagian. Fasilitas tersebut juga dapat dipindahkan, ditinggalkan di perairan dalam, atau dibongkar langsung di dasar laut.
Sejauh ini, pilihan metode penonaktifan sebagian besar belum mendapat tantangan maupun regulasi yang memadai, sehingga keputusan pada praktiknya diserahkan kepada korporasi. Tidak mengherankan jika keputusan yang berbeda menghasilkan dampak yang berbeda pula. Infrastruktur yang ditinggalkan di lingkungan laut menimbulkan ancaman tambahan spesifik, bahkan jauh setelah masa operasionalnya berakhir. Sebuah studi oleh peneliti dari University of Plymouth dan North Carolina State University menyoroti risiko tersebut dengan mengevaluasi bagaimana praktik penonaktifan di lokasi (in-situ) berkontribusi terhadap pencemaran mikroplastik di wilayah UK Continental Shelf (UKCS).
Pencemaran Mikroplastik dari Infrastruktur Lepas Pantai
Material plastik pada pipa dan kabel bawah laut terus mengalami abrasi dan degradasi selama masa operasionalnya. Proses ini tetap berlangsung setelah fasilitas memasuki masa pensiun, terutama dalam pilihan penonaktifan in-situ. Infrastruktur tersebut sekadar ditinggalkan di lokasi semula tanpa pemeliharaan ataupun pemantauan. Seiring waktu, plastik dari fasilitas yang tidak diangkat ini akan terakumulasi sebelum akhirnya terurai menjadi mikroplastik dan nanoplastik.
Menurut studi tersebut, total massa plastik yang berasal dari jaringan pipa dan kabel di UK Continental Shelf diperkirakan mencapai 218.905 ton. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 45% yang akan diangkat dari lingkungan laut. Sebanyak 55% sisanya kemungkinan akan tetap berada di tempat dan terdegradasi menjadi mikroplastik, sehingga menimbulkan risiko serius yang terus berlangsung bagi ekosistem laut.
Hingga kini, risiko pencemaran plastik yang berkaitan dengan fasilitas minyak dan gas lepas pantai masih belum dipahami dengan baik. Hal ini disebabkan oleh minimnya perhatian dan bukti mengenai proses degradasi plastik, pembentukan mikroplastik, serta kontribusinya terhadap pencemaran laut. Pengabaian ini semakin kentara pada pencemaran yang berasal dari infrastruktur lepas pantai industri minyak dan gas.
Tingkat risiko secara langsung bergantung pada seberapa intens organisme lokal berinteraksi dengan material yang mengalami degradasi tersebut. Spesies bentik, seperti moluska dan krustasea, menghadapi paparan tertinggi dari struktur bawah laut. Kontaminasi mikroplastik dapat mengganggu perkembangan, kelangsungan hidup, pertumbuhan, perilaku, reproduksi, dan pola makan organisme tersebut. Dampaknya juga berpotensi melampaui kesehatan organisme secara individual dan mengancam ketahanan pangan manusia.
Mengembangkan Kebijakan Adaptif
Komponen plastik dari infrastruktur minyak dan gas lepas pantai menimbulkan risiko lingkungan yang signifikan. Seiring memburuknya perubahan iklim, kebutuhan untuk menonaktifkan fasilitas tersebut juga semakin mendesak guna mempercepat penghentian penggunaan bahan bakar fosil sebagai bagian dari upaya dekarbonisasi yang lebih luas. Namun, proses penonaktifan harus dilakukan dengan sangat hati-hati untuk memastikan strategi pengangkatan yang dipilih juga secara aktif meminimalkan risiko potensial lainnya, termasuk pencemaran plastik dalam jangka panjang.
Kerangka regulasi yang berlaku saat ini perlu mengintegrasikan risiko plastik secara lebih efektif. Hal ini membutuhkan perangkat baru, seperti indikator berbasis risiko dan aturan material yang terstandardisasi. Selain itu, jika infrastruktur diangkat dari dasar laut, ketersediaan fasilitas pengelolaan limbah dan sistem daur ulang yang memadai merupakan syarat mutlak untuk memastikan ancaman lingkungan tidak sekadar dipindahkan ke daratan.
Pembangunan kerangka tersebut sangat bergantung pada data ilmiah yang kuat dan kerja sama yang luas di antara para pemangku kepentingan. Pada akhirnya, kebijakan dan regulasi harus terus beradaptasi seiring para peneliti menemukan wawasan ilmiah baru. Membatasi secara hukum kemungkinan terjadinya tindakan—atau tidak adanya tindakan—yang menimbulkan kerugian merupakan cara paling mendasar untuk memastikan akuntabilitas korporasi perusahaan minyak dan gas hingga akhir siklus hidup fasilitas mereka.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Resistensi Antimikroba Bukan Sekadar Persoalan Medis
Krisis Imajinasi dan Keberlanjutan: Mengapa Masa Depan Perlu Dibayangkan Sebelum Dibangun
Menagih Tanggung Jawab Industri Berbahaya
Bagaimana Satwa Liar Bertahan dari Kebakaran Hutan?
Kurang Tidur Adalah Masalah Iklim dan Ketimpangan
Bagaimana Krisis Biaya Hidup Mendorong Orang Menjauh dari Pilihan Berkelanjutan