Mengapa Pekerja Anak Masih Terus Ada?
Foto: Edouard MIHIGO di Pexels.
Anak-anak terlahir dengan berbagai impian dan cita-cita yang ingin mereka wujudkan. Namun, tidak semua anak memiliki nasib yang sama. Kesenjangan kondisi ekonomi, akses terhadap pendidikan, dan situasi geopolitik menghadirkan kenyataan pahit bagi anak-anak yang kurang beruntung. Ketika anak-anak tidak memiliki titik awal kehidupan yang setara, banyak di antara mereka akhirnya terjebak dalam pekerja anak.
Memahami Pekerja Anak
Pada usia ketika masih membutuhkan perhatian dan kasih sayang orang tua, banyak anak justru terpaksa menghidupi diri mereka sendiri. Mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan, terkadang, keluarga mereka. Lebih memprihatinkan lagi, banyak anak yang melakukan pekerjaan berbahaya dengan upah yang sangat rendah. Inilah kenyataan yang dihadapi anak-anak dalam situasi kerja paksa.
Pekerja anak merampas masa kanak-kanak, potensi, dan martabat anak, sekaligus membahayakan perkembangan fisik dan mental mereka. Meskipun bentuknya beragam, istilah pekerja anak terutama merujuk pada pekerjaan yang melibatkan anak-anak dalam perbudakan, prostitusi, aktivitas ilegal, atau kerja-kerja yang membahayakan keselamatan mereka. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang bekerja sangat rentan mengalami stres, kecemasan, bahkan depresi. Sementara itu, beban kerja yang berat dengan upah tidak memadai sama sekali tidak memberikan solusi nyata untuk keluar dari lingkaran kemiskinan. Bahkan, pekerjaan tersebut tidak mampu menjamin pemenuhan kebutuhan dasar sehari-hari secara berkelanjutan.
Meskipun berbagai upaya untuk mengakhiri pekerja anak telah dilakukan selama beberapa dekade, prevalensinya tetap tidak berubah. Menurut Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), sekitar 138 juta anak di seluruh dunia terlibat dalam pekerja anak. Angka yang mencengangkan ini setara dengan hampir 8% dari populasi anak global. Sektor pertanian menyumbang lebih dari separuh pekerja anak di dunia (61%), disusul sektor jasa (27%) dan industri (12%).
Faktor-Faktor yang Membuat Pekerja Anak Terus Bertahan
Pekerja anak tidak terjadi tanpa sebab. Pekerja anak sering kali terjadi karena anak-anak kehilangan akses terhadap hak-hak dasar mereka, seperti hak atas pendidikan dan standar kehidupan yang layak bagi kesehatan serta kesejahteraan anak, di antara berbagai hak lainnya, sebagaimana disebutkan dalam Konvensi Hak Anak. Ketika anak-anak kehilangan akses terhadap hak-hak tersebut, mereka lebih rentan terjerumus ke dalam pekerja anak. Keterkaitan ini didukung oleh data dari negara-negara dengan tingkat pekerja anak yang tinggi.
Di Burkina Faso, dilaporkan bahwa 42% anak terlibat dalam pekerja anak. Mereka kerap diwajibkan bekerja dalam produksi kapas atau pertanian karena tidak memiliki akses terhadap kebutuhan dasar, termasuk pendidikan, kestabilan ekonomi, dan peluang kerja di masa depan. Situasi serupa terjadi di Somalia. Di negara ini, anak-anak menghadapi keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan, gizi, air, pendidikan, dan perlindungan. Hambatan terhadap layanan esensial tersebut, yang diperparah oleh krisis iklim dan konflik, telah mendorong ribuan anak menjadi tentara maupun pekerja anak.
Kurangnya akses terhadap pendidikan juga menjadi faktor utama yang terus mempengaruhi persoalan ini. Kesempatan pendidikan yang terbatas, ditambah minimnya kesadaran, kerap mendorong anak-anak mencari cara untuk membantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga mereka. Di Bangladesh, anak-anak berusia lima hingga tujuh tahun bekerja di pabrik pengolahan ikan kering di Cox’s Bazar alih-alih bersekolah. Demikian pula, pekerja anak menjadi penyebab 44% anak putus sekolah di Yaman. Banyak anak Yaman kesulitan menyeimbangkan pendidikan dengan upaya membantu perekonomian keluarga di tengah konflik berkepanjangan. Akibatnya, perhatian mereka terhadap pembelajaran berkurang dan risiko putus sekolah meningkat.
Di balik seluruh faktor yang berkaitan dengan pekerja anak, terdapat kemiskinan dan ketiadaan perlindungan sosial. Data PBB menunjukkan bahwa 333 juta anak di seluruh dunia hidup dalam kemiskinan ekstrem, sementara hampir satu miliar anak mengalami kemiskinan multidimensi. Lebih parahnya lagi, 1,4 miliar anak tidak memiliki akses terhadap perlindungan sosial dasar. Krisis biaya hidup dan ketegangan geopolitik di berbagai belahan dunia menjadi lahan subur bagi kemiskinan dan ketidakstabilan, memaksa anak-anak menanggung beban berat tanpa jaring pengaman yang memadai, bahkan tanpa perlindungan sama sekali.
Mengatasi Persoalan Sistemik dan Mendasar
Mengakhiri pekerja anak membutuhkan penanganan sistemik terhadap persoalan-persoalan mendasar dalam kehidupan anak. Artinya, memastikan seluruh anak memiliki akses yang setara terhadap pendidikan, layanan kesehatan, dan perlindungan sosial, di antara berbagai kebutuhan lainnya, adalah hal yang krusial dan menentukan. Kepemimpinan pemerintah dan penegakan hukum yang kuat harus menjadi garda terdepan. Sebagai contoh, pada 2026, Barbados dan Saint Lucia melaporkan tingkat pekerja anak terendah, yakni 1%. Melalui reformasi hukum yang menyeluruh dan konvensi internasional, pemerintah dua negara tersebut berhasil menekan pekerja anak secara signifikan dengan memperkuat langkah-langkah perlindungan anak dan memperluas akses pendidikan.
Selain itu, peningkatan akses terhadap pendidikan berkualitas merupakan kunci. Pendidikan akan memberdayakan anak-anak untuk mengembangkan potensi dan keterampilan yang relevan, sehingga membuka peluang ekonomi. Proses pembelajaran yang mengintegrasikan pengetahuan teoretis dengan pengalaman praktis, termasuk pelatihan vokasi dan program magang, juga penting untuk memfasilitasi transisi mereka ke dunia kerja secara aman.
Meski demikian, inisiatif dan partisipasi dunia usaha tetap sangat penting. Penerapan praktik bisnis yang bertanggung jawab dan sesuai dengan prinsip bisnis dan hak asasi manusia (BHR) di seluruh rantai nilai harus menjadi standar. Pada akhirnya, kombinasi kebijakan yang tegas, transparansi rantai pasok, serta produksi dan konsumsi yang bertanggung jawab merupakan inti dari upaya penghapusan pekerja anak. Jalan untuk mencapai tujuan tersebut masih panjang di tengah dunia yang penuh gejolak.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Ilusi Keberlanjutan dalam Thrifting
TFFF Harus Menjangkau Masyarakat yang Menjaga Hutan
Meningkatnya Risiko Polusi Udara Lintas Batas di Tengah Suhu Panas Ekstrem
Mengeliminasi Tuberkulosis Tanpa Mengabaikan Penyakit Lain
Whimsymaxxing dan Meningkatnya Kekhawatiran terkait Limbah di Balik Tren Viral
Mengakhiri Diplomasi Greenwashing Indonesia