Upaya Masyarakat Pesisir Banggai dalam Mengelola Sampah Plastik
Bangunan Bank Sampah Montolutusan dari bahan sampah plastik. | Foto: Dokumentasi Adipatra Kenaro.
Selama bertahun-tahun, masyarakat Desa Paisubololi, Kecamatan Batui Selatan, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, menghadapi persoalan sampah yang berlarut-larut. Sampah rumah tangga di desa ini kerap berakhir dengan pengelolaan yang berbahaya: jika bukan dibakar di halaman rumah, sampah dibuang ke sungai. Kondisi itu tidak terlepas dari masalah ketiadaan sarana pengelolaan sampah yang memadai. Di desa pesisir ini, belum tersedia tong sampah umum, tempat penampungan sementara (TPS), maupun tempat pembuangan akhir (TPA).
Sebagian besar sampah yang dibuang merupakan limbah plastik, seperti kantong kresek, botol minuman, kemasan makanan, hingga karung beras plastik. Sampah-sampah tersebut sulit terurai dan terus menumpuk di sekitar permukiman, bantaran sungai, hingga pesisir.
Masalah ini tidak hanya mengganggu pemandangan desa, tetapi juga mulai menimbulkan dampak kesehatan dan lingkungan. Pembakaran sampah menghasilkan asap yang mengganggu sistem pernapasan warga sekitar, sementara sampah yang dibuang ke sungai terbawa ke laut dan mencemari ekosistem pesisir.
Ketika musim hujan, tumpukan sampah di aliran sungai juga kerap menyumbat arus air. Selain meningkatkan risiko banjir, kondisi tersebut memicu munculnya genangan dan menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk. Warga dan tenaga kesehatan setempat mengkhawatirkan adanya risiko penyakit, terutama infeksi saluran pernapasan, diare, dan penyakit berbasis kerusakan lingkungan lainnya.
Keresahan yang Menjadi Gerakan
Keresahan terhadap persoalan itu kemudian mendorong munculnya inisiatif orang-orang muda di Desa Paisubololi. Salah satu yang aktif mendorong perubahan adalah Indri Agustina. Ia melihat bahwa persoalan sampah di desanya tidak akan memunculkan masalah yang lebih besar jika terus menerus dibakar atau dibuang ke sungai.
“Kalau terus dibakar, asapnya ke udara. Kalau dibuang, akhirnya kembali lagi ke laut. Tidak ada yang benar-benar selesai,” ujarnya ketika saya temui pada 12 Maret 2026.
Pada mulanya, Indri bersama beberapa temannya mengajak warga desa untuk memulai dengan memilah sampah dari rumah. Mereka mendatangi warga, menjelaskan dampak sampah plastik, sekaligus memperkenalkan gagasan bahwa sampah rumah tangga memiliki nilai tukar ekonomi.
Upaya tersebut kemudian berkembang menjadi pembentukan Bank Sampah Montolutusan pada 16 Juni 2019. Bank sampah ini menjadi tempat bagi warga untuk menyetor sampah yang telah dipilah, terutama plastik, kardus, dan kertas. Nama “Montolutusan” diambil dari bahasa Banggai yang berarti persaudaraan. Nama tersebut dipilih karena pengelolaan sampah di desa ini dibangun dengan semangat gotong royong dan keterlibatan bersama.
Mengubah Sampah Menjadi Sumber Penghasilan

Setelah Bank Sampah Montolutusan terbentuk, perubahan mulai terlihat dalam kebiasaan warga. Jika sebelumnya sampah rumah tangga langsung dibuang atau dibakar, kini sebagian warga mulai memilah sampah sejak dari rumah. Plastik bening, botol minuman, kardus, dan kertas dipisahkan dari sampah lain. Warga kemudian membawa sampah tersebut ke bank sampah untuk ditimbang dan dicatat.
Salah satu warga yang rutin menyetor sampah adalah Efsuin Batukahon. Hampir setiap hari ia mengumpulkan plastik dan kardus dari rumahnya. Sampah-sampah itu kemudian disimpan di dalam karung sebelum dibawa ke Bank Sampah Montolutusan. Menurut Efsuin, kebiasaan memilah sampah membuat lingkungan di sekitar rumahnya menjadi lebih bersih. Selain itu, sampah yang dikumpulkan juga memberikan tambahan penghasilan. Dari hasil menabung sampah, Efsuin mengaku dapat memperoleh hingga ratusan ribu rupiah.
“Uang tersebut pernah saya gunakan untuk membantu biaya persalinan anak saya,” katanya.
Sebagian warga lainnya memilih tidak langsung menukar sampah mereka dengan uang, melainkan menyimpannya, dan baru mencairkannya ketika membutuhkan uang atau menukarnya dengan kebutuhan pokok.
Selain menjual sampah anorganik, Bank Sampah Montolutusan juga mulai mengembangkan pengelolaan sampah organik. Sisa makanan dan dedaunan dimanfaatkan menjadi bahan kompos, sedangkan sebagian lainnya diolah menjadi pakan maggot.
Berbagai kegiatan kreatif juga mulai muncul dari pengelolaan sampah di Desa Paisubololi. Misalnya, warga pernah membuat pakaian daur ulang bertema “cardinal fish”, bekerja sama dengan sebuah yayasan swasta dan bank. Pakaian tersebut dibuat dari berbagai limbah plastik yang dikumpulkan warga. Tidak hanya itu, warga juga mendapat pelatihan membuat ecobrick, yaitu botol plastik yang diisi sampah plastik hingga padat untuk dijadikan bahan bangunan alternatif. Pelatihan ini pernah dilakukan bersama tenaga kesehatan di Puskesmas Toili II. Menjelang perayaan Natal, warga bahkan memanfaatkan karung plastik bekas untuk membuat pohon Natal yang terang.
Berbagai kegiatan itu perlahan membentuk cara pandang baru di Desa Paisubololi. Sampah tidak lagi dianggap sebagai akhir dari proses konsumsi, melainkan sesuatu yang masih bisa diputar kembali dan dimanfaatkan.
Membangun Kemandirian Desa
Dampak dari Bank Sampah Montolutusan kini mulai terasa lebih luas. Perputaran ekonomi desa perlahan bergerak. Warga tidak lagi sepenuhnya bergantung pada uang tunai untuk memenuhi kebutuhan dasar. Sampah kini menjadi alternatif alat tukar. Dalam satu tahun, omset pengelolaan sampah mencapai Rp60 juta. Meski sebagian digunakan untuk operasional, sisanya kembali diputar sebagai modal.
Bank sampah Montolutusan kini menjadi semacam satu “benteng terakhir” dari sedikit bank sampah yang masih bertahan. Paisubololi kini tidak hanya dikenal sebagai desa dengan masalah sampah, tetapi juga sebagai desa yang menemukan cara untuk bertahan.
Editor: Abul Muamar
Catatan:Tulisan ini disusun berdasarkan pengamatan lapangan dan wawancara langsung dengan beberapa nelayan, tenaga kesehatan, serta aparatur desa di wilayah pesisir Luwuk Banggai, tepatnya di Desa Paisubololi, dengan dukungan Fellowship Narasi X Chandra Asri Group.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.
Adipatra adalah Asisten Tenaga Ahli Kesehatan Masyarakat dan Surveyor di Pusat Kajian Sumber Daya Pesisir & Laut (PKSPL) IPB, dengan fokus pada Analisis Kebijakan Lingkungan.

Melindungi Spesies Migrasi di Tengah Bertambahnya Daftar Kepunahan
Bagaimana Spogomi Tangani Masalah Sampah melalui Olahraga Kompetitif
Merespons Krisis Energi dengan Kebijakan Seperempat Hati
Obesitas di Indonesia Terus Melonjak
Memudarnya Warna Kupu-Kupu Akibat Deforestasi dan Perubahan Iklim, Apa Dampaknya?
Mendorong Transformasi Industri Peternakan dengan Pendekatan berbasis Sains