Kolaborasi Riset Jerman-Indonesia Dorong Industri Tekstil yang Lebih Berkelanjutan
Foto: prostooleh di Freepik
Setiap harinya, ribuan atau bahkan jutaan tekstil diproduksi untuk memenuhi permintaan pasar. Sayangnya, industri tekstil dan produk turunannya secara umum masih mengandalkan cara-cara yang berdampak buruk terhadap lingkungan. Terkait hal ini, Indonesia menjalin kolaborasi riset dengan Jerman melalui Proyek EnaTex yang bertujuan untuk mendorong industri tekstil yang lebih berkelanjutan.
Industri Tekstil dan Tantangannya
Industri tekstil memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia. Pada tahun 2024, sekitar 3,8 juta orang bekerja di sektor sektor Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) yang banyak di antaranya berskala kecil dan menengah. Selain itu, nilai ekspor sektor ini mencapai USD 12 juta pada tahun 2023.
Namun, industri tekstil juga menjadi salah satu sektor yang memiliki dampak negatif yang signifikan terhadap lingkungan. Dampak ini merupakan hasil dari penggunaan sumber daya yang besar, terutama air, mulai dari perkebunan kapas hingga proses produksi seperti pencetakan, pewarnaan, dan penyempurnaan. Secara global, industri tekstil menggunakan hingga 215 triliun liter air per tahun. Selain itu, industri tekstil secara umum juga masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil seperti batu bara dalam proses produksinya dan menyumbang emisi karbon hingga 10% dari total emisi global.
Selain itu, limbah kimia dari zat pewarna yang digunakan dalam industri tekstil juga menjadi permasalahan tersendiri. Di berbagai daerah, limbah ini seringkali mencemari badan air vital seperti sungai dan laut. Seperti yang pernah terjadi pada Sungai Citarum di Jawa Barat, yang tercemar logam berat akibat limbah tekstil yang dibuang di sungai tersebut.
Tidak hanya permasalahan lingkungan, perihal ketenagakerjaan di sektor industri tekstil juga memprihatinkan. Sektor ini seringkali beroperasi dengan tenaga kerja yang dibayar murah, berketerampilan rendah, dan didominasi oleh perempuan. Kesenjangan upah berbasis gender di sektor ini pun masih sering terjadi yang menjadikan perempuan semakin rentan. Eksploitasi buruh perempuan juga sering terjadi di sektor ini, terutama di industri tekstil skala kecil.
Proyek EnaTex
Proyek EnaTex didanai oleh Kementerian Pendidikan dan Riset Jerman sejak tahun 2021 yang melibatkan enam lembaga penelitian atau universitas dan empat mitra industri baik dari Jerman maupun Indonesia. Lembaga Indonesia yang terlibat adalah Unika Atma Jaya, Sekolah Tinggi Tekstil Bandung, dan PT SriTex serta PT Harapan Kurnia sebagai mitra industri.
Tujuan utama EnaTex adalah meminimalkan ketergantungan terhadap penggunaan bahan bakar fosil dalam industri tekstil di Indonesia. Melalui pengukuran jangka pendek, menengah, dan panjang, proyek riset ini diharapkan dapat merumuskan solusi dan konsep inovatif untuk mencapai efisiensi energi hingga 15% dan transisi sepenuhnya ke sumber energi terbarukan.
Sejumlah hasil penelitian yang dipaparkan dalam Konferensi Internasional terkait Proyek Ena-Tex mencatat beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menciptakan industri tekstil yang lebih berkelanjutan di Indonesia. Misalnya, penggunaan sistem pembakaran yang optimal dengan memanfaatkan uap alih-alih batu bara dapat menghemat energi hingga 20%. Selain itu, pemanfaatan panel surya dapat menjadi sumber energi alternatif dan berpotensi menghemat biaya energi hingga 25%.
Penghematan energi juga bisa diterapkan dalam proses produksi, misalnya dalam pewarnaan. Riset dalam Proyek EnaTex menganalisis inovasi proses pengaplikasian warna yang lebih efektif sehingga dapat menghemat penggunaan energi dan air setidaknya hingga 40%. Tidak hanya mekanismenya, riset tersebut juga mengeksplorasi zat pewarna yang dapat mempersingkat proses pengeringan dan turut menghemat energi serta mengurangi emisi hingga 25%. Proyek ini juga mengkaji potensi penggunaan teknologi ultrasound untuk efisiensi proses pencucian setelah pewarnaan.
Pendekatan dalam proyek riset EnaTex bersifat multidisiplin sehingga tidak hanya menganalisis aspek teknis untuk penghematan dan transisi energi, tetapi juga berfokus dalam pengembangan sumber daya manusia. Proyek ini juga menyediakan modul pelatihan untuk membekali para pemimpin industri tekstil dengan pengetahuan dan kemampuan yang dibutuhkan dalam mempromosikan keberlanjutan kepada karyawannya. Riset dalam EnaTex juga mempromosikan penerapan Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK3) dan Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (ESG) lewat berbagai pelatihan, seminar, dan publikasi pedoman ESG.
Menuju Industri Tekstil yang Lebih Berkelanjutan
Mendorong industri tekstil yang lebih berkelanjutan tidak bisa hanya dilakukan pada proses produksinya saja, tetapi juga mesti melibatkan keseluruhan prosesnya dari hulu ke hilir. Dalam hal ini, memastikan rantai pasok yang berkelanjutan adalah langkah krusial. Selain itu, aspek-aspek lainnya, termasuk namun tidak terbatas pada penciptaan pekerjaan yang layak, adil gender, dan inklusif juga harus menjadi bagian yang tidak boleh dilewatkan karena merupakan prasyarat mutlak untuk menciptakan dunia industri yang berkelanjutan.
Editor: Abul Muamar

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan