Menakar Potensi Penebaran Terumbu Karang Buatan di Teluk Mamuju
Foto: Wikimedia Commons.
Ekosistem terumbu karang alami sangat esensial, tidak hanya bagi kesehatan dan keseimbangan laut, melainkan juga sebagai rumah bagi berbagai biota laut dan sumber mata penghidupan bagi masyarakat pesisir. Namun, di banyak daerah di Indonesia, terumbu karang telah mengalami degradasi dalam berbagai kondisi, mulai dari pemutihan hingga kerusakan struktur fisik dan kimiawi. Terkait hal ini, para pemangku kepentingan yang tergabung dalam Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Sulawesi Barat menebar 1.000 terumbu karang buatan di Teluk Mamuju untuk memulihkan ekosistem laut yang rusak.
Lantas, bagaimana potensi manfaat dan dampak yang dari upaya ini?
Kerusakan Terumbu Karang di Teluk Mamuju
Terumbu karang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut. Selain menjadi habitat bagi berbagai biota laut, terumbu karang juga berfungsi sebagai pelindung alami garis pantai dari abrasi dan gelombang besar. Bagi masyarakat pesisir, keberadaan terumbu karang menjadi sumber penghidupan utama, baik melalui perikanan maupun sektor pariwisata bahari.
Meski Indonesia memiliki kawasan terumbu karang terluas di dunia, kondisi di sebagian besar wilayah telah mengalami kerusakan signifikan. Data tahun 2019 menunjukkan bahwa hanya 6,42 persen dari total 1.153 lokasi terumbu karang yang masih dalam kondisi sangat baik. Di Teluk Mamuju, misalnya, kerusakan terumbu karang diperparah oleh praktik penangkapan ikan menggunakan bom, sedimentasi yang tinggi, serta dampak perubahan iklim yang menyebabkan pemutihan karang secara masif.
Atas kondisi tersebut, pemulihan terumbu karang dan konservasi kawasan laut menjadi kepentingan mendesak yang tak bisa ditunda sebab kerusakan terumbu karang akan mengancam keberlanjutan ekosistem laut sekaligus mata pencaharian masyarakat pesisir.
Penebaran 1.000 Terumbu Karang Buatan
Sebagai upaya pemulihan ekosistem laut di Teluk Mamuju, Forkopimda Sulawesi Barat (Sulbar) meluncurkan program restorasi dengan penebaran 1.000 unit terumbu karang buatan di Teluk Mamuju. Inisiatif ini dimaksudkan untuk mempercepat regenerasi terumbu karang yang rusak sekaligus menciptakan habitat baru bagi biota laut. Selain itu, program ini juga diharapkan dapat mendukung pemulihan ekosistem, meningkatkan hasil tangkapan nelayan, mendukung ketahanan pangan, memperkuat ekonomi pesisir, dan mendorong pengembangan wisata bahari berbasis konservasi.
Proses penebaran terumbu karang buatan dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan masyarakat lokal dalam penempatan dan pemeliharaan di titik-titik strategis dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan dan potensi wisata. Kepala daerah di tingkat kabupaten/kota di Sulbar juga diajak untuk melakukan program serupa.
Dampak Negatif
Indonesia merupakan salah satu negara dengan kegiatan restorasi terumbu karang terbanyak di dunia. Restorasi terumbu karang umumnya dilakukan dengan metode restorasi aktif, yakni dengan menenggelamkan terumbu buatan (umumnya dari beton atau pipa-pipa baja berstruktur) dengan ragam bentuk tiga dimensi 3D yang menyerupai ekosistem aslinya. Setelah terumbu tenggelam, praktisi restorasi biasanya akan menempelkan potongan-potongan cabang karang sehat–cara ini disebut sebagai transplantasi karang. Cara lainnya adalah rekrutmen karang, yakni dengan menempelkan larva karang hasil reproduksi alami pada permukaan terumbu buatan.
Namun, restorasi terumbu karang dengan penebaran terumbu karang buatan memiliki potensi dampak negatif jika tidak dikelola dengan tepat dan hati-hati. Sebuah penelitian Marine Policy mengungkap bahwa banyak proyek restorasi terumbu karang di Indonesia yang gagal karena mengabaikan proses monitoring dan pemantauan ulang, termasuk dengan cara menenggelamkan terumbu karang buatan di dasar laut. Penelitian tersebut menemukan bahwa hanya 16% dari total 533 proyek restorasi terumbu karang kurun 30 tahun (1990-2020) yang melibatkan pemantauan berkala.
Di Kepulauan Karimunjawa, proses penenggelaman terumbu karang buatan yang tidak mengikuti prosedur yang benar telah menyebabkan karang alami di sekitarnya mengalami degradasi struktural berupa kerusakan jaringan, patahnya cabang karang, dan gangguan proses fotosintesis. Begitupun yang terjadi di Bali, dimana sejumlah terumbu karang buatan yang tidak stabil akibat arus kuat atau kesalahan penempatan membuat transplantasi karang mati karena media beton yang tidak sesuai, sedimentasi tinggi, dan karang gagal beradaptasi.
Tidak hanya di Indonesia, proyek restorasi Osborne Reef di Florida, AS, yang bertujuan menciptakan habitat baru dengan menenggelamkan ban bekas juga menyebabkan kerusakan lingkungan karena merusak terumbu karang alami.
Bukan Hal yang Mudah
Tries Blandine Razak, salah satu peneliti yang terlibat dalam penelitian bertajuk “Coral reef restoration in Indonesia: A review of policies and projects” tersebut menggarisbawahi bahwa upaya restorasi terumbu karang bukanlah suatu hal yang mudah dan seringkali tidak dapat menggunakan metode yang seragam di setiap perairan mengingat faktor-faktor alam di laut lepas yang sulit dikendalikan atau direkayasa seperti arus laut, intensitas sinar matahari, suhu, dan tingkat salinitas.
“Selain itu, laut sebagai suatu kesatuan alam yang sangat luas memiliki variasi spesifik per lokasi yang sulit ditentukan. Misalnya, kita sering menemui suatu teluk dengan keanekaragaman hayati terumbu karang yang tinggi. Namun di teluk lainnya yang tak jauh dari teluk tadi, kita tak menemui satu pun terumbu karang. Ini bisa terjadi karena pergerakan arus, nutrisi air laut, atau ketersediaan larva karang yang berbeda. Karena itulah, beberapa hewan karang dari jenis yang sama bisa jadi membutuhkan spesifikasi lingkungan yang berbeda karena mereka hidup di kondisi perairan yang tak sama,” tulisnya.
Meningkatkan Kolaborasi dan Riset
Dengan mempertimbangkan hal tersebut, pemantauan dan evaluasi berkesinambungan yang transparan dan bertanggung jawab menjadi hal penting agar penebaran terumbu karang buatan dan program-program restorasi lainnya tidak menimbulkan masalah baru bagi lingkungan. Peningkatan kolaborasi terutama di kalangan praktisi restorasi serta keterlibatan masyarakat melalui edukasi dan pengelolaan bersama, yang didukung dengan penguatan riset terkait restorasi terumbu karang serta regulasi dan kebijakan yang jelas, merupakan langkah kunci agar upaya restorasi benar-benar berdampak positif dan berkelanjutan.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan