Solusi Berbasis Alam untuk Pengelolaan Air Pertanian
Foto: CGIAR di Flickr.
Air merupakan elemen penting dalam banyak bidang, termasuk dalam pertanian dan mendukung ketahanan pangan. Namun, meningkatnya kebutuhan akan air secara global telah menyebabkan kelangkaan air yang semakin serius. Untuk mengatasi masalah ini, Solusi Berbasis Alam (Nature-based Solutions/NbS) menawarkan pendekatan yang menjanjikan untuk pengelolaan air pertanian.
Meningkatnya Permintaan Air untuk Pertanian
Kebutuhan akan air semakin meningkat seiring dengan bertambahnya populasi dunia. Data Bank Dunia menunjukkan bahwa jumlah penduduk dunia diperkirakan akan mencapai lebih dari 10 miliar pada tahun 2050. Akibatnya, produksi pertanian akan meningkat untuk memenuhi kebutuhan pangan, yang berujung pada peningkatan kebutuhan akan pasokan air.
Ada beberapa cara untuk meningkatkan ketersediaan dan kualitas air, seperti pengolahan air limbah, desalinasi skala besar, dan pengangkutan air jarak jauh. Hanya saja, cara-cara ini tidak selalu praktis dan berbiaya tinggi. Untuk itu, pengelolaan air pertanian yang tepat merupakan hal yang krusial. Dalam hal ini, pendekatan berbasis alam menawarkan solusi alternatif untuk mengatasi permasalahan ini.
Solusi Berbasis Alam (NbS)
Menurut Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN), solusi berbasis alam merupakan pendekatan untuk mengatasi permasalahan sosial melalui perlindungan, pengelolaan berkelanjutan, dan restorasi ekosistem. Pendekatan ini bertujuan untuk memberikan manfaat bagi kesejahteraan manusia dan keanekaragaman hayati.
Dalam konteks pertanian, Solusi Berbasis Alam (NbS) meniru proses alami dan mengembangkan pengelolaan lahan air fungsional untuk meningkatkan hasil pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan ketersediaan air. Fokus utama solusi berbasis alam adalah pengurangan dampak eksternal terhadap sumber daya air dan lahan sekaligus meningkatkan jasa ekosistem terkait air untuk pertanian berkelanjutan. Dengan kata lain, aktivitas Solusi Berbasis Alam memastikan ekosistem berkelanjutan yang memberikan kontribusi jangka panjang bagi generasi saat ini dan generasi mendatang.
Tipe-Tipe Perawatan Ekosistem
Berdasarkan konsep NbS, kondisi ekosistem berperan penting dalam menentukan ketersediaan dan kualitas air. Oleh karena itu, penting untuk menerapkan perawatan seperti melindungi, merehabilitasi, atau memodifikasi ekosistem untuk memperbaiki sistem air pertanian.
Ada tiga tipe perawatan ekosistem yang dapat diterapkan menurut Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), yaitu:
- Tipe 1: Tipe ini memiliki perlakuan minimal atau bahkan tidak ada sama sekali dalam ekosistem. Contohnya adalah pengelolaan air pertanian dalam budidaya tradisional wasabi, tanaman asli Jepang yang sering digunakan sebagai bumbu. Sistem produksi tanaman ini menciptakan suasana indah yang hidup berdampingan secara harmonis dengan ekosistem alam. Budidaya wasabi secara tradisional menggunakan sedikit pupuk dan tidak menggunakan bahan kimia. Melalui pengelolaan tanah, ladang Wasabi mempertahankan kapasitas penampung air yang tinggi sehingga mencegah banjir di hilir.
- Tipe 2: Tipe ini memungkinkan NbS diterapkan pada ekosistem dengan perlakuan parsial dengan menciptakan ekosistem multifungsi dan berkelanjutan untuk meningkatkan sistem air pertanian. Sebagai contoh, pengelolaan air di Cekungan Kagera, Afrika, di mana strategi ekosistem terpadu diadopsi melalui program hortikultura untuk mendorong penanaman sayuran yang hanya memerlukan sedikit ruang, memiliki siklus pertumbuhan pendek, dan mudah dipasarkan.
Program ini menerapkan strategi seperti antisipasi dampak perubahan iklim, penanaman tanaman yang tahan terhadap kekeringan, penggunaan pupuk organik, irigasi skala kecil, dan mulsa untuk meningkatkan pengelolaan lahan dan sumber daya air di bidang hortikultura. - Tipe 3: Tipe ini menggunakan infrastruktur abu-abu untuk memulihkan sepenuhnya kawasan yang terkontaminasi atau terdegradasi seraya mengelola ekosistem. Misalnya, di Peru, komunitas lokal, pemerintah, industri, dan OMS di Lima bekerja sama untuk mengatur kegiatan konservasi dan restorasi serta mendorong penggunaan sumber daya air secara berkelanjutan.
Praktik yang diterapkan adalah restorasi lahan basah, reboisasi, serta metode berdampak rendah lainnya seperti rehabilitasi sistem ‘amunas’, yang merupakan bagian dari sistem konservasi air tradisional yang menangkap dan menyalurkan air hujan selama musim hujan di Peru. Praktik-praktik ini memiliki dampak positif terhadap kondisi ekosistem dan selanjutnya dapat memperbaiki sistem air pertanian.
Perlu Kajian Integratif untuk Meningkatkan Solusi Berbasis Alam
Pendekatan solusi berbasis alam semakin efektif dalam mengatasi berbagai permasalahan terkait ketersediaan air sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem untuk keberlanjutan pertanian dan ketahanan pangan dunia. Pendekatan ini memberikan kontribusi besar terhadap praktik pertanian berkelanjutan.
Namun, sistem ini bisa menjadi terlalu rumit jika diterapkan pada satu sektor saja. Landasan pengetahuan untuk NbS harus bersifat transdisipliner dan mengintegrasikan pengetahuan ilmiah dan kasus spesifik dengan pengalaman dan praktik pemecahan masalah. Selain itu, skema keuangan yang efektif dan keterlibatan pemangku kepentingan merupakan hal yang penting. Oleh karena itu, perlu kolaborasi yang kuat antara berbagai pemangku kepentingan lintas-sektoral agar implementasi NbS dapat berhasil dan diperluas untuk pengelolaan air pertanian dan isu-isu pembangunan berkelanjutan lainnya
Editor: Nazalea Kusuma & Kresentia Madina
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.
Prayul is a Reporter at Green Network Asia. She graduated from Adi Buana University with a bachelor's degree in Biology.

Menyoroti Peran Perusahaan dalam Menyediakan Akses terhadap WASH di Lingkungan Kerja
Memahami Perjanjian Laut Lepas PBB
Menilik Langkah Indonesia Bergabung dengan Koalisi Pasar Karbon Global
Risiko dan Peluang Kabel Bawah Laut bagi Pembangunan Berkelanjutan
Tantangan dan Peluang Penerapan Pajak Karbon di Indonesia
Meningkatnya Serangan dan Kekerasan terhadap Pembela Lingkungan dan Tanah