Bagaimana Kerja Sama Indonesia-Prancis dalam Memperkuat Industri Kakao
Foto: Kyle Hinkson di Unsplash.
Kakao telah menjadi salah satu komoditas penting di dunia, terutama dalam menopang industri makanan dan minuman serta beberapa industri lainnya. Di Indonesia, kakao termasuk salah satu komoditas perkebunan yang memberikan sumbangsih signifikan terhadap devisa negara. Sayangnya, para petani kakao yang selama ini menjadi ujung tombak dalam rantai produksi seringkali terhimpit oleh berbagai tekanan dan jauh dari kehidupan yang sejahtera. Terkait hal ini, Indonesia menjalin kerja sama dengan Prancis untuk memperkuat petani kecil di sektor industri kakao Indonesia melalui proyek INDOCACAO.
Potret Industri Kakao di Indonesia
Industri kakao di Indonesia menghadapi berbagai tantangan yang signifikan, mulai dari produktivitas yang menurun, kesenjangan dalam akses teknologi budidaya dan pascapanen, hingga perubahan iklim. Laporan Kinerja Industri Kakao menyebut bahwa produksi kakao terus menurun dalam setidaknya satu dekade terakhir. Pada tahun 2022, misalnya, produksi kakao berada di angka 650.612 ton, namun turun menjadi 632.700 ton pada tahun 2024.
Kesenjangan dalam akses teknologi budidaya dan pascapanen serta kurangnya kapasitas pengolahan hilir, juga menjadi tantangan serius. Sebagian besar petani menjual biji mentah yang tidak difermentasi atau tidak diolah, sehingga nilai tambah kakao mereka rendah dan akses ke pasar premium (fine/flavour cocoa) pun menjadi terbatas. Sementara itu, industri pengolahan domestik belum tumbuh secara memadai karena keterbatasan teknologi dan pasokan biji kakao berkualitas yang tidak konsisten. Tantangan-tantangan tersebut masih diperparah oleh degradasi lingkungan dan perubahan iklim yang mempengaruhi pola tanam, kesuburan tanah, hingga hasil panen.
Para petani kecil menjadi pihak yang paling merasakan semua tantangan tersebut. Dan di tengah isu kesejahteraan, akses ke pelatihan dan pembiayaan bagi petani kecil juga masih terbatas.
Proyek INDOCACAO
Diluncurkan pada 18 September 2025, INDOCACAO adalah proyek kolaborasi antara Kementerian PPN/Bappenas, Kedutaan Besar Prancis di Indonesia, dan CIRAD (Organisasi Penelitian dan Kerja Sama Pertanian Prancis). Proyek yang akan berjalan selama dua tahun (2025-2027) ini bertujuan untuk memperkuat produsen kecil di sektor kakao Indonesia dengan fokus pada perempuan dan pemuda, serta metode yang dapat meningkatkan nilai tambah.
Proyek INDOCACAO akan membantu memperkuat sektor industri kakao dengan tiga target utama, yakni:
- Pembangunan pusat teknis untuk pertanian kakao berkelanjutan, dengan inisiatif percontohan di Jawa dan Sulawesi. Pusat teknis ini menyediakan layanan konsultasi dan pelatihan teknis bagi para manajer sektor dan program penyuluhan bagi petani; akses ke pinjaman mikro; dan desain pendidikan yang inovatif.
- Meningkatkan rantai nilai kakao dengan memperkuat kualitas dan daya saing ekspor melalui penyebaran praktik pascapanen yang baik, kemitraan komersial dengan produsen cokelat internasional, dan pelatihan profesional dalam analisis organoleptik untuk mempromosikan cita rasa.
- Memperkuat ketahanan dan keberlanjutan ekologi melalui penerapan praktik wanatani dan inisiatif reforestasi untuk melindungi keanekaragaman hayati dan tanah, serta mengembangkan varietas kakao yang lebih tahan terhadap penyakit dan perubahan iklim; serta mendorong produksi kakao dengan prinsip “zero imported deforestation”.
“Sektor kakao memiliki peran strategis dalam mendukung agenda hilirisasi, peningkatan kesejahteraan petani, serta pertumbuhan ekonomi berkelanjutan…. Pencapaian tujuan tersebut memerlukan keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan, baik dari kementerian, akademisi, sektor swasta, mitra pembangunan, hingga peneliti,” kata Leonardo A.A. Teguh Sambodo, Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas.
Mewujudkan Kemitraan yang Transformatif
Namun, agar benar-benar membawa dampak bagi kesejahteraan petani dan mendukung terwujudnya industri kakao yang berkelanjutan, pemerintah dan mitra harus memastikan bahwa kerja sama ini berjalan secara transformatif dan berbasis keadilan dengan melibatkan para petani sejak tahap perencanaan hingga evaluasi, alih-alih sekadar menempatkan mereka sebagai penerima manfaat. Penguatan kapasitas kelembagaan lokal seperti kelompok tani dan UMKM pengolahan kakao, disertai dengan investasi pada teknologi pascapanen dan pengolahan, menjadi sangat penting agar mereka dapat menjadi aktor utama dalam industri kakao Indonesia.

Mengantisipasi Masalah Berulang dari Integrasi Program MBG untuk Lansia dan Disabilitas
Strategi Lima Tahun Nepal untuk Bersihkan Tumpukan Sampah di Gunung Everest
Bentakan hingga Penyiksaan: Urgensi untuk Mengakhiri Kekerasan terhadap Tahanan
Pertumbuhan Pesat Pusat Data dan Dampaknya terhadap Kesehatan Masyarakat
Menggeser Paradigma: Urgensi Reformasi Hukum Lingkungan di Indonesia
Mengulik Kemajuan Teknologi sebagai Pengganti Uji Coba pada Hewan