Melihat Kota Spons di China sebagai Solusi Berbasis Alam untuk Pengelolaan Air Perkotaan
Shenzhen Talent Park, contoh penerapan kota spons di China. | Foto: Hope Design Co., Ltd.
Urbanisasi, alih fungsi lahan, dan krisis iklim meningkatkan risiko banjir di kota-kota besar di seluruh dunia. Di China, di mana kota-kota berkembang pesat, solusi berbasis alam seperti kota spons muncul sebagai desain perkotaan yang adaptif terhadap iklim, terutama untuk pengelolaan air perkotaan yang berkelanjutan.
Risiko Banjir di Wilayah Perkotaan
Urbanisasi biasanya menuntut pengembangan lingkungan binaan perkotaan untuk mengakomodasi pertumbuhan penduduk. Pengembangan lingkungan binaan seringkali melibatkan infrastruktur abu-abu, dengan beton, baja, dan sebagainya.
Namun, permukaan kedap air yang semakin meluas dan sistem drainase yang tidak memadai membuat kota semakin rentan terhadap genangan air dan kerusakan akibat banjir. Peristiwa cuaca ekstrem dan naiknya permukaan air laut akibat perubahan iklim semakin memperburuk risiko banjir. Pada saat yang sama, kota-kota juga menghadapi peningkatan permintaan air bersih akibat kekeringan dan polusi air.
Kota-kota di China tidak terkecuali. Di Provinsi Hunan, misalnya, banjir pada tahun 2020 merendam lebih dari 21.000 rumah, merusak 600.000 hektare lahan pertanian, dan berdampak pada hampir tujuh juta orang. Situasi ini menggarisbawahi masalah sistem drainase konvensional dan semakin berkurangnya kapasitas penyerapan tanah dalam menghadapi hujan deras.
Kota-Kota Spons di China
Menanggapi hal ini, pemerintah China secara resmi meluncurkan inisiatif kota spons pada tahun 2015. Model ini menekankan penggunaan infrastruktur hijau, seperti ruang terbuka hijau perkotaan, taman hujan, perkerasan permeabel, kolam retensi, dan atap hijau. Tidak seperti sistem drainase konvensional, kota spons dirancang untuk memfasilitasi infiltrasi, penyimpanan, dan pemurnian air untuk mengurangi banjir perkotaan sekaligus meningkatkan ketahanan air.
Target nasionalnya adalah pada tahun 2030, 80% wilayah perkotaan China harus mampu menyerap dan menggunakan kembali setidaknya 70% air hujan. Beberapa kota dan distrik telah menerapkan model ini. Di Chongqing, taman spons seluas 700 m² dapat menampung air dari area kedap air seluas 2.000 m² sekaligus berfungsi sebagai ruang publik edukasi tentang pengelolaan air berkelanjutan. Nanjing telah menguji berbagai perkerasan permeabel yang mengurangi volume dan kecepatan limpasan, meskipun pemeliharaannya masih menjadi tantangan. Di Quanzhou, kombinasi ruang terbuka hijau dan perkerasan permeabel telah mengurangi tekanan pada sistem drainase sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan secara keseluruhan.
Namun, skala pemanfaatan kembali air hujan masih terbatas. Tinjauan implementasi kota spons menunjukkan bahwa sebagian besar proyek masih banyak berfokus pada pengurangan risiko banjir dan pengendalian limpasan, sementara pemanenan dan pemanfaatan kembali air hujan masih diperkenalkan secara bertahap di beberapa lokasi percontohan.
Mewujudkan Kota Tangguh dan Adaptif terhadap Iklim
Selain pengelolaan banjir, kota spons juga dapat memberikan manfaat sosial dan lingkungan. Ruang-ruang kota spons berfungsi sebagai area rekreasi, meningkatkan kualitas udara, dan membantu mengurangi efek pulau panas perkotaan.
Kota spons di China masih terus berkembang, dengan tingkat keberhasilan yang beragam di berbagai distrik dan kota percontohan. Sejauh ini, efektivitasnya sangat bergantung pada kondisi lingkungan, desain lokal, dan pemeliharaan rutin.
Namun, model dan implementasi ini menawarkan wawasan tentang solusi berbasis alam di wilayah perkotaan, terutama yang rentan terhadap banjir. Pada akhirnya, kuncinya terletak pada dukungan kebijakan yang konsisten, pemilihan teknologi yang disesuaikan dengan konteks lokal, investasi jangka panjang, dan partisipasi masyarakat.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Kematian dan Bunuh Diri Anak sebagai Isu Struktural: Kurangnya Pemenuhan Hak Anak
Mengatasi Kesenjangan yang Dihadapi Perempuan di Bidang STEM
Finding Harmony: Pencarian Harmoni dengan Alam di Benak Sang Raja
Mengatasi Eksploitasi di Balik Program Migrasi Tenaga Kerja Sementara
Mewujudkan Kondisi Kerja yang Layak bagi Pekerja Platform
Memetakan Kebutuhan Konservasi Hiu dan Pari secara Global