Bagaimana Jebakan Produktivitas Pekerjaan dapat Merenggut Kehidupan Kita
Foto: Tima Miroshnichenko di Pexels.
Ada jenis kelelahan tertentu yang muncul karena seseorang tak pernah benar-benar merasa cukup. Kehidupan sehari-hari berubah menjadi rutinitas seperti mencatat waktu tidur, menjadwalkan setiap jam, merencanakan makan, menghitung langkah, dan seterusnya. Bagi banyak orang saat ini, produktivitas telah bergeser dari sekadar kebiasaan kerja menjadi cara hidup. Namun, ketika efisiensi menjadi lensa utama dalam memandang diri, muncul apa yang disebut sebagai “jebakan produktivitas”.
Dari Etos Kerja ke Identitas
Gagasan bahwa kerja keras mendatangkan kesuksesan bukanlah hal baru. Namun, gagasan tersebut telah mengalami perubahan.
Perangkat digital membuat—bahkan menuntut—seseorang untuk selalu hadir, responsif, dan produktif hampir setiap saat. Riset menunjukkan bahwa pekerja digital rata-rata terganggu setiap dua menit oleh pesan, email, atau rapat selama jam kerja inti. Hampir setengahnya (40%) bahkan sudah memeriksa jadwal sebelum pukul 6 pagi. Apa yang dulu dianggap sebagai dedikasi, kini bagi banyak orang lebih menyerupai perangkap.
Budaya “hustle” tidak muncul begitu saja. Ia dibentuk oleh sistem ekonomi yang memberi imbalan pada output tanpa henti, platform yang didesain untuk menarik engagement, serta pasar tenaga kerja yang membuat rasa aman menjadi langka. Penelitian menunjukkan bahwa tekanan untuk terus berperforma kini melekat pada identitas itu sendiri. Dalam kondisi ini, istirahat tidak lagi dipandang sebagai pemulihan, melainkan sebagai ketertinggalan.
Optimalisasi dan Ketimpangan
Tuntutan sosial dan ekonomi untuk terus berproduksi menciptakan jebakan produktivitas. Lebih parahnya lagi, jebakan ini tidak berdampak sama pada semua orang, dan malahan menunjukkan dan memperparah ketimpangan yang telah lama ada.
Bagi pekerja gig, freelancer, dan mereka yang berada dalam pekerjaan yang tidak pasti, tekanan untuk terus bekerja bukannya pilihan gaya hidup, melainkan kondisi struktural. Studi tentang pekerja generasi Y dan Z menemukan bahwa bagi banyak dari mereka, budaya hustle bukan soal ambisi, melainkan tentang bertahan hidup. Ketiadaan akses ke cuti sakit, pendapatan yang stabil, atau perlindungan hukum, membuat mereka menanggung konsekuensi yang berat ketika berhenti sejenak.
Platform berbasis algoritma memberi kesan otonomi, tetapi sekaligus menanamkan ketimpangan struktural dalam setiap tugas dan penilaian. Bahasa “optimalisasi” dengan mudah menyamarkan hal ini. Ketika sistem dirancang untuk mengekstrak output maksimum, menyebut kerja berlebihan sebagai ambisi pribadi justru memindahkan seluruh beban kepada individu.
Dampak Jebakan Produktivitas
Jebakan produktivitas memiliki konsekuensi nyata terhadap kesejahteraan manusia. Data menunjukkan bahwa 15% orang usia kerja di dunia hidup dengan gangguan mental, dengan beban kerja berat dan tekanan berkepanjangan sebagai faktor utama.
Burnout bukan sekadar perasaan pribadi. Laporan Burnout Inggris 2025 menemukan bahwa tidak sampai satu dari tiga pekerja yang merasa terpenuhi dalam pekerjaannya. Hanya 42% yang merasa mampu “memutus” diri dari pekerjaan saat dibutuhkan, dan angka ini turun menjadi 33% pada kelompok usia 18–24 tahun. Generasi muda, yang tumbuh di tengah budaya optimalisasi diri, justru menjadi kelompok yang paling terdampak.
Dampak ini juga terukur secara ekonomi. Menurut WHO dan ILO, sekitar 12 miliar hari kerja hilang setiap tahun akibat depresi dan kecemasan, dengan kerugian ekonomi global hampir mencapai satu triliun dolar per tahun. Sementara itu, World Economic Forum memperkirakan bahwa gangguan kesehatan mental dapat merugikan ekonomi global hingga 6 triliun dolar pada 2030, dengan kelompok usia 10–24 tahun sebagai yang paling terdampak.
Lebih lanjut, kesehatan mental yang buruk tidak hanya menurunkan produktivitas, tetapi juga kemampuan seseorang untuk belajar, berinteraksi, dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Jika terjadi secara luas lintas generasi, jebakan produktivitas dapat menghambat pembangunan berkelanjutan, menciptakan rangkaian masalah yang saling terkait antara kesehatan fisik dan mental, pekerjaan layak, serta pertumbuhan ekonomi.
Menimbang Ulang Standar Hidup yang Baik
Hingga 2024, setidaknya 18 negara telah memberlakukan “Hak untuk Tidak Terhubung” yang memberi pekerja hak untuk mengabaikan komunikasi terkait pekerjaan di luar jam kerja. Namun, regulasi saja tidaklah cukup untuk mengubah budaya. Kita perlu memikirkan ulang untuk apa sebenarnya produktivitas itu.
Masalahnya bukan soal efisiensi. Yang menjadi persoalan adalah ketika produktivitas menjajah ruang istirahat, identitas, dan relasi manusia. Tanpa transformasi yang sadar dan bermakna, logika optimalisasi akan merambat ke setiap aspek kehidupan, tanpa menyisakan ruang untuk sekadar “ada”.
Pada akhirnya, pembangunan berkelanjutan menuntut kita untuk mengajukan pertanyaan yang lebih tidak nyaman. Bukan tentang bagaimana menghasilkan lebih banyak dengan lebih sedikit, melainkan kehidupan seperti apa yang sebenarnya ingin kita bangun bersama, tanpa meninggalkan seorang pun di belakang.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Mengulik Kendali Algoritma dalam Kehidupan Remaja Perempuan di Era Digital
Kenaikan Permukaan Laut dan Tantangan Kesehatan yang Semakin Kompleks
Potensi Car Free Day dalam Menciptakan Kota Berkelanjutan
Memperkuat Regulasi untuk Hapus Diskriminasi dalam Rekrutmen Tenaga Kerja
Merenungkan Dampak Eksplorasi Antariksa
Dugaan Pelanggaran HAM dalam Proyek Panas Bumi di Dieng dan Tandikat-Singgalang