Mengulik Kendali Algoritma dalam Kehidupan Remaja Perempuan di Era Digital
Foto: Andre Moura.
Tanyakan pada seorang remaja perempuan hari ini standar apa yang ia gunakan untuk membandingkan dirinya, dan jawabannya kemungkinan besar adalah apa yang ia lihat di media sosial. Ya, algoritma. Bukan dalam makna metaforis atau abstrak, melainkan harfiah: seperangkat aturan yang dirancang untuk menentukan apa yang ia lihat, seberapa sering ia melihatnya, dan jenis konten apa yang “dihargai”.
Di dunia hari ini, platform digital tidak sekadar merefleksikan realitas yang dihadapi remaja perempuan. Ia memeringkatkan, menyaring, dan memantulkannya kembali dalam sebuah siklus yang dirancang untuk membuat mereka terus terikat. Bagi remaja perempuan yang berada pada tahap perkembangan psikologis paling rentan, siklus ini membawa dampak serius.
Algoritma sebagai Lingkungan Sosial
Masa remaja adalah periode ketika identitas mulai terbentuk, yang ditandai oleh pertanyaan tentang diri, perbandingan dengan teman sebaya, dan keinginan untuk diterima. Media sosial tidak menciptakan kerentanan ini, tetapi “mengindustrialisasikannya”.
Penelitian menggambarkan persinggungan antara platform visual, umpan balik sosial yang terukur seperti “like”, dan kerentanan remaja sebagai semacam “badai sempurna”. Bahayanya bukan terletak pada satu fitur tertentu, melainkan pada kombinasi semuanya. Konten yang berfokus pada apa yang terlihat, evaluasi instan dari orang lain, serta sistem yang memprioritaskan keterlibatan di atas segalanya.
Siklusnya begini. Seorang remaja perempuan mengunggah foto. Lalu ada “like”, atau tidak. Sinyal emosionalnya langsung terasa dan terukur. Ia kemudian menyesuaikan diri: pose, filter, caption, hingga waktu unggahan. Algoritma platform mengenali apa yang “berhasil” dan menyajikan lebih banyak konten serupa. Remaja lain, tubuh lain, estetika lain, semuanya diberi ganjaran berupa persetujuan yang terlihat.
Studi tahun 2025 menunjukkan bahwa semakin lama seseorang mengonsumsi konten dengan tema tertentu, semakin banyak konten serupa yang akan disajikan. Ini menciptakan lingkaran tertutup tanpa jalan keluar alami bagi remaja yang bergumul dengan citra tubuhnya. Artinya, seorang remaja yang terus melihat konten tentang tubuh—bahkan karena kecemasan, bukan aspirasi—akan terus disuguhi hal yang sama. Linimasa menjadi cermin yang hanya memantulkan satu hal. Akibatnya, data menunjukkan adanya hubungan statistik yang konsisten antara perilaku perbandingan daring dengan gangguan citra tubuh dan gejala gangguan makan, dalam berbagai budaya dan konteks.
Lapisan Ketimpangan
Dalam perspektif yang lebih interseksional, dampak dari “masa remaja algoritmik” ini nyata, tetapi tidak merata. Seorang remaja perempuan di Nairobi dan di London mungkin sama-sama menggunakan Instagram, tetapi mereka tidak mengalaminya dari posisi yang setara.
Remaja perempuan dalam konteks berpenghasilan rendah terekspos pada standar kecantikan dan perilaku yang sebagian besar diproduksi di Global Utara, sementara mereka memiliki jauh lebih sedikit kuasa untuk membentuk, menantang, atau bahkan keluar dari sistem tersebut. Pada dasarnya, lingkungan digital dan pembelajaran mesin (machine learning) tidak menciptakan ketimpangan dari nol; ia mewarisi hierarki ras, gender, dan sejarah yang sudah ada, lalu memperparahnya. Seorang remaja perempuan kulit hitam di Nairobi melihat standar kecantikan Eurosentris yang sama, diperkuat oleh logika engagement yang sama, seperti yang dilihat remaja perempuan kulit putih di London.
Dampak Jangka Panjang terhadap Remaja Perempuan
Dampak ini melampaui masa remaja dan ruang digital. Kerangka tematik Kantor Komisioner Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) tentang gender dan ruang digital menempatkan dampak algoritmik pada remaja perempuan bukan sekadar isu kesejahteraan, tetapi juga persoalan hak asasi manusia dan partisipasi ekonomi.
Remaja perempuan yang tumbuh dalam lingkungan yang secara sistematis menggerus rasa percaya diri, mempersempit kemungkinan hidup, dan menjauhkan mereka dari bidang teknis, cenderung tidak menjadi insinyur, pembuat kebijakan, atau pemimpin sipil yang dibutuhkan untuk pembangunan yang setara. Indeks SDG Equal Measures 2030 menegaskan bahwa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 5 tentang kesetaraan gender tidak akan tercapai pada 2030 tanpa percepatan tindakan, dan lingkungan digital kini menjadi faktor kunci dalam lintasan tersebut. Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial PBB juga memproyeksikan bahwa tanpa intervensi struktural, ratusan juta perempuan dan anak perempuan masih akan hidup dalam kemiskinan ekstrem pada 2030. Angka-angka ini tidak bisa dipisahkan dari apa yang terjadi pada kepercayaan diri dan kapasitas remaja perempuan selama masa pertumbuhan mereka.
Yang Perlu Diubah
Kembali ke masa sebelum era digital jelas mustahil, namun memperbaiki tata kelola sangat mungkin dilakukan. Perusahaan teknologi perlu menyelaraskan proses desain mereka dengan standar HAM internasional, dengan perhatian khusus pada perempuan dan anak perempuan. Audit risiko algoritma wajib, laporan transparansi tahunan, serta pengawasan independen pihak ketiga untuk platform yang diakses oleh anak di bawah umur harus diterapkan.
Pendidikan literasi digital memang penting, tetapi tidak bisa menjadi satu-satunya solusi. Mengajarkan remaja perempuan untuk “melawan” sistem yang memang dirancang agar sulit dilawan justru membebankan tanggung jawab pada pihak yang tidak tepat. Masalahnya bukan soal screen time. Ini adalah soal siapa yang membangun lingkungan tempat remaja perempuan tumbuh, apa tujuan dari desain tersebut, dan apakah kita bersedia mengaturnya dengan bertanggung jawab.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Kenaikan Permukaan Laut dan Tantangan Kesehatan yang Semakin Kompleks
Potensi Car Free Day dalam Menciptakan Kota Berkelanjutan
Memperkuat Regulasi untuk Hapus Diskriminasi dalam Rekrutmen Tenaga Kerja
Merenungkan Dampak Eksplorasi Antariksa
Dugaan Pelanggaran HAM dalam Proyek Panas Bumi di Dieng dan Tandikat-Singgalang
Langkah F1 dalam Memenuhi Komitmen Nol Emisi 2030