Bagaimana Perubahan Iklim Memperparah Polusi Suara
Thắng-Nhật Trần. | Foto: Pexels.
Sebagian orang mungkin menganggap suara yang bising sebagai gangguan kecil, yang bisa diabaikan selama perjalanan atau diatasi dengan tidur sambil memakai penyumbat telinga. Namun, bagi ratusan juta orang yang tinggal di kawasan padat perkotaan dan berpenghasilan rendah di dekat jalan raya, kawasan industri, dan jalur penerbangan, kebisingan bukanlah gangguan kecil. Polusi suara merupakan paparan yang dapat berdampak serius terhadap kesehatan, dan iklim yang semakin panas membuat kita semakin sulit menghindarinya.
Polusi Suara dan Dampaknya terhadap Tubuh Manusia
Polusi suara adalah keadaan ketika ada suara yang tidak diinginkan atau berlebihan hingga mengganggu kehidupan sehari-hari. Sumbernya beragam, mulai dari lalu lintas dan proses konstruksi hingga dengungan mesin pendingin yang terus-menerus beroperasi untuk pusat data, misalnya. Hari ini, kebisingan nyaris tidak mungkin dihindari, terutama di kawasan perkotaan.
Polusi suara merupakan salah satu ancaman kesehatan masyarakat yang paling diremehkan di dunia, dan bukti yang mendukung anggapan tersebut semakin sulit diabaikan. Badan Lingkungan Eropa (European Environment Agency atau EEA) menyebut kebisingan sebagai risiko kesehatan lingkungan terbesar kedua di Eropa setelah kualitas udara. Pernyataan ini sejalan dengan panduan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Pernyataan bersama dari European Society of Cardiology, American College of Cardiology, American Heart Association, dan World Heart Federation pada 2026 secara resmi mengklasifikasikan kebisingan sebagai bahaya lingkungan bagi jantung, menempatkannya bersama polusi udara, panas, dan paparan bahan kimia sebagai faktor yang berkontribusi terhadap beban penyakit kardiovaskular global.
Ambil contoh polusi suara lalu lintas. Penelitian menunjukkan bahwa paparan kronis terhadap kebisingan lalu lintas berkaitan dengan penyakit kardiovaskular, gangguan tidur, penurunan kinerja kognitif, dan gangguan metabolisme. Kebisingan memicu dampak tersebut melalui sejumlah jalur biologis, termasuk stres oksidatif, peradangan, dan gangguan pada sistem saraf otonom. Dalam kasus terburuk, kebisingan bahkan dapat menyebabkan kematian. Menurut laporan EEA 2025, paparan jangka panjang terhadap kebisingan transportasi di Eropa berkontribusi terhadap 66.000 kematian dini. Kebisingan juga berkontribusi terhadap 50.000 kasus baru penyakit kardiovaskular dan 22.000 kasus baru diabetes tipe 2 setiap tahun.
Mereka yang Menanggung Beban Terbesar
Polusi suara tidak terjadi secara merata di semua tempat. Di berbagai kota di dunia, kawasan berpenghasilan rendah cenderung berada di dekat jalan raya, kawasan industri, jalur penerbangan, dan lokasi konstruksi. Pola ini bukan kebetulan, melainkan warisan keputusan tata kota yang secara konsisten lebih mengutamakan kekayaan segelintir orang ketimpangan kesejahteraan bersama.
Di London, misalnya, penelitian menemukan bahwa kelompok dengan status sosial ekonomi lebih rendah dan kelompok minoritas etnis secara sistematis menghadapi paparan kebisingan transportasi yang lebih tinggi. Sementara itu, permukiman informal di Afrika Selatan memiliki tingkat kebisingan rata-rata hingga 60 desibel pada siang hari, jauh di atas ambang batas aman, dengan lalu lintas jalan dan kepadatan hunian sebagai faktor pendorong utama. Di Accra, Ghana, pertumbuhan lalu lintas perkotaan yang pesat serta kebisingan dari kegiatan usaha informal dan aktivitas keagamaan dilaporkan menciptakan krisis kesehatan yang mulai berkembang.
Paparan kebisingan pada anak-anak juga perlu mendapat perhatian khusus. Sekolah yang berada di dekat jalan raya dan jalur penerbangan menunjukkan dampak yang terukur terhadap perkembangan kemampuan membaca dan kinerja kognitif. Dalam konteks ini, polusi suara merupakan krisis kesetaraan pendidikan yang senyap dan berlangsung di depan mata.
Pekerjaan juga menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap paparan kebisingan. Mereka yang bekerja di sektor konstruksi atau pabrik dengan mesin-mesin berat, misalnya, memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan pendengaran akibat paparan kebisingan terus-menerus. Gangguan pendengaran akibat kebisingan di tempat kerja terkonsentrasi di negara-negara berpenghasilan rendah dan negara yang mengalami industrialisasi pesat, dimana regulasi pengendalian kebisingannya paling lemah dan para pekerjanya memiliki daya tawar paling kecil untuk menuntut perubahan. Sejumlah penelitian mencatat bahwa negara-negara di Asia Timur, Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Afrika sub-Sahara bagian timur menanggung beban terbesar secara global.
Perubahan Iklim Memperparah Keadaan
Keterkaitan masalah ini dengan iklim bersifat langsung namun kurang mendapat perhatian. Seiring kenaikan suhu, semakin banyak orang membuka jendela pada malam hari untuk menghalau panas. Namun, tindakan ini meningkatkan paparan mereka terhadap kebisingan dari luar justru pada jam-jam ketika tubuh paling membutuhkan suasana tenang untuk beristirahat dan memulihkan diri. Pulau panas perkotaan, yang banyak terjadi di kawasan berpenghasilan rendah dengan tutupan pohon minim dan sejak awal telah terbebani polusi suara, semakin memperparah paparan tersebut.
Pada saat yang sama, infrastruktur adaptasi iklim itu sendiri—seperti generator, stasiun pompa, serta pembangunan tanggul laut dan sistem drainase—menambah sumber kebisingan baru bagi masyarakat yang sudah berada di ambang batas aman. Ketika kejadian panas ekstrem semakin sering terjadi, tekanan kardiovaskular akibat panas dan kebisingan juga saling memperparah melalui jalur biologis yang sama, sehingga meningkatkan risiko melampaui dampak yang akan ditimbulkan masing-masing faktor jika berdiri sendiri.
Mewujudkan Kehidupan yang Lebih Tenang
Sering kali, orang terbiasa dengan hal-hal yang mengganggu mereka, terutama jika gangguan tersebut tidak terlihat. Kebisingan bersifat tidak kasatmata, sehingga mudah diabaikan. Namun, dampaknya nyata—baik terhadap tubuh manusia, keanekaragaman hayati, maupun lingkungan.
Seiring pertumbuhan populasi perkotaan, mengatasi polusi suara menjadi semakin penting sekaligus semakin sulit. Memang, solusi individual seperti penyumbat telinga dan jendela kedap suara tersedia, tetapi keduanya masih jauh dari cukup. Mengatasi polusi suara berarti menangani sumber kebisingan sekaligus mengurangi dampaknya. Salah satu contoh mitigasi dampak adalah ruang terbuka hijau perkotaan seperti tutupan pepohonan, taman, dan dinding hijau. Ruang-ruang tersebut berfungsi sebagai peredam suara alami sekaligus mengurangi panas perkotaan, sehingga menjadi salah satu investasi ganda paling efisien yang dapat dilakukan.
Untuk meningkatkan kesehatan perkotaan secara menyeluruh, penerapan regulasi yang efektif adalah kunci. Pemantauan tingkat kebisingan dapat membantu mengumpulkan informasi yang relevan untuk mendukung pengawasan kebisingan, termasuk yang berasal dari lalu lintas. Selanjutnya, pemetaan kebisingan memberikan data kepada para perencana untuk memprioritaskan masyarakat yang paling terpapar. Dengan dasar tersebut, pemerintah dapat mengembangkan regulasi yang kuat dan berbasis data untuk meningkatkan kualitas hidup semua orang.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Menilik Dampak Lingkungan Penggunaan Kulit Hewan dalam Industri Fesyen
Jejak Peringatan Bahaya Eksistensial AI: Dari Layar Bioskop ke Rak Buku
Mengatasi Risiko Tersembunyi Mikroplastik dari Infrastruktur Lepas Pantai
Resistensi Antimikroba Bukan Sekadar Persoalan Medis
Krisis Imajinasi dan Keberlanjutan: Mengapa Masa Depan Perlu Dibayangkan Sebelum Dibangun
Menagih Tanggung Jawab Industri Berbahaya