Bagaimana Spogomi Tangani Masalah Sampah melalui Olahraga Kompetitif
Foto: Vitaly Gariev di Unsplash.
Masalah sampah telah menjadi tantangan yang berlarut-larut dan sulit diatasi. Dalam praktiknya, kesadaran akan pentingnya lingkungan yang bersih tidak selalu berujung pada tindakan nyata. Bahkan, memungut sampah yang terlihat pun belum menjadi kebiasaan umum. Namun, bagaimana jika kegiatan memungut sampah diubah menjadi olahraga kompetitif? Itulah spogomi.
Asal-usul Spogomi
Spogomi pertama kali muncul ketika seorang pelari bernama Kenichi Mamitsuka mulai memungut sampah saat berlari pagi di wilayah Kagoshima, Jepang, sekitar 20 tahun lalu. Meski awalnya merasa canggung karena mendapat tatapan heran dari orang-orang di sekitarnya, aktivitas ini lama-kelamaan menjadi menyenangkan. Mamitsuka kemudian mengembangkan kebiasaan sederhana tersebut menjadi olahraga terorganisasi bernama Spogomi. Sesuai dengan esensinya, istilah “Spogomi” sendiri merupakan gabungan dari kata “sport” dan “gomi” yang berarti “sampah” dalam bahasa Jepang.
Saat ini, Spogomi dikelola oleh Nippon Foundation SPOGOMI Federation. Piala Dunia Spogomi pertama diselenggarakan pada 2023 di Tokyo, di mana tim dari 21 negara saling berkompetisi. Jumlah peserta terus meningkat, dan pada Piala Dunia Spogomi 2025, sebanyak 34 tim berhasil lolos kualifikasi. Tim Jepang dengan nama Smile Story memenangkan ajang tersebut, mengalahkan tim Jerman The Grandline-Cleaners dengan selisih kurang dari satu pon sampah yang dikumpulkan.
Aturan dalam Spogomi
Yang membedakan Spogomi dari kegiatan memungut sampah pada umumnya adalah adanya aturan yang terstruktur. Setiap tim yang biasanya terdiri dari tiga orang diberi waktu 45 menit untuk mengumpulkan sampah di area yang telah ditentukan.
Peserta tidak diperbolehkan berlari dan harus bergerak dengan langkah cepat, sambil menjaga jarak sekitar 10 meter satu sama lain. Mereka juga dilarang memasuki properti pribadi atau mengambil benda berbahaya, seperti pecahan kaca. Setelah waktu pengumpulan selesai, setiap tim memiliki waktu 15 menit untuk kembali ke titik awal, dan akan mendapatkan penalti jika terlambat.
Setibanya di titik awal, setiap tim diberi waktu 20 menit untuk memilah sampah sesuai kategori. Skor akhir ditentukan berdasarkan berat dan jenis sampah yang dikumpulkan, di mana beberapa jenis, seperti puntung rokok, memiliki nilai lebih tinggi dan memberikan poin tambahan.
Mamitsuka menekankan bahwa Spogomi terbuka untuk semua orang, tanpa memandang usia maupun gender. Penekanan pada inklusivitas ini mencerminkan kenyataan bahwa sampah adalah persoalan universal yang membutuhkan partisipasi dari seluruh lapisan masyarakat.
Masalah Sampah Global
Dalam publikasinya bertajuk “What a Waste 3.0”, Bank Dunia melaporkan bahwa produksi sampah global meningkat lebih cepat dari perkiraan sebelumnya, mencapai 2,6 miliar ton sampah padat perkotaan pada 2022. Jika tren ini terus berlanjut, jumlah tersebut diperkirakan akan meningkat menjadi 3,86 miliar ton pada 2050, dengan sampah plastik menyumbang sekitar 12,5% secara keseluruhan.
Selain volume, pengelolaan sampah juga memiliki implikasi besar terhadap iklim. Pada 2022, sektor sampah menghasilkan sekitar 1,28 miliar ton emisi setara CO₂, dan diproyeksikan meningkat menjadi 1,84 miliar ton pada 2050 jika tidak ada perubahan signifikan.
Pada saat yang sama, banyak belahan dunia masih menghadapi persoalan sampah yang tidak terangkut. Selain memengaruhi kebersihan, hal ini juga berdampak pada kualitas hidup dan tingkat pencemaran.
Perlu Aksi Lingkungan yang Lebih Luas
Meskipun banyak peserta awalnya tertarik pada aspek kompetitif Spogomi, kegiatan ini juga bertujuan meningkatkan kesadaran terhadap isu lingkungan yang lebih luas. Namun, seperti dicatat oleh Marianne Krasny dari Civic Ecology Lab di Cornell University, upaya memungut sampah saja belum cukup untuk mengatasi akar permasalahan.
Masyarakat dapat berperan lebih aktif dengan mendorong aksi lingkungan yang lebih luas, termasuk perubahan struktural menuju praktik yang lebih berkelanjutan. Mamitsuka sebagai penggagas Spogomi juga memiliki pandangan serupa. Ia menekankan bahwa Spogomi seharusnya mendorong keterlibatan yang lebih besar di tingkat komunitas lokal. Dengan demikian, Spogomi dapat menjadi titik awal menuju keterlibatan aksi lingkungan yang lebih bermakna.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Merespons Krisis Energi dengan Kebijakan Seperempat Hati
Obesitas di Indonesia Terus Melonjak
Memudarnya Warna Kupu-Kupu Akibat Deforestasi dan Perubahan Iklim, Apa Dampaknya?
Mendorong Transformasi Industri Peternakan dengan Pendekatan berbasis Sains
Hak untuk Tetap Dingin dan Maknanya bagi Masyarakat Adat Inuit
Menakar Peran Hunian Vertikal berbasis TOD di Tengah Krisis Perumahan