Clean Cooking sebagai Pengganda Pembangunan di Afrika
Foto: Dilyar Sultan di Pexels.
Setiap pagi, sebelum matahari terbit, jutaan perempuan di banyak negara Afrika sudah beranjak meninggalkan rumah mereka. Bukan untuk bekerja atau pergi ke sekolah, melainkan untuk mencari kayu bakar guna menyiapkan sarapan. Ketika makanan pertama hari itu akhirnya siap saji, berjam-jam telah dihabiskan, asap memenuhi paru-paru mereka, dan kemungkinan-kemungkinan yang bisa dijalani hari itu pun mengecil. Dalam rancangan masa depan pembangunan Afrika, dapur menjadi salah satu titik awal yang paling strategis, dan clean cooking (memasak bersih) merupakan salah satu jalan utamanya.
Kesenjangan Akses terhadap Clean Cooking
Clean cooking merujuk pada penggunaan bahan bakar dan teknologi yang menghasilkan emisi berbahaya seminimal mungkin selama proses memasak. Sistem ini meliputi gas petroleum cair (LPG), listrik, biogas, serta kompor biomassa yang lebih efisien. Kebalikannya adalah praktik memasak tradisional, yang mengandalkan api terbuka dan bahan bakar padat seperti kayu, arang, batu bara, dan kotoran ternak. Di Afrika Sub-Sahara, praktik yang disebut terakhir ini masih menjadi norma yang dominan.
Pada 2023, sekitar 960 juta orang di Afrika Sub-Sahara belum memiliki akses terhadap clean cooking. Kawasan ini juga merupakan satu-satunya wilayah di dunia di mana angka tersebut masih terus meningkat, didorong oleh pertumbuhan penduduk yang melampaui laju adopsi teknologi baru. Secara global, lebih dari 2 miliar orang masih tidak memiliki akses terhadap clean cooking pada tahun yang sama, dan Afrika Sub-Sahara menyumbang sekitar setengah dari kesenjangan tersebut. Lebih dari sekadar kesenjangan akses, angka-angka tersebut menunjukkan persoalan pembangunan yang lebih luas.
Biaya yang Harus Ditanggung
Biaya paling langsung dari kesenjangan ini adalah hilangnya nyawa manusia. Polusi udara dalam rumah tangga akibat pembakaran bahan bakar padat menyebabkan sekitar 2,9 juta kematian dini setiap tahun. Kematian ini secara tidak proporsional menimpa perempuan dan anak-anak, melalui penyakit seperti stroke, penyakit jantung iskemik, serta infeksi saluran pernapasan bawah.
Konsekuensi lainnya adalah kemiskinan waktu. Perempuan di komunitas yang bergantung pada biomassa dapat menghabiskan hingga 20 jam per minggu hanya untuk mengumpulkan kayu bakar. Bagi banyak perempuan pedesaan di Afrika Sub-Sahara, hal ini memakan waktu sekitar dua hingga empat jam setiap hari. Beban waktu ini semakin berat ketika deforestasi memburuk dan mereka harus berjalan semakin jauh untuk menemukan kayu bakar karena persediaan hutan terus menurun.
Selain itu, biaya lingkungannya pun besar. Diperkirakan sekitar 27–34% kayu bakar yang dipanen secara global berasal dari sumber yang tidak dapat diperbarui. Afrika Sub-Sahara kehilangan sekitar 3,9 juta hektare hutan setiap tahun, dengan pengumpulan kayu bakar sebagai salah satu penyebab utama. Di sisi lain, penggunaan bahan bakar kayu menyumbang sekitar 1,0–1,2 gigaton setara CO₂ per tahun, atau sekitar 1,9–2,3% dari total emisi global.
Persoalan-persoalan ini tidak berdiri sendiri. Semuanya merupakan gejala yang saling memperkuat kesenjangan struktural yang sama. Di sinilah terlihat mengapa clean cooking bukan sekadar isu kesehatan, melainkan prioritas pembangunan yang memiliki banyak dimensi.
Pengganda Pembangunan
Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, ada istilah developmental multiplier, yang merujuk pada suatu tindakan atau investasi tunggal yang menghasilkan dampak berantai pada berbagai sektor. Clean cooking merupakan salah contoh konsep tersebut. Sekitar 85% dari keseluruhan Agenda 2030 saling berkaitan dengan SDG 7 tentang energi bersih dan terjangkau. Clean cooking berada tepat di persimpangan isu kesehatan, gender, iklim, dan ekonomi.
Pertama, clean cooking dianggap lebih menyehatkan bagi tubuh. Manfaat kesehatan tersebut tercermin dalam angka-angka ekonomi. Analisis biaya-manfaat terhadap intervensi kompor masak yang lebih baik—termasuk peralihan ke kompor kayu yang lebih efisien, LPG, dan kompor listrik—menunjukkan bahwa manfaat kesehatan menyumbang bagian terbesar dari peningkatan kesejahteraan secara keseluruhan. Bahkan, manfaat tersebut melampaui keuntungan dari sisi iklim maupun penghematan biaya bahan bakar dalam banyak skenario. Dengan kata lain, pengganda pertama dari clean cooking bekerja melalui tubuh manusia, tetapi hasilnya dapat diukur dalam produktivitas tenaga kerja dan perekonomian.
Bagi perempuan khususnya, clean cooking juga menjadi pengganda pemberdayaan waktu dan ekonomi. Peralihan menuju clean cooking bukan sekadar perubahan di ranah domestik, tetapi juga menciptakan lapangan kerja di sepanjang rantai pasok, mulai dari produksi kompor, distribusi bahan bakar, penjualan ritel, pemeliharaan, hingga kegiatan penyuluhan di masyarakat. Laporan Africa Energy Outlook dari Badan Energi Internasional (IEA) menyebutkan bahwa Afrika membutuhkan sekitar 4 juta tambahan pekerjaan di sektor energi di seluruh benua, dan banyak di antaranya membuka peluang yang lebih baik bagi perempuan. Penelitian juga menunjukkan bahwa pengalihan waktu dari pekerjaan perawatan yang tidak dibayar merupakan salah satu mekanisme utama yang memungkinkan perempuan berpartisipasi lebih besar dalam kegiatan ekonomi dan memperoleh kemandirian.
Dari sisi lingkungan, transisi ini juga masuk akal. Clean cooking membebaskan perempuan dari beban mengumpulkan kayu bakar sekaligus mengurangi permintaan terhadap bahan bakar padat. Selain membantu mengurangi deforestasi, IEA memperkirakan bahwa pencapaian akses universal terhadap clean cooking dapat menghemat hingga 1,5 gigaton CO₂eq pada 2030, dengan sekitar 900 juta ton di antaranya berasal dari Afrika Sub-Sahara.
Transisi yang Sedang Berlangsung
Dengan manfaat yang luas dan berlapis, argumen untuk clean cooking menjadi sangat kuat. Kini, kemajuan pun mulai terlihat. Dalam lima tahun terakhir, Kenya dan Nigeria masing-masing berhasil memperluas akses terhadap clean cooking kepada sekitar 2,7% penduduknya setiap tahun.
Selain itu, investasi langsung dalam infrastruktur clean cooking di Afrika mencapai sekitar 675 juta dolar AS pada 2023—meningkat 10% dibanding tahun sebelumnya, terutama didorong oleh pertumbuhan penggunaan LPG.
Selain itu, KTT International Energy Agency tentang Clean Cooking di Afrika pada 2024 berhasil mencapai komitmen pendanaan sebesar 2,2 miliar dolar AS dari sektor publik dan swasta. Komitmen ini didukung oleh janji kebijakan dari dua belas pemerintah Afrika, dan sejauh ini sekitar 470 juta dolar AS telah mulai disalurkan.
Mengatasi Hambatan
Namun, meskipun bukti manfaatnya sangat kuat, sektor clean cooking selama ini sering diperlakukan sebagai “anak tiri” dalam pembiayaan pembangunan. Clean cooking tidak memiliki dukungan kelembagaan maupun visibilitas politik seperti yang selama ini dinikmati proyek-proyek elektrifikasi skala besar.
Inilah inti persoalannya. Clean cooking merupakan intervensi yang tersebar di tingkat rumah tangga, sehingga secara struktural lebih sulit dibiayai dibandingkan pembangunan jaringan listrik besar. Perusahaan swasta masih kesulitan membangun model bisnis yang layak di pasar berpendapatan rendah tanpa mekanisme pengurangan risiko. Saat ini, hampir dua pertiga penduduk Afrika Sub-Sahara harus menghabiskan lebih dari 10% pendapatan rumah tangga mereka untuk dapat membeli solusi clean cooking. Hambatan ini tidak dapat diatasi oleh investasi tanpa kerangka subsidi yang memadai.
Akibatnya, kesenjangan pendanaan tetap besar. IEA memperkirakan bahwa investasi tahunan untuk clean cooking harus mencapai 8 miliar dolar AS pada 2030, dengan Afrika Sub-Sahara sendiri membutuhkan hingga 4 miliar dolar dari total tersebut. Saat ini, pendanaan yang tersedia baru mencapai sekitar 2,5 miliar dolar.
Karena itu, kolaborasi lintas sektor dan berbagai pemangku kepentingan menjadi kunci. Arsitektur pembiayaan pembangunan global perlu mengejar kebutuhan nyata di benua ini. Dukungan terbaik dapat datang dari kombinasi strategis antara investasi hijau domestik dan internasional, kebijakan yang tepat, serta partisipasi sektor swasta. Untuk sesuatu yang berada di persimpangan antara isu perawatan, iklim, kesehatan, dan lingkungan, pembiayaan tersebut akan sepadan.
Penerjemah:Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Dari Sawah ke Tambak: Transformasi Desa Kecipir di Brebes dan Kerentanan Tersembunyi di Baliknya
Merenungi Konsekuensi di Balik Beladiri ala Humanoid: Pelajaran dari Degrees of Freedom Karya Tom Williams
Memperkuat Penanggulangan Campak di Indonesia
Gambut di Cekungan Kongo Mulai Lepaskan Karbon Purba
Pemerintah Tetapkan Larangan Akses Media Sosial bagi Anak di Bawah Usia 16 Tahun
Pergeseran Aktivisme Iklim Kaum Muda di Berbagai Negara