Melihat Kembali Pangan Lokal untuk Pola Makan Sehat yang Terjangkau
Singkong yang dikeringkan. | Foto: Thomchiponge di Pixabay.
Dalam beberapa tahun terakhir, tren gaya hidup sehat sedang naik daun seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan, termasuk melalui pola makan sehat. Namun, tren ini juga diikuti oleh maraknya produk makanan dengan label-label yang menampilkan pesan tentang pilihan “yang lebih sehat” namun dibanderol dengan harga yang lebih tinggi. Lalu, muncul pertanyaan: apakah makanan sehat harus lebih mahal?
Tren Pola Makan Sehat dan Label-Label Penarik
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah berkontribusi signifikan terhadap peningkatan tren gaya hidup dan pola makan sehat akhir-akhir ini, termasuk di kalangan orang-orang urban dan generasi muda. Setiap hari, berbagai konten yang menampilkan hal-hal seputar pilihan makanan yang lebih sehat menyebar di media sosial, terutama oleh influencer dan orang-orang yang memiliki banyak follower.
Ajakan untuk memilih makanan utuh (real food) termasuk salah satu bagian paling menonjol dari tren ini. Banyak orang kini beralih ke makanan utuh dan meninggalkan makanan-makanan ultra proses (UPF) yang seringkali mengandung pengawet, gula, garam, dan lemak sintetis dengan kadar tinggi, yang membahayakan bagi kesehatan tubuh.
Selain itu, banyak pula muncul berbagai macam produk alternatif yang menyediakan “versi yang lebih sehat” dari produk-produk sejenis konvensional, dengan label-label penggugah seperti “gluten free” (bebas gluten), “low fat” (rendah lemak), “minim proses”, “alami”, “superfood”, “clean eating”, dan lain sebagainya. Namun, produk-produk tersebut seringkali–jika bukan selalu–dipatok dengan harga yang lebih tinggi.
Beralih atau Kembali ke Pangan Lokal
Kembali ke pertanyaan tadi: “apakah pilihan makanan sehat harus lebih mahal”? Misalnya, apakah makanan-makanan bebas gluten lebih sulit diperoleh dan karenanya harus dibanderol dengan harga yang lebih tinggi? Apakah makanan alami dan yang disebut “superfood” sangat sulit didapat? Jawabannya tentu saja tidak. Kembali atau beralih ke pangan lokal dan minim proses akan menghindarkan kita dari jebakan komodifikasi dan komersialisasi tren gaya hidup sehat, termasuk pola makan sehat.
Di Indonesia, pangan lokal sangat banyak dan tak terhitung jumlah ragam dan olahannya. Sebagian dari mereka bertaut dengan tradisi dan budaya lokal yang telah turun-temurun menjadi andalan. Sebut saja makanan-makanan bebas gluten berbahan singkong seperti singkong rebus, getuk, gatot, tiwul, lepat gula merah, dan banyak lagi. Lalu ada makanan berbahan sukun seperti sukun kukus dengan kelapa parut, kolak sukun, atau sukun matang yang dimakan langsung tanpa diolah.
Ada pula makanan alami yang tergolong superfood seperti ubi jalar, keladi, jagung, pisang, pepaya, mangga, alpukat, dan banyak lagi. Baik diolah ataupun tanpa diolah, makanan-makanan ini memberikan nutrisi yang baik bagi tubuh. Untuk nutrisi penuh dari sayur-sayuran alami, kita mengenal “lalapan” seperti cempokak, kecipir, daun pepaya muda, kemangi, dan banyak lagi, yang umumnya dicocol dengan sambal. Sementara untuk makanan yang mengandung probiotik, kita begitu dekat tape, oncom, tempe, dan banyak lainnya. Semuanya tersedia secara lokal dan jauh lebih terjangkau, serta dapat disajikan dengan cara sederhana.
Pola Makan Sehat yang Terjangkau dan Inklusif
Sebelum marak pasar modern yang menjual berbagai produk makanan dengan harga yang relatif lebih tinggi, pangan lokal telah lama menopang gizi masyarakat tanpa label-label penggugah. Pangan lokal telah menunjukkan bahwa makanan sehat tak harus mahal. Namun, menjadikan pangan lokal sebagai arus utama memerlukan pergeseran cara pandang tentang kesehatan dan pola makan sehat, bukan lagi sebagai komoditas atau sekadar tren/hype melainkan sebagai kebutuhan dasar yang harus dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat.
Namun, pergeseran ini memerlukan dukungan kebijakan yang diarahkan pada penguatan sistem pangan lokal secara menyeluruh. Dalam hal ini, pemerintah perlu memperkuat produksi, distribusi, dan promosi pangan lokal, termasuk melalui namun tidak terbatas pada insentif bagi petani, pengadaan pangan lokal untuk program publik (seperti sekolah, rumah sakit, dan bantuan sosial dan bantuan kebencanaan), pengendalian harga, serta peningkatan dan memperluas edukasi tentang gizi yang menempatkan pangan lokal sebagai pilihan utama. Pada saat yang sama, pelabelan dan pemasaran produk makanan perlu diatur dan diawasi dengan lebih ketat agar tidak membahayakan.
Pada akhirnya, kembali atau beralih pilihan pangan ke sumber-sumber lokal bukan hanya tentang urusan selera, melainkan dapat menjadi langkah strategis untuk mewujudkan pola makan sehat yang lebih terjangkau dan inklusif, yang dapat diakses oleh semua orang. Lebih dari itu, langkah ini juga dapat mendukung ketahanan pangan dan perekonomian lokal.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Menetapkan Standar Nutrisi Berbasis Bukti untuk Atasi Keracunan MBG yang Berulang
Menilik Isu Kekurangan Bidan di Tingkat Global
Membiarkan Hutan Pulih Sendiri sebagai Pendekatan yang Lebih Hemat Biaya
Membingkai Ulang Tata Kelola di Era Kebangkrutan Air
PSN Tebu Merauke: Penggusuran Masyarakat Adat dan Deforestasi yang Berlanjut
Memperkuat Ketahanan di Tengah Ketergantungan yang Kian Besar pada Infrastruktur Antariksa