Mengungkap Potensi Risiko Teknologi di Tengah Krisis Global
Foto: Maxim Hopman di Unsplash.
Teknologi digital diam-diam telah menancapkan posisinya sebagai salah satu pilar masyarakat hari ini. Namun, bersamaan dengan berbagai manfaat yang ditawarkan, muncul pula berbagai risiko teknologi yang patut dikaji untuk memahami arah perkembangan saat ini dan di masa depan.
Manfaat dan Risiko Teknologi
Setiap hari, banyak orang menggunakan media sosial untuk terhubung dengan teman dan mengikuti perkembangan isu terkini. Banyak pula institusi yang menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) untuk menyederhanakan layanan publik serta mendorong penggunaan teknologi mutakhir di sektor-sektor krusial seperti kesehatan, pendidikan, dan pertahanan.
Namun, berdampingan dengan berbagai manfaat dari kemajuan teknologi digital, risiko yang menyertainya juga perlu ditelaah secara serius. Global Risks Report 2026 yang diterbitkan oleh World Economic Forum menyoroti sejumlah risiko teknologi yang relevan untuk kondisi saat ini dan proyeksi ke depan. Laporan tersebut disusun berdasarkan survei terhadap lebih dari 1.300 pakar dari kalangan akademisi, dunia usaha, pemerintah, organisasi internasional, dan masyarakat sipil.
Yang paling mencolok adalah risiko teknologi berperan besar dalam memperlebar kesenjangan sosial. Misinformasi dan disinformasi menempati peringkat kelima dalam lanskap risiko global saat ini dan diproyeksikan naik ke posisi kedua dalam dua tahun ke depan. Belakangan, narasi palsu serta gambar dan video rekayasa di internet dengan mudah mencemari ruang diskursus publik. Fenomena ini meningkatkan ketidakpercayaan di tengah masyarakat, yang pada gilirannya mengaburkan persepsi, melemahkan respons terhadap krisis, dan mengganggu proses pengambilan keputusan.
Perkembangan Kecerdasan Buatan
Laporan tersebut juga memaparkan bahwa risiko teknologi diperkirakan akan semakin memburuk dalam satu dekade mendatang. Salah satu aspek utama yang disorot adalah dampak merugikan dari teknologi AI, yang dipandang sebagai salah satu risiko global jangka panjang paling signifikan dalam survei tersebut. Perkembangan AI sangat bergantung pada siapa yang memiliki infrastruktur dan akses yang memadai untuk memetik manfaatnya, sementara mereka yang kurang dukungan berpotensi menghadapi rangkaian risiko yang berkelanjutan.
Sebagai contoh, kekhawatiran muncul dalam lanskap ketenagakerjaan. AI dikenal memiliki potensi untuk mengambil alih pekerjaan tertentu. Selain itu, integrasi perangkat berbasis AI menuntut pekerja untuk memperbarui keterampilan agar selaras dengan teknologi baru. Jika pemerintah tidak siap menghadapi perubahan ini melalui jaring pengaman sosial atau peluang pelatihan, pengangguran massal dan pergeseran tenaga kerja sangat mungkin terjadi. Dalam jangka panjang, kondisi ini akan mengurangi peluang ekonomi, memicu keresahan sosial, dan memperluas ketidakpercayaan, sehingga menciptakan lingkaran krisis yang berulang.
Di sisi lain, laporan tersebut juga menyoroti persoalan berkurangnya agensi dan kreativitas manusia di bawah dominasi AI. Penggunaan AI generatif yang tidak dibatasi dan tidak diatur, misalnya, dapat menyebabkan penurunan keterampilan manusia seperti berpikir kritis dan empati, serta menimbulkan perasaan kehilangan tujuan dan apatis. Hal ini memperparah persoalan keterputusan sosial dan kesepian yang kian mengemuka dalam masyarakat saat ini, dan berpotensi memicu masalah yang lebih besar dan serius.
Ketergantungan yang semakin besar pada sistem berbasis AI di sektor kesehatan, militer, dan sektor penting lainnya juga menghadirkan risiko penyalahgunaan dan kesalahan yang dapat merenggut nyawa manusia. Risiko diskriminasi, bias, dan kekeliruan dapat menghasilkan data dan keputusan yang tidak akurat, yang dampaknya sangat merugikan kelompok rentan seperti migran dan masyarakat adat.
Menghadapi Risiko Teknologi
Penanganan risiko yang muncul dari kemajuan teknologi digital memerlukan upaya luas lintas sektor, dengan partisipasi dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan terkait.
Pemerintah harus terlebih dahulu mengakui risiko-risiko ini dan membangun sistem untuk mengatasinya—melalui regulasi, kebijakan, dan kerangka kerja yang memadai. Langkah awal ini penting untuk memastikan manfaat pengembangan teknologi dapat dimaksimalkan di berbagai sektor dan lapisan kehidupan. Dalam konteks ketenagakerjaan, pemerintah perlu terus membangun tenaga kerja yang terampil dan tangguh melalui penguatan kapasitas berkesinambungan, perluasan perlindungan sosial, dan penciptaan lapangan kerja.
Sementara itu, perusahaan teknologi juga harus memikul tanggung jawab besar dengan menangani risiko yang timbul dari produk mereka secara transparan. Kesadaran dan komitmen ini harus tertanam sejak tahap paling awal pengembangan, didorong oleh regulasi pemerintah dan tuntutan pengguna.
Pada akhirnya, masyarakat secara keseluruhan juga perlu berinvestasi dalam kesadaran kolektif tentang kondisi dunia yang kita jalani saat ini. Bersama-sama, kita harus memperkuat fondasi sosial, psikologis, dan kultural yang dibutuhkan untuk menjaga tujuan, makna, dan partisipasi di tengah situasi polikrisis.
Penerjemah:Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Mahkamah Agung India Tetapkan Kesehatan dan Kebersihan Menstruasi sebagai Hak Dasar
Asa Baru Perluasan Perlindungan: Penyakit Kronis Bisa Masuk Kategori Disabilitas
Dampak Polusi Limbah Elektronik terhadap Kesehatan Hewan dan Manusia
Pelajaran dari Selat Hormuz untuk Indonesia: Kita Tak Bisa Berleha-leha Soal Kedaulatan Energi
Meningkatkan Peran Sektor Swasta dalam Atasi Ancaman Krisis Fertilitas
Bagaimana Afrika Mencapai Rekor Lonjakan Energi Surya