Menilik Solusi Potensial Pengelolaan Sampah menjadi Metanol (Waste-to-Methanol)
Foto: Ariungoo Batzorig di Unsplash.
Setiap hari, kota-kota dan industri di seluruh dunia menghasilkan sampah dalam jumlah yang sangat besar. Tempat pembuangan akhir (TPA) di berbagai daerah telah semakin penuh, sementara sampah terus mencemari lingkungan dan berdampak buruk terhadap kesehatan lingkungan maupun manusia. Pada saat yang sama, permintaan akan bahan bakar yang lebih bersih dan berkelanjutan terus meningkat di tengah upaya global dalam dekarbonisasi. Dalam konteks inilah berbagai solusi inovatif bermunculan untuk mengubah sampah menjadi sesuatu yang bernilai guna. Salah satu pendekatan yang menjanjikan adalah mengubah sampah menjadi metanol (waste-to-methanol/WtM).
Pengelolaan Sampah menjadi Metanol
Pengelolaan sampah menjadi metnol merupakan proses konversi sampah tingkat lanjut yang mengubah bahan-bahan buangan menjadi metanol, yaitu bahan bakar dan bahan kimia industri yang bernilai tinggi. Alih-alih mengirimkan sampah ke TPA atau tempat pembakaran, teknologi ini memandang sampah sebagai sumber daya yang dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat di berbagai sektor. Dengan demikian, teknologi ini menjawab dua tantangan sekaligus: pengelolaan sampah dan produksi energi bersih.
Proses pengelolaan sampah menjadi metanol umumnya menggunakan bahan baku berupa sampah padat perkotaan, plastik yang tidak dapat didaur ulang, serta material residu lain yang sulit digunakan kembali atau didaur ulang. Limbah tersebut diproses dengan suhu tinggi yang memecahnya menjadi gas sintesis, yang terutama terdiri dari hidrogen dan karbon monoksida. Gas sintesis ini kemudian dimurnikan dan dikonversi secara katalitik menjadi metanol.
Metanol yang dihasilkan merupakan cairan serbaguna yang dapat diintegrasikan ke dalam infrastruktur bahan bakar dan kimia yang sudah ada. Dibandingkan bahan bakar fosil, karakteristik pembakaran metanol berpotensi menghasilkan emisi yang lebih rendah sekaligus meningkatkan efisiensi bahan bakar. Karena itu, metanol dapat menjadi pilihan bahan bakar yang lebih bersih untuk kendaraan, kapal, dan aplikasi industri, khususnya di sektor-sektor yang tengah berupaya menurunkan emisi karbon. Di luar sektor energi, metanol juga merupakan bahan baku penting dalam produksi formaldehida, asam asetat, serta berbagai bahan kimia lainnya.
Proyek Waste-to-Methanol di Berbagai Negara
Di berbagai belahan dunia, proyek waste-to-methanol telah bergerak melampaui tahap konseptual menuju fase percontohan, demonstrasi, hingga penerapan komersial awal. Inisiatif paling menonjol dapat kita lihat di kawasan yang memiliki regulasi pengelolaan sampah yang ambisius, strategi ekonomi sirkular, serta target dekarbonisasi yang jelas.
Eropa termasuk salah satu pusat utama pengembangan WtM berskala besar. Di berbagai negara di benua ini, banyak proyek yang saat ini sedang dikembangkan dan diperkirakan mulai beroperasi dalam beberapa tahun ke depan.
Di Tarragona, Spanyol, proyek Ecoplanta menyita perhatian sebagai salah satu fasilitas komersial pertama di dunia yang secara langsung mengonversi sampah padat perkotaan menjadi metanol. Proyek ini dijadwalkan mulai beroperasi pada 2029 dan akan mengolah sekitar 400.000 ton limbah yang tidak dapat didaur ulang setiap tahun untuk menghasilkan sekitar 240.000 ton metanol. Langkah ini diperkirakan dapat menghindarkan emisi sekitar 3,4 juta ton karbon dioksida selama satu dekade.
Denmark juga mendorong pengembangan waste-to-methanol melalui Power-to-X. Power-to-X menangkap karbon dioksida dari pembakaran limbah dan menggabungkannya dengan hidrogen hijau untuk menghasilkan hingga 130.000 ton metanol hijau per tahun. Model ini terutama ditujukan untuk mendukung dekarbonisasi sektor transportasi laut.
Sementara di Asia, Jepang mencatat kemajuan penting. JFE Engineering Corporation bersama Mitsubishi Gas Chemical Company berhasil melakukan uji demonstrasi proses penangkapan dan pemanfaatan karbon dioksida (CCU), dengan mensintesis metanol dari karbon dioksida yang ditangkap dari gas buang pembakaran limbah.
Masa Depan Waste-to-Energy
Meski terlihat menjanjikan, masa depan teknologi waste-to-methanol tidak terlepas dari tantangan. Hambatan utama mencakup kebutuhan investasi awal yang tinggi, integrasi fasilitas yang kompleks, serta ketergantungan pada teknologi gasifikasi, penangkapan karbon, dan sintesis yang canggih. Selain itu, pengoperasian fasilitas semacam ini memerlukan tenaga kerja dengan keahlian tinggi serta rantai pasok yang kuat, baik untuk bahan baku sampah maupun input energi terbarukan. Faktor-faktor ini membuat penerapan WtM hanya mungkin dilakukan di wilayah dengan kapasitas industri yang kuat dan kerangka kebijakan yang mendukung.
Meski demikian, momentum pengembangan waste-to-methanol terus meningkat. Ketika proyek percontohan dan komersial yang beroperasi semakin banyak, pembelajaran teknologi dan standarisasi diharapkan dapat menurunkan biaya serta meningkatkan efisiensi. Penerapan dalam skala yang lebih besar juga akan diuntungkan oleh ekonomi skala, sementara inovasi berkelanjutan dalam katalis, integrasi sistem, dan optimalisasi fasilitas berbasis digital akan semakin meningkatkan kinerja teknologi ini.
Peran pemerintah juga sangat krusial. Dukungan dapat diberikan melalui program pendanaan, mekanisme penetapan harga karbon, kewajiban penggunaan bahan bakar terbarukan, serta kebijakan ekonomi sirkular. Di luar itu, pemahaman publik dan penerimaan sosial akan menjadi kunci keberhasilan jangka panjang proyek-proyek ini. Komunikasi yang transparan mengenai manfaat lingkungan, pengendalian emisi, serta peran waste-to-methanol dalam pengelolaan sampah dapat membantu membangun kepercayaan dan dukungan masyarakat.
Mengubah limbah yang tidak dapat didaur ulang menjadi bahan bakar rendah karbon yang bernilai memiliki potensi besar untuk menjawab berbagai tantangan global yang mendesak. Seiring kematangan teknologi ini, mekanisme waste-to-energy dapat menjadi salah satu pilar utama menuju masa depan energi yang lebih sirkular dan tangguh terhadap perubahan iklim.
Penerjemah:Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di GreenNetwork Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Memperkuat Perlindungan Pekerja Migran Indonesia
Larangan Impor 12 Komoditas dan Hal-Hal yang Perlu Diantisipasi
Hak Alam untuk Lebah Tanpa Sengat di Peru
Mengatasi Ketimpangan Akses terhadap Tanah di Kalangan Orang Muda Pedesaan
Mengintegrasikan Inovasi Energi Terbarukan secara Sistemik untuk Transisi Energi
Mengantisipasi Masalah Berulang dari Integrasi Program MBG untuk Lansia dan Disabilitas