Pergeseran Aktivisme Iklim Kaum Muda di Berbagai Negara
Aktivis muda berbaris dalam aksi protes terkait krisis iklim. | Foto:Vincent M.A. Janssen di Pexels.
Banyak orang muda hari ini merasa gelisah terhadap perubahan iklim, dan kegelisahan itu sangat beralasan. Karena masa depan mereka dipertaruhkan, rasa takut dan kecemasan itu mendorong munculnya berbagai gerakan, seperti Fridays for Future, Extinction Rebellion, dan Sunrise Movement, dan banyak lainnya. Dulu, aktivisme iklim kaum muda lebih sering berfokus pada peningkatan kesadaran, tekanan moral, dan mobilisasi aksi di jalanan.
Namun, narasi tersebut kini mulai berubah di beberapa negara. Orang-orang muda mulai menyuarakan pemahaman kebijakan, dan terlibat dalam proses legislasi, aksi hukum, serta pengaruh ekonomi. Intinya: kaum muda tidak lagi sekadar meminta untuk didengar, tetapi mulai mempelajari bagaimana kekuasaan bekerja.
Keterlibatan dalam Politik dan Kebijakan
Aktivisme iklim kaum muda di beberapa negara bisa dibilang semakin interseksional, sadar kebijakan, dan pragmatis. Mereka menyadari bahwa siklus perhatian media cenderung singkat, sementara institusi berjalan dalam jangka panjang. Mereka memahami bahwa aksi iklim yang bertahan lama memerlukan perubahan dalam tata kelola pemerintahan.
Di Amerika Serikat, misalnya, orang-orang muda semakin aktif dalam percakapan politik dan litigasi iklim. Mereka menggelar aksi duduk di kantor-kantor anggota Kongres, menyerahkan petisi dengan 100.000 tanda tangan, serta mendesak para kandidat presiden dari Partai Demokrat untuk merilis rencana iklim mereka, yang berujung penandatanganan Inflation Reduction Act oleh Presiden Joe Biden pada Agustus 2022. Setahun kemudian, pada Agustus 2023, pengadilan AS memutuskan kemenangan bagi 16 orang muda penggugat iklim dari Montana melawan pemerintah negara bagian mereka, sebuah putusan penting dalam sejarah litigasi iklim.
Di Afrika Selatan, seorang aktivis muda bernama Sibusiso Mazomba memimpin advokasi di African Climate Alliance. Dia memainkan peran penting dalam kampanye #CancelCoal, yang lantas menggagalkan rencana pengadaan batu bara baru dalam kebijakan energi Afrika Selatan pada 2024.
Mazomba juga menjadi negosiator junior dalam delegasi resmi Afrika Selatan di UNFCCC sejak COP26, menandai semakin kuatnya kehadiran orang muda dalam dialog internasional. Contoh lainnya adalah kampanye ketahanan iklim bagi negara-negara berkembang pulau kecil (Small Island Developing States/SIDS) yang diprakarsai organisasi orang muda Pacific Island Students Fighting Climate Change. Kampanye ini memperoleh dukungan internasional dan kemudian diformalkan dalam resolusi yang diadopsi Majelis Umum PBB pada 2025, yang meminta Mahkamah Internasional (ICJ) memberikan pendapat hukum mengenai kewajiban negara-negara terkait perubahan iklim.
Dari Aktivisme Digital ke Perilaku Konsumen
Kesadaran kaum muda di beberapa negara untuk benar-benar “mempraktikkan apa yang mereka serukan” juga terlihat dari berkembangnya aktivisme digital. Mereka memanfaatkan media sosial untuk meningkatkan kesadaran tentang perubahan iklim, yang kemudian memicu pertumbuhan pesat kesadaran ekologis di masyarakat.
Salah satu contoh paling menonjol adalah gerakan Fridays for Future (FFF), sebuah aksi protes global yang dipimpin kaum muda dan menjadi viral setelah Greta Thunberg membagikan aksi mogok sekolah di Twitter/X dan Instagram. Para pelajar bolos sekolah setiap Jumat untuk menuntut aksi iklim dari pemerintah mereka. Penggunaan tagar seperti #FridaysForFuture memungkinkan para pelajar di berbagai negara menyelaraskan aksi mereka. Hingga kini, FFF melibatkan lebih dari 14 juta orang di 185 negara dalam mobilisasi yang dipimpin anak-anak dan pemuda—menunjukkan bagaimana generasi muda mampu memanfaatkan media sosial untuk mendorong aksi iklim.
Selain itu, kaum muda di beberapa negara juga memainkan peran penting dalam membentuk arah ekonomi. Kepedulian mereka terhadap krisis iklim tercermin dalam keputusan sehari-hari, termasuk apa yang mereka beli dan dari siapa mereka membelinya.
Sebagai contoh, Generasi Z di beberapa negara cenderung membeli produk dari perusahaan yang menunjukkan komitmen terhadap keberlanjutan. Sebanyak 77% di antaranya bahkan bersedia membayar lebih untuk produk berkelanjutan. Hal ini menunjukkan preferensi yang jelas terhadap produk dan produsen yang selaras dengan nilai etika mereka serta kekuatan daya beli yang mereka miliki. Ketika Generasi Z menjadi kelompok konsumen terbesar dengan pengaruh ekonomi yang terus meningkat, mereka berpotensi membentuk pasar konsumen, menetapkan standar baru, dan mendorong kemajuan keberlanjutan.
Tantangan yang Terus Berlanjut
Namun, langkah para aktivis muda bukannya tanpa konsekuensi. Banyak aktivis muda mengalami tekanan psikologis yang besar hingga kelelahan (burnout). Potensi dampak jangka panjang terhadap kesehatan dan kesejahteraan mereka menjadi tantangan struktural yang harus diatasi agar gerakan ini dapat bertahan.
Hambatan besar lainnya adalah pembiayaan. Akses terhadap pembiayaan masih menjadi kendala krusial meskipun pengaruh kaum muda terus meningkat. Menutup kesenjangan pendanaan iklim dengan memprioritaskan kegiatan yang responsif terhadap kebutuhan orang muda—terutama di wilayah yang paling rentan terhadap perubahan iklim—masih menjadi salah satu tantangan terbesar bagi terwujudnya keadilan iklim yang transformatif. Proyek-proyek yang dipimpin orang muda di Selatan Global masih menerima pendanaan jauh lebih sedikit dibandingkan organisasi internasional yang sudah mapan, meskipun mereka menghadapi dampak perubahan iklim secara tidak proporsional.
Pada tingkat struktural, dinamika kekuasaan tradisional juga masih membatasi ruang gerak orang muda. Struktur kelembagaan yang ada memungkinkan orang tua secara sepihak memangkas sumber daya dan pendanaan bagi organisasi orang muda tanpa konsultasi, dengan peluang kolaborasi antargenerasi yang masih terbatas. Banyak organisasi orang muda juga masih dibatasi oleh kendali institusional alih-alih didorong oleh kebutuhan komunitas. Misalnya, transformasi gerakan menjadi organisasi nirlaba terkadang membuat tuntutan radikal orang muda menjadi lebih lunak agar sesuai dengan kerangka yang dianggap lebih dapat diterima atau lebih mudah didanai.
Inklusi yang bersifat simbolis juga menjadi persoalan. Meski representasi orang muda telah lama diakui dalam tata kelola iklim global, banyak perwakilan orang muda masih mengalami partisipasi yang bersifat seremonial tanpa pengaruh nyata.
Kesenjangan antara kehadiran dan kekuasaan masih sangat kentara. Seorang delegasi muda pernah menggambarkan bagaimana orang muda dilibatkan dalam sebuah dewan penasihat hanya untuk “menunjukkan betapa inklusifnya mereka”, dan ditertawakan ketika mengangkat isu-isu substantif. Hal ini menunjukkan masih lebarnya jurang antara inklusi simbolis dan pengaruh yang benar-benar nyata dalam tata kelola iklim global.
Masa Depan Aktivisme Iklim Kaum Muda
Emosi yang merugikan sebenarnya dapat diubah menjadi kekuatan untuk bertindak: kecemasan menjadi urgensi, urgensi menjadi organisasi, dan organisasi menjadi pembangunan institusi.
Alih-alih lumpuh oleh ketakutan, banyak orang muda di beberapa negara justru mengubah kecemasan iklim menjadi infrastruktur kolektif untuk bertindak. Eco-anxiety memang dapat memicu gejala depresi pada mereka yang tidak terlibat dalam aktivitas kelompok untuk menghadapi perubahan iklim. Hal ini menunjukkan bahwa pengorganisasian kolektif bukan sekadar hasil dari kecemasan, melainkan obat penawarnya.
Aktivisme iklim kaum muda telah menunjukkan kemajuan yang signifikan, meskipun ruang untuk berkembang masih sangat besar. Namun yang jelas: aktivisme iklim kaum muda tidak lagi semata-mata ditentukan oleh urgensi, tetapi juga oleh ketahanan. Jika dulu aktivisme kaum muda menuntut perhatian, kini mereka menyasar perubahan struktural yang nyata.
Penerjemah:Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Memperkuat Penanggulangan Campak di Indonesia
Gambut di Cekungan Kongo Mulai Lepaskan Karbon Purba
Pemerintah Tetapkan Larangan Akses Media Sosial bagi Anak di Bawah Usia 16 Tahun
Mahkamah Agung India Tetapkan Kesehatan dan Kebersihan Menstruasi sebagai Hak Dasar
Asa Baru Perluasan Perlindungan: Penyakit Kronis Bisa Masuk Kategori Disabilitas
Dampak Polusi Limbah Elektronik terhadap Kesehatan Hewan dan Manusia