Ragam Upaya Peningkatan Akses Air Bersih di Bangladesh

Foto: Bradford Zak di Unsplash.
Bangladesh merupakan negara dengan perekonomian terbesar kedua di Asia Selatan dan diakui sebagai salah satu negara berkembang di dunia. Terlepas dari potensi ekonominya, negara ini masih menghadapi masalah terkait penyediaan akses air bersih bagi penduduknya.
Masalah Akses Air Bersih di Bangladesh
Menurut Laporan Program Pemantauan Bersama (JMP), jumlah penduduk Bangladesh yang memiliki akses terhadap air yang dikelola secara aman tidak sampai 60%, sementara sisanya hanya menggunakan air yang tidak memiliki jaminan keamanan dan kualitas.
Meskipun cakupan air secara keseluruhan telah meningkat dan target air dalam Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) telah terpenuhi, memastikan air yang aman bagi semua orang masih merupakan isu penting. Hanya 15% penduduk yang memiliki akses terhadap air pipa, dan di kalangan masyarakat termiskin, angkanya bahkan hanya 3%.
Masalah ini masih diperparah dengan fenomena musiman seperti kekurangan air atau banjir, yang memaksa penduduk melakukan perjalanan jauh untuk mendapatkan air, biasanya mengandalkan mata air atau sungai alami. Bangladesh berada di peringkat ke-7 negara paling rentan terhadap dampak iklim. Banjir, angin topan, dan gelombang pasang yang sering terjadi sangat mengganggu pasokan air tawar, sehingga menyebabkan intrusi garam dalam jumlah besar di masyarakat pesisir.
Mengatasi Ketimpangan Air
Upaya untuk mengatasi kekurangan air di Bangladesh datang dari berbagai sektor. Misalnya, Project Ombu yang diselenggarakan oleh Give Bangladesh Foundation telah menyediakan akses terhadap air bersih bagi lebih dari 30.000 orang. Proyek ini mengakui bahwa berbagai wilayah di negara ini mempunyai kebutuhan spesifik, yang masing-masing memerlukan solusi khusus untuk mengatasinya.
Di wilayah utara yang rawan banjir, misalnya, Proyek Ombu telah memasang sumur tabung berperon ganda yang ditinggikan 1,5 meter di atas tanah untuk mengatasi tantangan dalam mengakses air bersih selama berbulan-bulan ketika banjir menenggelamkan sumur tabung konvensional. Sementara itu, di Jalur Perbukitan Chittagong, kelangkaan dan kontaminasi air telah menjadi masalah yang kritis. Untuk mengatasi hal ini, Proyek Ombu memasang enam sumur tabung dalam dan waduk yang dilengkapi dengan sistem penyaringan, untuk memastikan pasokan air bersih yang konsisten sepanjang tahun dengan menggunakan metode pemurnian alami.
Inisiatif lain dalam mengatasi masalah air ada di desa Goaldihi di bagian utara. Engineers Without Borders, sebuah organisasi nirlaba kemanusiaan, memanfaatkan keahlian teknik mereka untuk mengadakan bantuan kemanusiaan. Organisasi ini telah merancang dan membangun infrastruktur air dan sanitasi di Goaldihi, termasuk sistem penyaringan keramik, sumur tabung yang ditinggikan, pompa sumur tabung dalam bertenaga surya, dan jamban yang ditinggikan.
Akses Universal terhadap Air Bersih
Air merupakan hak dasar setiap orang. Menurut UN Water, “Hak atas air adalah hak setiap orang untuk memiliki akses terhadap air yang cukup, aman, dapat diterima, dapat diakses secara fisik, dan terjangkau untuk penggunaan pribadi dan domestik.”
Menjamin akses air bersih bagi setiap orang merupakan bagian penting dalam pemenuhan hak tersebut. Oleh karena itu, pemerintah, masyarakat sipil dari berbagai latar belakang, dan dunia usaha harus bekerja sama untuk mengatasi kelangkaan air, kontaminasi, dan infrastruktur yang tidak memadai. Mengatasi kemiskinan dan kesenjangan struktural, mendukung proyek bantuan, dan berinvestasi pada teknologi air berkelanjutan merupakan langkah yang penting.
Selain itu, memberdayakan masyarakat lokal untuk mengelola air mereka sendiri secara efektif melalui program pendidikan dan pelatihan juga tak kalah penting. Terakhir, kebijakan yang mendorong konservasi air, pengendalian polusi, dan ketahanan iklim sangat penting untuk mencapai akses air bersih bagi semua.
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia

Konten Publik GNA berupaya menginspirasi perubahan sosial skala besar dengan menyediakan pendidikan dan advokasi keberlanjutan yang dapat diakses oleh semua orang tanpa biaya. Jika Anda melihat Konten Publik kami bermanfaat, harap pertimbangkan untuk berlangganan GNA Indonesia. Langganan Anda akan menguntungkan Anda secara pribadi dan profesional sekaligus mendukung keberlanjutan finansial GNA untuk terus memproduksi konten-konten yang tersedia untuk umum ini.
Dinda adalah Reporter di Green Network Asia. Ia belajar Ilmu Hubungan Internasional di President University. Dinda bersemangat menulis seputar isu keberagaman, konsumsi berkelanjutan, dan pemberdayaan.