Bagaimana Ekowisata Rammang-Rammang Membantu Menyelamatkan Karst Maros
Ekowisata Rammang-Rammang, Maros. | Foto: Andi Hasbi Jaya di Unsplash.
Bentang alam karst memiliki peran penting bagi keberlanjutan ekosistem, mulai dari menyimpan cadangan air bersih hingga menjadi habitat bagi berbagai flora dan fauna. Namun, berbagai aktivitas manusia sering kali mengancam kelestarian kawasan karst, menyebabkan degradasi lingkungan hingga terancamnya keanekaragaman hayati. Di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, ekowisata Rammang-Rammang menawarkan solusi dengan mengembangkan wisata alam berbasis konservasi.
Ancaman Degradasi Ekosistem Karst
Kawasan karst di berbagai daerah di Indonesia menghadapi ancaman kerusakan dan degradasi akibat pembangunan, pengembangan wisata, hingga pertambangan. Di Desa Salenrang, tempat kawasan karst Rammang-Rammang berada, pencemaran udara dan air akibat aktivitas pertambangan berdampak pada menurunnya hasil pertanian warga hingga sering menyebabkan gagal panen.
Kasus serupa terjadi di Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah, dan di Pegunungan Sekerat, Kalimantan Timur, di mana pertambangan dan keberadaan pabrik semen telah menyebabkan krisis air, gagal panen, dan kerusakan hasil pertanian, yang berdampak signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat setempat. Kondisi ini menunjukkan bahwa eksploitasi kawasan karst tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat.
Ekowisata Rammang-Rammang: Melawan Eksploitasi Tambang
Bentang alam karst Rammang-Rammang merupakan kawasan karst terbesar kedua di dunia dan merupakan salah satu ikon pariwisata Sulawesi Selatan. Rammang-Rammang termasuk dalam Kawasan Karst Maros-Pangkep (KKMP) yang sejak tahun 2017 telah diakui UNESCO sebagai salah satu situs warisan dunia. Terletak di Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Kampung Karst Rammang-Rammang menawarkan pemandangan eksotis dari gugusan pegunungan karst yang diperkirakan telah terbentuk sejak 30 juta tahun lalu. Kawasan wisata ini berjarak sekitar 40 km dari Kota Makassar, yang bisa ditempuh dengan waktu sekitar 1,5 jam berkendara.
Pada tahun 2009, ada tiga perusahaan yang telah mengantongi izin eksplorasi dan eksploitasi, bahkan salah satunya sudah membangun pabrik dan mulai beroperasi. Namun, masyarakat setempat tidak tinggal diam dan terus berjuang menolak rencana tambang di wilayah mereka. Mereka gigih mempertahankan kelestarian karst melalui berbagai aksi, negosiasi, serta membangun jejaring perlawanan dengan organisasi lingkungan. Perjuangan panjang mereka akhirnya membuahkan hasil pada 2013 ketika izin tambang dihentikan.
Setelah aktivitas pertambangan ditutup, warga kemudian mengembangkan ekowisata berbasis komunitas sebagai alternatif mata pencaharian. Kampung Karst Rammang-Rammang kini dikelola oleh masyarakat setempat melalui Bumdes, dana bantuan CSR, serta kerja sama dengan berbagai pihak. Selain itu, upaya menjadikan Rammang-Rammang sebagai kawasan geopark terus dilakukan hingga akhirnya diakui sebagai bagian dari Geopark Maros-Pangkep oleh UNESCO. Pengakuan ini semakin memperkuat posisi Rammang-Rammang dalam menangkal ancaman eksploitasi industri ekstraktif, sekaligus menjadikannya destinasi wisata berbasis konservasi yang mendapat perhatian internasional.
Melestarikan Karst dengan Kolektivitas
Menjaga kelestarian bentang alam karst membutuhkan peran kolektif masyarakat. Kesejahteraan warga sekitar juga harus diperhatikan agar upaya konservasi berjalan berkelanjutan. Ancaman industri ekstraktif yang merusak ekosistem dan keanekaragaman hayati akan sulit dibendung jika hanya berfokus pada penolakan dan penghentian tambang. Oleh karena itu, diperlukan alternatif ekonomi yang mendukung keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.
Editor: Abul Muamar
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Membiarkan Hutan Pulih Sendiri sebagai Pendekatan yang Lebih Hemat Biaya
Membingkai Ulang Tata Kelola di Era Kebangkrutan Air
PSN Tebu Merauke: Penggusuran Masyarakat Adat dan Deforestasi yang Berlanjut
Memperkuat Ketahanan di Tengah Ketergantungan yang Kian Besar pada Infrastruktur Antariksa
Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit