Merenungi Konsekuensi di Balik Beladiri ala Humanoid: Pelajaran dari Degrees of Freedom Karya Tom Williams
Cover buku “Degrees of Freedom: On Robotics and Social Justice,” karya Tom Williams.| Penerbit: The MIT Press (2025).
Pada perayaan Tahun Baru Imlek 2026, layar-layar dunia dibanjiri oleh pemandangan yang sulit dilupakan: puluhan robot humanoid buatan Tiongkok melakukan gerakan beladiri dengan presisi sempurna di atas panggung yang megah. Mereka bergerak serentak, memukul, menendang, melompat. Bukan dengan kekakuan mekanis yang selama ini kita bayangkan, melainkan dengan keluwesan yang hampir manusiawi.
Penonton bertepuk riuh. Komentar demi komentar membanjiri media sosial: menakjubkan, seperti mimpi, masa depan sudah datang. Pesona robot memang selalu mampu melampaui batas nalar kita, memancing takjub sebelum sempat memancing pertanyaan. Tentu, pertanyaan pertama yang hinggap di benak saya adalah “bagaimana mereka bisa bergerak seperti itu?” Tetapi, sebagai orang yang dilatih dalam ilmu sosial dan bisnis, benak saya kemudian langsung bertanya: “untuk siapa robot-robot ini sesungguhnya dirancang, siapa yang bakal menangguk keuntungan terbesar, dan kekuasaan siapa yang kelak akan mereka perkuat?”
Beladiri Robot Humanoid: Bukan Soal Perayaan Imlek
Pertunjukan robot Tiongkok itu jelas bukan sekadar hiburan. Dalam era yang segala sesuatunya dijelaskan dengan geopolitik dan geoekonomi, ia adalah pengumuman kepada dunia. Dalam satu dekade terakhir, Tiongkok telah membangun ekosistem robotika yang berlomba sengit dengan Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan. Robot humanoid, yang kini tak lagi terbatas pada pabrik-pabrik otomotif, tetapi merambah ke rumah sakit, sekolah, kepolisian, hingga ruang tamu keluarga, sedang menjadi infrastruktur peradaban yang semakin penting. Perusahaan seperti Boston Dynamics, Agility Robotics, Unitree, dan AgiBot berlomba mewujudkan robot yang bisa berpikir, berbicara, melihat wajah manusia, dan mengambil keputusan moral. Dan di perayaan itu Tiongkok seperti sedang bilang, “Kamilah yang sekarang paling unggul!”
Tetapi, di luar sekadar pengumuman itu, tontonan memukau selalu memiliki harga yang tersembunyi: ia meminta kita menangguhkan rasa ingin tahu yang kritis. Bertanya “bagaimana?” tentu jauh lebih mudah daripada bertanya “mengapa?” dan “untuk siapa?” Ketika robot-robot itu melakukan tendangan dan pukulan sempurna di panggung Imlek, yang tidak tampak adalah pertanyaan tentang siapa yang memprogram gerakan itu, nilai-nilai apa yang tertanam dalam kecerdasan buatannya, dan kekuasaan siapa yang pada akhirnya akan diperkuat oleh kehadiran mereka di masyarakat. Ketidaktampakan itulah yang berbahaya.
Pertanyaan-pertanyaan sulit inilah yang menjadi jantung dari buku terbaru Tom Williams, Degrees of Freedom: On Robotics and Social Justice, terbitan MIT Press tahun 2025. Buat saya, ini karya yang terbit tepat waktu, yaitu pada saat dunia sedang terhipnosis oleh pertunjukan-pertunjukan robotika seperti yang kita saksikan di perayaan Imlek itu. Williams menawarkan sesuatu yang jarang ditemukan dalam literatur teknik: keterbukaan historis tentang mengapa robot ada, dan keberanian moral untuk mempertanyakan ke mana kemajuan robotik itu bakal membawa kita. Buku yang versi elektroniknya bisa diunduh dengan gratis itu sudah ada di koleksi perpustakaan digital saya sejak terbit tanggal 9 Desember lalu, tetapi para ‘robot Imlek’ itulah yang membuat saya membacanya hingga habis.
Buku yang Memaksa Kita Melihat Lebih Dalam
Tom Williams bukan pemikir pinggiran. Ia adalah ilmuwan komputer dan kognitif dari Universitas Bristol yang memimpin MIRRORLab, sebuah laboratorium yang fokus pada interaksi manusia-robot. Namun Williams menulis Degrees of Freedom bukan sebagai perayaan pencapaian teknologi, melainkan sebagai peringatan keras terhadap lapangan yang ia geluti sendiri. Dengan keberanian intelektual yang jarang ditemukan di kalangan insinyur, Williams memulai dengan sebuah klaim yang mengejutkan: robotika adalah bidang yang lahir dari hasrat mempertahankan supremasi kulit putih, dan hingga hari ini, tanpa disadari, ia terus melayani tujuan itu.
Argumen Williams bertumpu pada sebuah penemuan sejarah yang benar-benar mencengangkan. Novel pertama di dunia yang menampilkan robot, The Steam Man of the Prairies karya Edward Ellis, yang terbit pada 1868, menggambarkan robot sebagai budak mekanis berkulit hitam yang membawa tuannya, seorang bocah kulit putih, menjelajahi Amerika. Gambar-gambar dalam novel itu serta sket paten teknisnya secara eksplisit meniru karikatur rasial minstrel, stereotipe budak kulit hitam yang populer pada era itu. Pesan novelnya terang benderang: perbudakan mungkin sudah berakhir, tetapi dengan menguasai teknologi, laki-laki kulit putih masih bisa terus mendominasi secara ekonomi, sosial, dan seksual. Robot adalah pengganti budak yang lebih patuh.
Inilah yang Williams sebut sebagai “imajinasi robot putih-patriarkal” (White patriarchal robot imaginary), sebuah warisan kultural yang tersembunyi di balik setiap pilihan desain robot sejak dulu hingga sekarang. Dari Isaac Asimov yang menyebut Tiga Hukum Robotikanya sebagai “good, healthy slave complexes”, hingga Joseph Engelberger, ‘Bapak Robotika’ yang secara terbuka menyatakan bahwa robot dimaksudkan untuk menggantikan tenaga kerja kulit hitam, sejarah robotika ternyata adalah sejarah yang tidak pernah bisa dipisahkan dari sejarah perbudakan.
Untuk menganalisa bagaimana warisan ini bekerja di era modern, Williams menggunakan kerangka matrix of domination yang dikembangkan oleh sosiolog feminis Patricia Hill Collins. Kerangka ini membagi cara kekuasaan bekerja ke dalam empat domain: domain struktural (bagaimana institusi-institusi sosial menata penindasan), domain disipliner (bagaimana birokrasi dan pengawasan mengelola penindasan), domain kultural (bagaimana stereotipe dan ‘akal sehat’ hegemonik membenarkan penindasan), dan domain interpersonal (bagaimana penindasan mewujud dalam interaksi sehari-hari). Williams berargumen bahwa para perancang robot secara aktif, meski sering tidak sadar, mempertahankan dan menggunakan kekuasaan di keempat domain ini sekaligus.
Pada domain kultural, Williams menunjukkan bagaimana robot-robot humanoid hari ini, mulai dari AILA buatan Jerman yang dirancang menyerupai perempuan kulit putih langsing hingga robot Pepper yang ‘feminin’ atau REEM yang ‘maskulin dan putih’, memperkuat hierarki ras dan gender dalam masyarakat. Seorang insinyur yang ditanya “mengapa AILA dirancang dengan lekuk tubuh perempuan sempurna” menjawabnya secara tak masuk akal: “untuk memasukkan lebih banyak chip komputer.” Williams membongkar kebohongan ini dengan santai dan telak.
Ketika membincangkan domain disipliner, Williams menyoroti bagaimana sistem pengenalan suara (speech recognition) gagal berfungsi bagi penutur kulit hitam, dengan tingkat kesalahan 50 persen lebih tinggi dibanding penutur kulit putih! Serta, bagaimana sistem pengenalan wajah nyaris tidak bisa mendeteksi perempuan berkulit gelap. Joy Buolamwini, ilmuwan ternama dari MIT, menceritakan bagaimana saat kuliah ia harus meminjam wajah teman sekamarnya yang berkulit putih untuk menyelesaikan tugas pemrograman robot yang tidak bisa mengenali wajahnya sendiri. Robot-robot yang tidak bisa ‘melihat’ kelompok tertentu, menurut Williams, adalah padanan teknologis dari air mancur khusus kulit putih di era segregasi sosial Jim Crow. Hanya saja, kali ini diskriminasinya tak tampak dan sulit digugat.
Sementara, pada domain struktural, Williams menganalisa mengapa robot-robot semakin banyak digunakan oleh polisi Amerika Serikat—dari anjing robot Boston Dynamics yang berpatroli di perkampungan tunawisma hingga rencana San Francisco yang sempat ingin mengizinkan polisi menggunakan robot untuk membunuh. Williams menunjukkan bahwa sejarah kepolisian di Amerika berakar dari Slave Patrols, yaitu patroli warga kulit putih yang diorganisasi negara untuk mengawasi dan menangkap budak yang melarikan diri. Robot-robot polisi hari ini, dengan segala bias algoritmisnya, melanjutkan fungsi historis ini dengan cara yang lebih canggih namun tidak kalah berbahaya. Atas dasar ini, Williams menyerukan apa yang ia sebut sebagai abolitionist robotics, sebuah paradigma baru di mana para insinyur robot tidak hanya memikirkan efisiensi teknologi, tetapi secara aktif mempertanyakan apakah robot mereka melayani institusi-institusi yang melanggengkan penindasan.
Terakhir, pada domain interpersonal, Williams menunjukkan bagaimana robot-robot yang mampu berbahasa memiliki kekuatan persuasi yang luar biasa, dan karena itu sangat berbahaya. Eksperimen dari laboratoriumnya menunjukkan bahwa ketika sebuah robot meminta klarifikasi atas perintah yang tidak etis, pengguna cenderung percaya bahwa tindakan itu mungkin diterima secara moral. Robot tidak hanya melakukan, ia juga mendidik. Dan, ketika yang dididikkan adalah norma-norma yang lahir dari filosofi Kant yang rasis—dinyatakan bahwa Charles Mills menyebut Kant sebagai ‘bapak konsep ras modern’—atau dari Tiga Hukum Asimov yang dirancang sebagai kode perbudakan, hasilnya adalah robot yang secara diam-diam mengukuhkan tatanan sosial yang timpang. Sebagai alternatif, Williams mengusulkan pendekatan yang terinspirasi dari etika peran Konfusianisme, filsafat Ubuntu Afrika, dan etika kepedulian. Kerangka-kerangka itu secara hakiki bersifat relasional yang setara, dan tidak berpusat pada norma-norma universal yang menyembunyikan asumsi rasial di baliknya.
Judul buku ini sendiri, Degrees of Freedom, diambil dari terminologi teknis robotika yang merujuk pada sumbu-sumbu gerak sebuah robot dalam menavigasi ruang. Williams memanfaatkannya menjadi metafora etis: bahwa setiap keputusan desain yang diambil seorang insinyur robot akan selalu ada pada suatu derajat kebebasan tertentu, yaitu sebuah titik di mana mereka bisa memilih antara memperkuat atau menyubversi kekuasaan yang menindas. Dalam soal ini, bagi saya, ia tidak menuduh para insinyur robot sebagai orang-orang jahat, melainkan menumpahkan kekecewaan kepada mereka lantaran tidak cukup mempertanyakan soal dampak ketimpangan.
Kekuatan dan Ruang Perbaikan
Degrees of Freedom adalah buku yang langka. Ini adalah sebuah karya akademis yang ditulis seorang ilmuwan komputer, tetapi berbicara dengan kefasihan seorang sejarawan, sosiolog, dan kritikus budaya sekaligus. Bagi saya, kekuatan terbesarnya terletak pada cara Williams membangun jembatan antara sejarah yang tersembunyi dan teknologi yang tampak netral. Pembaca yang terbiasa melihat robotika sebagai bidang yang bebas nilai akan sulit keluar dari buku ini tanpa merasakan ketidaknyamanan sekaligus pencerahan. Kerangka matriks dominasi yang diadopsi dari Collins terbukti sangat bermanfaat. Ia memungkinkan Williams menganalisa tidak hanya tampilan fisik robot, tetapi juga kode moralnya, sistem persepsinya, dan domain penerapannya dalam satu napas analitis yang kohesif—yang manfaatnya kemudian dapat dirasakan oleh siapapun yang membaca buku ini.
Basis empiris buku ini juga sangat solid. Williams tidak hanya berteori. Ia menyertakan hasil penelitian dari laboratoriumnya sendiri, mulai dari eksperimen tentang bagaimana kalimat untuk ‘membangunkan’ robot, “Excuse me, Pepper” dibanding “Hey, Pepper”, mengubah tingkat kesopanan pengguna, hingga temuan tentang bagaimana robot yang meminta klarifikasi atas perintah tidak etis justru membuat pengguna berpikir tindakan itu mungkin diterima. Williams adalah akademisi yang mengintegrasikan riset empiris dengan analisis kritis dalam tataran tertinggi, dan ini adalah kombinasi yang langka dan sungguh berharga.
Namun saya merasa bahwa buku ini bisa lebih baik lagi bila beberapa hal dimasukkan ke dalamnya. Pertama, meskipun Williams mengakui keterbatasan perspektif Amerika-sentrisnya, hampir seluruh analisis terpaku pada konteks Amerika Serikat. Bagaimana ‘imajinasi robot putih-patriarkal’ terwujud di Tiongkok—dimana robot kini tampil di perayaan Tahun Baru Imlek dan digunakan oleh negara dengan logika kekuasaan yang berbeda—nyaris tidak tersentuh. Kedua, seruan untuk ‘robotika abolisionis’ di bab akhir masih terasa kurang operasional. Williams memang merumuskan prinsip-prinsipnya dengan baik, tetapi contoh konkret yang bisa diikuti oleh para insinyur di lapangan masih terlalu sedikit. Ketiga, secara bobot analisis buku ini terasa tidak merata. Bab-bab awal yang menelusuri sejarah sangat kaya, sementara bab-bab tentang solusi terasa terburu-buru. Dalam ketidaksetaraan bobot inilah mungkin terletak ironi kecil, yang saya rasakan dari sebuah buku yang justru mengkritik ketidaksetaraan.
Apa Artinya bagi Indonesia?
Indonesia berdiri di persimpangan yang kritis dan sejauh ini, tanda-tandanya tidak menggembirakan. Sebagai negara yang selama puluhan tahun lebih banyak mengimpor teknologi ketimbang mengembangkannya, Indonesia berisiko mengulangi pola lama: menjadi konsumen pasif dari sistem-sistem yang nilai dan asumsinya sama sekali bukan milik kita. Robot-robot yang mungkin tidak bisa mengenali wajah berhijab, sistem pengenalan suara yang gagap menghadapi logat Madura atau Batak yang kental, atau robot layanan publik yang diprogram dengan norma perilaku “universal” yang sesungguhnya adalah norma Barat—semua ini bukanlah ancaman abstrak di masa depan yang jauh. Ini adalah konsekuensi konkret yang sudah menunggu, lantaran ketidakkritisan kita dalam mengadopsi teknologi orang lain.
Dan kita jangan pula tertipu oleh pesona robot Tiongkok yang memukau di panggung Imlek itu. Mengalihkan impor robot dari Amerika ke Tiongkok bukanlah solusi. Ia hanya mengganti satu set bias dengan set bias yang lain. Robot-robot Tiongkok dibesarkan dalam ekosistem yang memiliki logikanya sendiri: hierarki yang mendominasi, patriarki versi negara yang mengatur peran gender secara kaku, dan—yang mungkin paling berbahaya—infrastruktur pengawasan otoritarian yang telah digunakan untuk memantau, mengklasifikasi, dan mengendalikan warga negaranya sendiri. Jika Indonesia mengimpor robot-robot itu beserta seluruh tumpukan perangkat lunaknya, kita tidak sedang membebaskan diri dari bias yang diidentifikasi Williams, melainkan sedang menukarnya dengan versi yang berbeda rasa namun mungkin tidak kalah berbahaya.
Namun, jawaban atas masalah ini bukan juga sekadar pengembangkan teknologi sendiri. Di sinilah peringatan Williams menjadi paling relevan. Jika Indonesia membangun ekosistem robotika nasionalnya sendiri, yang memang seharusnya demikian, ia tidak boleh sekadar mengganti bias Barat atau bias Tiongkok dengan bias domestiknya sendiri. Sejarah Indonesia juga penuh dengan hierarki kekuasaan berbasis etnis, gender, dan kelas yang bisa dengan mudah tertanam diam-diam ke dalam algoritma robot buatan anak bangsa, jika para perancangnnya tidak dibekali dengan kesadaran yang Williams perjuangkan dalam buku ini.
Dengan kata lain, Indonesia membutuhkan dua hal sekaligus: kedaulatan teknologi dan kedaulatan etis. Yang pertama tanpa yang kedua hanya memindahkan sumber penindasan, atau setidaknya sumber ketimpangan, bukan menghapusnya. Membaca Degrees of Freedom adalah langkah awal yang mendesak, bukan hanya bagi para akademisi dan insinyur robotika Indonesia, tetapi bagi siapa saja yang percaya bahwa teknologi seharusnya melayani kemanusiaan, bukan mengikisnya.
Editor: Abul Muamar
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.
Jalal adalah Penasihat Senior Green Network Asia. Ia seorang konsultan, penasihat, dan provokator keberlanjutan dengan pengalaman lebih dari 25 tahun. Ia telah bekerja untuk beberapa lembaga multilateral dan perusahaan nasional maupun multinasional dalam kapasitas sebagai subject matter expert, penasihat, maupun anggota board committee terkait CSR, keberlanjutan dan ESG; menjadi pendiri dan principal consultant di beberapa konsultan keberlanjutan; juga duduk di berbagai board dan menjadi sukarelawan di organisasi sosial yang seluruhnya mempromosikan keberlanjutan.

Memperkuat Penanggulangan Campak di Indonesia
Gambut di Cekungan Kongo Mulai Lepaskan Karbon Purba
Pemerintah Tetapkan Larangan Akses Media Sosial bagi Anak di Bawah Usia 16 Tahun
Pergeseran Aktivisme Iklim Kaum Muda di Berbagai Negara
Mahkamah Agung India Tetapkan Kesehatan dan Kebersihan Menstruasi sebagai Hak Dasar
Asa Baru Perluasan Perlindungan: Penyakit Kronis Bisa Masuk Kategori Disabilitas