Konflik dan Penutupan Selat Hormuz: Bagaimana Gangguan Pasokan Global Menjangkau Afrika
Foto: Ana Kenk di Pexels.
Konflik yang terjadi ribuan kilometer jauhnya mungkin tidak terasa langsung. Tidak ada terdengar sirene, dan tidak ada gangguan yang tampak jelas. Dampaknya adalah perubahan perlahan, seperti harga roti yang merangkak, ongkos taksi yang meningkat, dan ketersediaan barang di rak pasar yang semakin terbatas. Di berbagai wilayah Afrika saat ini, gangguan pasokan global akibat krisis Selat Hormuz hadir bukan hanya sebagai berita utama, tetapi telah menjadi beban nyata di tingkat rumah tangga.
Selat Hormuz sebagai Titik Kritis Gangguan Pasokan Global
Selat Hormuz adalah jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Kawasan ini merupakan salah satu jalur perairan paling krusial di dunia, karena lebih dari seperempat perdagangan minyak global di laut dan sekitar seperlima konsumsi minyak dunia melewati jalur ini.
Ketika jalur tersebut terganggu, dampaknya meluas ke berbagai kawasan dan sektor. Penelitian menyebut gangguan saat ini sebagai guncangan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global. Perusahaan pelayaran besar menghentikan pelayaran mereka, sementara sebagian lainnya harus mengalihkan rute kapal mengitari Tanjung Harapan di Afrika, yang menambah waktu pengiriman hingga berminggu-minggu.
Kerentanan Afrika
Bagi banyak negara di Afrika, gangguan ini datang dalam kondisi yang sudah rapuh. Benua ini sangat bergantung pada impor bahan bakar, pupuk, dan barang manufaktur. Data menunjukkan bahwa negara-negara seperti Burkina Faso, Burundi, Republik Afrika Tengah, Republik Demokratik Kongo, Liberia, dan Mozambik termasuk di antara yang paling rentan. Negara-negara ini memiliki cadangan fiskal terbatas, ketergantungan tinggi pada impor energi, serta tingkat kemiskinan yang sudah tinggi.
Menurut ekonom di Wits University, kekhawatiran utama adalah kenaikan harga dan kelangkaan bahan bakar. Dampaknya kemudian akan merembet ke ancaman terhadap produksi pangan.
Dampaknya terhadap Sistem Pangan
Rantai hubungan antara energi dan pangan lebih dekat daripada yang dibayangkan banyak orang. Kenaikan harga bahan bakar meningkatkan biaya transportasi. Biaya transportasi yang lebih tinggi akan menaikkan harga barang di pasar. Ketika pupuk—sekitar 30% di antaranya berbasis nitrogen amonia yang terkait dengan produksi di kawasan Teluk—menjadi lebih langka dan mahal, maka hasil panen pun ikut terancam.
Akibatnya, diperkirakan sekitar 45 juta orang tambahan dapat terdorong ke kondisi kelaparan akut pada 2026 menurut World Food Programme. Hal ini berpotensi mengembalikan tingkat kerawanan pangan ke level yang terakhir terlihat pada awal perang Ukraina.
Angka-angka ini bukan sekadar statistik abstrak. Gangguan pasokan global terasa dalam belanja mingguan dan bekal makan siang anak-anak. Bagi petani kecil, dampaknya terlihat saat mereka harus menghitung ulang apakah menanam pada musim ini masih masuk akal.
Membangun Kemandirian
Situasi ini menjadi bahan refleksi penting. UNCTAD memperingatkan bahwa negara berkembang dengan ruang fiskal terbatas adalah yang paling tidak siap menghadapi guncangan harga baru. Gangguan pasokan global ini tidak hanya mengungkap risiko, tetapi juga ketergantungan pada satu jalur perdagangan, energi impor, dan rantai pasok yang dirancang untuk efisiensi, bukan ketahanan.
Pertanyaan penting yang perlu dijawab adalah bagaimana membangun ekonomi yang mampu bertahan dari guncangan yang tidak mereka sebabkan. Karena itu, urgensinya terletak pada pengembangan perdagangan regional yang mandiri, produksi pangan lokal, serta diversifikasi sumber energi, agar ketahanan dapat terwujud di tengah era disrupsi global.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Pencemaran Laut dan Banyaknya Hiu Paus Terdampar
Upaya Masyarakat Pesisir Banggai dalam Mengelola Sampah Plastik
Melindungi Spesies Migrasi di Tengah Bertambahnya Daftar Kepunahan
Bagaimana Spogomi Tangani Masalah Sampah melalui Olahraga Kompetitif
Merespons Krisis Energi dengan Kebijakan Seperempat Hati
Obesitas di Indonesia Terus Melonjak