Melindungi Spesies Migrasi di Tengah Bertambahnya Daftar Kepunahan
Foto: JJ Harrison di Wikimedia Commons.
Seiring pergantian musim, jutaan hewan bermigrasi melintasi berbagai wilayah. Mereka menjelajahi daratan, udara, dan lautan seraya menjalankan fungsi ekologis yang sangat penting bagi kesehatan Bumi. Namun, keberlangsungan hidup spesies migrasi semakin terancam seiring memburuknya krisis lingkungan.
Penyusutan Spesies Migrasi
Dari paus raksasa hingga kupu-kupu aneka warna, hewan berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari makanan, habitat, atau pasangan. Sepanjang jalur migrasinya, mereka juga membantu penyerbukan, menjaga keseimbangan ekosistem, dan mengendalikan hama. Peran mereka dalam menjaga keseimbangan alam tidak boleh diabaikan.
Perjalanan spesies migrasi sangatlah jauh. Paus bungkuk, misalnya, bahkan dapat menempuh jarak hingga 8.000 kilometer. Karena itu, keberlangsungan hidup spesies migrasi sangat bergantung pada kerja sama antarnegara di sepanjang jalur migrasi mereka untuk melindungi rute tersebut.
Namun, risiko kepunahan terus meningkat. Laporan sementara dari UNEP World Conservation Monitoring Centre (UNEP-WCMC) memperingatkan bahwa 49% populasi spesies migrasi yang dilindungi di bawah perjanjian Konvensi tentang Spesies Migrasi mengalami penurunan, dan 24% spesies berada dalam risiko kepunahan. Dalam laporan sebelumnya pada 2024, angkanya masing-masing sebesar 44% dan 22%.
Yang lebih mengkhawatirkan, tren serupa juga terjadi pada spesies migrasi secara keseluruhan. Laporan tersebut menyoroti meningkatnya tekanan dari aktivitas manusia yang mengubah ekosistem di sepanjang jalur migrasi, termasuk akibat alih fungsi lahan, penangkapan ikan berlebih (overfishing), dan perdagangan ilegal. Berbagai risiko ini saling berkelindan dan menciptakan ancaman yang semakin besar bagi satwa liar.
Penambahan Spesies dalam Daftar Panjang
Konvensi tentang Spesies Migrasi (CMS) adalah perjanjian PBB yang menyediakan platform global untuk konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan satwa migrasi serta habitatnya. Sejak diadopsi pada 1979, perjanjian ini telah mencantumkan lebih dari 1.200 spesies dalam Lampiran I (spesies yang terancam punah) dan Lampiran II (spesies yang memerlukan aksi internasional terkoordinasi).
Pada 29 Maret 2026, para pihak dalam Konvensi tentang Konservasi Spesies Hewan Liar Migrasi sepakat memperluas perlindungan dengan menambahkan 40 spesies baru ke dalam lampiran tersebut. Kesepakatan ini diadopsi pada hari terakhir CMS COP15 yang berlangsung pada 23–29 Maret 2026 di Brasil.
Bukti peningkatan risiko kepunahan dalam laporan sementara menjadi dasar penambahan ini. Beberapa spesies burung pantai termasuk dalam daftar karena menghadapi risiko kepunahan yang lebih tinggi. Spesies ikonik seperti cheetah, hyena bergaris, dan burung hantu salju juga tercantum. Selain itu, para pihak juga menyetujui rencana konservasi multispesies, termasuk rencana aksi untuk jaguar, elang stepa, dan paus bungkuk Laut Arab.
Kerja Sama Internasional
“Dari Pantanal hingga Arktik, dari lautan hingga sabana, spesies migrasi menghubungkan planet ini dengan cara yang tak dapat dilakukan oleh peta politik mana pun. Mereka mengingatkan kita bahwa integritas ekologi bergantung pada kesinambungan, pada aliran yang harus tetap hidup, tidak terputus, dan tangguh,” ujar João Paulo Capobianco, Ketua COP15.
Pada akhirnya, keberadaan perjanjian internasional dan perluasan daftar spesies yang dilindungi menuntut kerja sama antarnegara untuk menjaganya. Hal ini berarti menghentikan aktivitas yang merusak populasi hewan dan habitatnya, terutama jika aktivitas tersebut lebih mengutamakan keuntungan ekonomi dibanding kesejahteraan sosial dan lingkungan.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Upaya Masyarakat Pesisir Banggai dalam Mengelola Sampah Plastik
Bagaimana Spogomi Tangani Masalah Sampah melalui Olahraga Kompetitif
Merespons Krisis Energi dengan Kebijakan Seperempat Hati
Obesitas di Indonesia Terus Melonjak
Memudarnya Warna Kupu-Kupu Akibat Deforestasi dan Perubahan Iklim, Apa Dampaknya?
Mendorong Transformasi Industri Peternakan dengan Pendekatan berbasis Sains